RadarBuleleng.id – Bagi sebagian siswa, menerima lembar ulangan dengan nilai kurang memuaskan sering kali menjadi momen yang menegangkan. Namun suasana berbeda justru dirasakan murid-murid SDN 26 Dangin Puri, Denpasar.
Alih-alih memberikan koreksi dengan tinta merah yang terkesan menyeramkan, seorang guru muda bernama Putu Putri Adelia Savitri memilih cara yang jauh lebih kreatif.
Di setiap lembar tugas yang telah dinilai, ia menuliskan pesan-pesan penyemangat lengkap dengan gambar doodle lucu yang dibuat sendiri.
Aksi sederhana itu mendadak viral di media sosial. Foto-foto lembar tugas siswa yang dipenuhi ilustrasi menggemaskan dan catatan motivasi dari sang guru beredar luas hingga menarik perhatian warganet. Tak sedikit yang memuji kreativitas dan kepeduliannya terhadap psikologis siswa.
Savitri yang merupakan guru Bahasa Bali itu ternyata berasal dari Desa Banjar Tegeha, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Perempuan kelahiran 25 Oktober 2000 tersebut mulai mengajar di SDN 26 Dangin Puri sejak 2024.
Ia mengaku ide memberikan doodle dan pesan motivasi muncul setelah melihat sebagian siswa merasa minder ketika mendapatkan nilai rendah.
Karena itu, ia berusaha menghadirkan suasana belajar yang lebih menyenangkan melalui cara-cara sederhana.
"Agar ada kesan lucu dan menyenangkan. Soalnya kalau marah-marah langsung benar-benar menguras energi. Lebih baik saya kasih paham dengan gambar satu-satu di mana letak kurangnya siswa saya pada kertas ulangannya," ujarnya.
Menurut Savitri, setiap gambar yang ia buat bukan sekadar hiasan. Doodle tersebut menjadi media untuk menyampaikan perasaan, nasihat, maupun koreksi kepada siswa dengan cara yang lebih mudah diterima.
Dengan pendekatan visual, ia berharap pesan yang diberikan lebih membekas di ingatan anak-anak.
Menariknya, kualitas doodle yang dibuat guru berusia 25 tahun itu terlihat cukup profesional. Ternyata, kecintaannya terhadap seni gambar sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMP.
Lulusan Program Studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali Institut Agama Hindu Mpu Kuturan Singaraja itu bercerita, awalnya ia terinspirasi melihat teman-temannya yang gemar menggambar karakter kartun di atas kertas kosong.
"Saya jadi ikutan membuatnya juga. Masih kurang pandai sih, tapi dulu seni doodle art sangat disukai oleh teman-teman sekolah saya sehingga saya ikut mempelajarinya," tuturnya.
Selain aktif mengajar, Savitri juga dikenal memiliki sejumlah prestasi di bidang sastra, khususnya baca puisi. Kemampuan seni yang dimilikinya kemudian ia padukan dengan profesinya sebagai pendidik.
Keputusan membubuhkan doodle pada lembar tugas siswa mulai ia terapkan sejak Juni 2026. Saat itu, ia menemukan masih banyak murid yang memiliki tulisan kurang rapi.
Melalui catatan dan gambar-gambar sederhana, ia mencoba memberikan motivasi tanpa membuat siswa merasa tertekan.
Hasilnya di luar dugaan. Savitri mengaku mulai melihat perubahan pada anak didiknya hanya dalam hitungan beberapa minggu.
"Kemudian saya isikan catatan dan gambar. Walhasil anak tersebut kemudian memiliki kemajuan dalam bidang menulis. Tulisannya di minggu ketiga atau keempat menjadi sedikit lebih rapi dan mudah dibaca. Kemudian saya lanjutkan di kertas ujian anak-anak agar semua siswa saya merasakan hal yang sama," katanya.
Di tengah banyaknya metode pembelajaran modern, cara yang dilakukan Savitri menunjukkan bahwa perhatian kecil dari seorang guru dapat memberikan dampak besar bagi perkembangan siswa.
Bukan hanya memperbaiki nilai, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat belajar anak-anak. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali