Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Partisipasi Pemilih Buleleng Rendah, KPU Dorong Pendidikan Demokrasi dari Sekolah

Eka Prasetya • Selasa, 16 Desember 2025 | 20:41 WIB

 

PENDIDIKAN POLITIK: Kepala SMAN 2 Tejakula, Gede Benny Kurniawan  menjelaskan praktik baik Pemilihan OSIS di sekolahnya.
PENDIDIKAN POLITIK: Kepala SMAN 2 Tejakula, Gede Benny Kurniawan menjelaskan praktik baik Pemilihan OSIS di sekolahnya.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu dan Pilkada di Kabupaten Buleleng menjadi sorotan serius berbagai pihak, khususnya Komisi Pemilihan Umum (KPU). 

Isu tersebut mengemuka dalam Seminar Pendidikan Demokrasi yang digelar di Gedung Unit 4 Kantor Bupati Buleleng, Senin (15/12/2025).

Kegiatan yang diselenggarakan KPU Buleleng tersebut melibatkan unsur dunia pendidikan. 

Hadir dalam seminar tersebut Anggota KPU Kabupaten Buleleng, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng, Kepala SMAN 2 Tejakula, para kepala SMP dan MTs negeri maupun swasta se-Kabupaten Buleleng.

Ketua Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Buleleng, Putu Arya Suarnata mengatakan, tingkat partisipasi pemilih di Kabupaten Buleleng masih menempati posisi kedua terendah di Bali.

Kondisi tersebut menjadi dasar digelarnya seminar. Harapannya para kepala sekolah dapat menggerakkan satuan pendidikan untuk mulai mengimplementasikan pendidikan demokrasi dan politik. Caranya melakukan praktik pemilihan OSIS di sekolah.

Kepala Disdikpora Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata mengatakan, pendidikan politik harus sejak dini. Meskipun siswa SMP saat ini belum memiliki hak pilih.

“Siswa SMP hari ini akan menjadi pemilih pemula pada Pemilu 2029. Karena itu, pendidikan politik sejak dini sangat krusial,” ujarnya.

Ia menambahkan, tingkat partisipasi pemilih merupakan indikator kuat kualitas demokrasi. 

“Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya, semakin kuat legitimasi Pemilu dan Pilkada,” tegasnya.

Surya Bharata mengatakan, salah satu faktor penyebab rendahnya partisipasi pemilih di Buleleng, di antaranya minimnya kesadaran politik sejak usia dini. 

Selain itu ada keterbatasan sosialisasi kepemiluan, kelelahan pemilih pasca rangkaian pemilu nasional, serta belum kuatnya persepsi masyarakat terhadap relevansi Pemilu dan Pilkada dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks tersebut, sekolah dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran demokrasi. 

Upaya itu dapat dilakukan melalui pendidikan pemilih yang bermakna, pengenalan hak dan kewajiban warga negara, kolaborasi dengan KPU dan pemangku kepentingan terkait.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Tejakula, Gede Benny Kurniawan mengungkapkan, sekolahnya telah melakukan praktik demokrasi di sekolah.

Di SMAN 2 Tejakula, pendidikan demokrasi dapat dikemas dalam program kokurikuler lintas disiplin.

Sekolah telah menyelenggarakan Pemilu Raya OSIS Tahun Ajaran 2025/2026 dengan tema Aura Farming. 

Dalam kegiatan tersebut, siswa dilibatkan secara aktif dengan pembagian peran menyerupai penyelenggaraan pemilu sesungguhnya, mulai dari DKPP, Bawaslu, KPU, KPPS, media kampanye, hingga pembentukan partai politik oleh siswa kelas X dan XI.

Seluruh tahapan dilaksanakan secara sistematis, mulai dari persiapan dan sosialisasi, penetapan calon, hingga pemungutan suara. 

Melalui praktik langsung ini, siswa diharapkan tidak hanya memahami demokrasi secara teoritis, tetapi juga secara nyata. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#SMAN 2 Tejakula #komisi pemilihan umum #smp #osis #kpu #demokrasi #pilkada #politik #partisipasi #pemuda #pendidikan #Disdikpora #KPU Buleleng #pemilu #buleleng