SUKASADA, RadarBuleleng.id – Menjelang Tahun Baru Caka 1946, sekaa truna di Bali disibukkan dengan rutinitas membuat ogoh-ogoh.
Begitu juga di Kabupaten Buleleng. Sebagian besar sekaa truna (ST) mulai membuat ogoh-ogoh yang akan diusung pada hari pengerupukan, atau sehari sebelum Nyepi tiba.
Seperti yang dilakukan Sekaa Truna (ST) Abdi Yowana, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada. Sekaa truna yang berbasis di Banjar Dinas Babakan, Desa Sambangan itu telah menggarap ogoh-ogoh sejak beberapa bulan lalu.
Ketua ST Abdi Yowana, Kadek Yoga Sariada mengungkapkan, pada nyepi tahun ini mereka membuat ogoh-ogoh bertema Ki Cambra Berag.
Menurutnya proses pembuatan ogoh-ogoh sudah dilakukan sejak dua bulan lalu. Ogoh-ogoh itu dibuat di bale banjar setempat.
Yoga menuturkan, ogoh-ogoh tersebut divisualisasikan menyeramkan, berbentuk anjing kurus yang badannya penuh luka membusuk, serta lehernya diikat dengan rantai.
Sosok Ki Cambra Berag dipilih karena diyakini dapat memberikan pesan penting bagi masyarakat. Yakni selalu taat pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Apalagi, Ki Cambra Berag merupakan perwujudan leak yang suka menakut-nakuti. Makhluk astral itu juga tidak segan membunuh orang yang dibenci.
Yoga mengungkapkan, rata-rata orang yang mempelajari ilmu leak adalah orang yang memiliki sifat iri hati, mudah cemburu, dan memiliki dendam.
“Kami di ST Abdi Yowana mengambil tema ini untuk mengajak semua orang selalu taat pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Juga tidak membuat orang lain tersinggung dengan sikap maupun perkataan, agar terhindar dari marabahaya yang tak pernah diketahui,” jelasnya ditemui pada Minggu (4/2/2024) siang.
Untuk saat ini, ogoh-ogoh Ki Cambra Berag masih dalam tahap membangun struktur dan anatomi ogoh-ogoh, agar terbentuk sempurna.
Proses tahap pertama tersebut cukup rumit dan harus digarap dengan hati-hati.
Yoga juga mengklaim ogoh-ogoh itu ramah lingkungan. Struktur ogoh-ogoh dirancang menggunakan bahan-bahan seperti bambu dan rotan.
Sedangkan rangka utama menggunakan besi sebagai penyangga. Besi itu dapat didaur ulang dan digunakan lagi pada tahun berikutnya.
“Proses ini termasuk melapisi dan menghias fisik ogoh-ogoh sesuai konsep yang kami buat. Setelah itu mulai finishing, ada pengecatan, penambahan aksesoris, dan yang lainnya,” tutupnya.
Untuk diketahui, Pada tahun 2023 lalu, mereka membuat ogoh-ogoh Cupak yang digambarkan memiliki sifat rakus dan tamak.
Melalui ogoh-ogoh itu, ia mengharapkan dapat menjadi refleksi bagi generasi muda. Karena tak jarang banyak orang yang memiliki sifat jahat yang menjerumuskan ke jalan kehancuran. (*)
Editor : Eka Prasetya