Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Puluhan Tahun Hilang, Pemuda di Desa Madenan Buleleng Kembali Kembangkan Tabuh Selonding

Eka Prasetya • Jumat, 21 Juni 2024 | 23:43 WIB

 

TABUH SAKRAL: Penampilan komunitas selonding Desa Madenan di Hutan Desa Madenan.
TABUH SAKRAL: Penampilan komunitas selonding Desa Madenan di Hutan Desa Madenan.

TEJAKULA, RadarBuleleng.id - Sejumlah pemuda di Desa Madenan, Kecamatan Tejakula, Buleleng, kembali membangkitkan tabuh selonding.

Tabuh ini disebut sudah hilang selama puluhan tahun di Desa Madenan. Namun kini berhasil dikembangkan lagi.

Hal itu diungkapkan pendiri Komunitas Selonding Desa Madenan, Made Sudiadnyana, saat ditemui di Madenan, kemarin (21/6/2024)

Sudiadnyana mengungkapkan tabuh selonding sebenarnya merupakan tabuh yang unik dan diyakini menjadi tabuh yang sakral.

Dulunya para tetua di Desa Madenan menyebut tabuh selonding banyak digunakan pada acara-acara yadnya.

“Jujur saja, saya yang sudah 50-an tahun tinggal di desa ini tidak pernah melihat tabuh selonding. Tapi menurut tetua kami, pernah ada,” kata Sudiadnyana.

Baca Juga: Dari Diskusi Gambelan Bukan Musik: Tabuh Bukan Hanya Soal Hobi, Tapi Juga Bakti

Lewat inisiatif sejumlah pemuda, mereka berusaha membangkitkan kembali tabuh selonding di Desa Madenan. Tabuh itu baru dibangkitkan sekitar setahun belakangan.

Sudiadnyana bahkan harus merogoh kocek pribadi untuk membeli perangkat gamelan selonding.

“Ini perangkat pribadi. Kebetulan ada pande di daerah Penglumbaran (Bangli) yang menyanggupi membuat satu barung,” ujarnya.

Menurutnya mengembangkan tabuh selonding sebenarnya relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan mengembangkan gong kebyar.

Alasannya untuk tabuh selonding hanya perlu 5-6 orang penabuh saja, maka mereka sudah bisa tampil.

Sedangkan untuk menampilkan gong kebyar, memerlukan sekitar 30 orang penabuh. Mengumpulkan puluhan orang penabuh saja, sudah jadi pekerjaan rumah tersendiri.

“Kadang sudah kumpul, sudah kompak, akhirnya ada yang harus keluar karena perlu kerja. Akhirnya cari lagi yang baru, ya harus mengawali lagi. Kalau selonding kan 5-6 orang sudah jadi,” ujarnya.

Namun untuk mengembangkan selonding juga bukan perkara mudah. Karena mereka yang menabuh selonding harus memiliki passion di bidang seni.

Khusus di Desa Madenan, mereka yang punya passion di bidang seni biasanya lebih memilih bekerja keluar desa hingga keluar negeri karena alasan penghidupan.

“Ada yang punya potensi, tapi dia harus kerja keluar. Ada yang di rumah, tapi nggak punya bakat seni,” ungkapnya.

Ia berharap nantinya akan lahir bibit-bibit seni di Desa Madenan. Sehingga pada akhirnya bisa membantu pengembangan kesenian di desa tersebut.

“Kalau sudah ada bibit seni yang lahir, otomatis pengembangan kesenian termasuk tabuh selonding semakin baik,” ujarnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#tejakula #Madenan #gong kebyar #buleleng #selonding