SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Sebuah video penari joged bumbung Bali berdurasi sepanjang 14 detik hilir mudik di berbagai platform media sosial. Baik itu di Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, Threads, hingga X (dulu twitter).
Dalam video singkat itu, seorang pengibing joged berusaha memberikan saweran sebanyak Rp 100 ribu kepada seorang penari joged.
Sayangnya, cara memberikan saweran itu tidak pantas. Pengibing itu berusaha memberikan saweran lewat mulut.
Si pengibing berharap agar penari joged menerima saweran dengan cara serupa. Menerima saweran lewat mulut.
Namun si penari joged menolak. Si pengibing kecewa, lalu memasukkan uangnya ke dalam kantong.
Sementara sang penari tetap melanjutkan pementasannya, meski dia sempat menunjukkan wajah kecut.
Peristiwa itu sebenarnya sudah terjadi pada akhir September lalu, menjelang hari raya Galungan.
Meski begitu, penari dalam video masih jadi perbincangan. Penari itu adalah Ni Luh Widia Putri, seorang penari joged bumbung asal Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Buleleng.
Widia menjadi perbincangan, karena dia berani menolak pemberian saweran yang dilakukan dengan tidak pantas.
RadarBuleleng.id bertemu dan melakukan wawancara dengan Widia Putri tekait dengan peristiwa yang menjadi perbincangan netizen tersebut.
Widia mengaku peristiwa itu benar-benar membuat dirinya syok. Karena dia tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu.
“Waktu itu benar-benar syok. Karena di tempat lain nggak pernah ada yang seperti itu. Minta ambil (saweran) pakai mulut,” kata Widia saat ditemui di Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, pada Kamis (10/10/2024).
Widia menceritakan, peristiwa itu terjadi di salah satu desa yang ada di Buleleng. Demi alasan keamanan, ia menolak menyebutkan nama desa tersebut.
Dalam pementasan itu, ada dua sekaa joged yang sedang mebarung. Widia sendiri tampil bersama dengan Sekaa Joged Mangun Semara, Desa Selat Buleleng.
Saat itu ada tiga orang penari yang tampil bersama Sekaa Mangun Segara. Selain dirinya, ada Kadek Tina yang berasal dari Pupuan, dan penari lain bernama Widia Sari.
Pada acara yang sama, penari bernama Kadek Tina juga dicium dari belakang. Peristiwa itu terekam dalam video, dan ikut viral.
Widia mengaku dirinya tidak menyangka bila akhirnya video tersebut viral di berbagai platform media sosial. Karena awalnya video yang viral adalah momen saat Dek Tina dicium dari belakang.
“Bagus juga sih kalau sampai viral. Jadi biar orang lain menghargai seniman. Biar nggak campah (menganggap remeh) penari, apalagi penari joged,” ungkapnya.
Baca Juga: Viral Pemangku Ngibing Joged Jaruh. Penarinya Ternyata dari Buleleng!
Ia mengaku peristiwa pemberian saweran menggunakan mulut merupakan peristiwa pertama yang dia alami.
“Saya merasa itu nggak wajar. Karena selama ini kalau ada (saweran), ya diberikan pakai tangan,” cerita penari kelahiran 7 November 2003 silam itu.
Lebih lanjut Widia mengungkapkan, viralnya video tersebut menjadi momentum untuk memulihkan citra kesenian joged bumbung.
Menurutnya citra kesenian joged bumbung sudah terlanjur negatif. Banyak stigma yang melekat pada sekaa, terutama pada penari.
“Bahkan kami sebagai penari joged dikira open BO. Dianggap boleh diajak kemana-mana,” ungkap remaja yang hobi menari dan menyanyi itu.
Baca Juga: Joged Jaruh Merebak, Begini Langkah Dinas Kebudayaan Buleleng
Alumnus SMA Wira Bhakti Singaraja itu menyatakan ia bersama teman-temannya para penari joged berusaha menghapus stigma joged jaruh pada sekaa joged bumbung dan penari joged.
Tak hanya penari, sekaa joged bumbung termasuk para youtuber yang spesialis merekam joged bumbung juga sepakat dengan hal itu.
Widia berharap ada kerjasama dari berbagai pihak untuk memberantas joged jaruh. Bukan hanya dari pemerintah, sekaa, dan penari, tapi juga dari para pengibing. Sehingga citra joged jaruh bisa dihapus.
“Apalagi dulu itu Buleleng yang terkenal jaruh. Syukurnya sekarang sudah mulai berubah. Mudah-mudahan citra joged bisa semakin baik lagi,” harapnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya