Penulis: Kadek Supri Budiadnyana*
Bali telah lama dikenal sebagai destinasi wisata dunia yang menyatukan keindahan alam, budaya, dan spiritualitas. Keindahan alam yang dimiliki bali mampu memikat berbagai wisatawan mancanegara untuk datang melihat dan menikmati berbagai wisata alam. Sebut saja pegunungan, pantai, bahkan lahan persawahan menjadi daya tarik wisata.
Selain hal-hal tadi, nilai budaya yang diimplementasikan masyarakat Bali dalam kehidupan sehari-hari menjadi sesuatu yang unik untuk dilihat oleh para wisatawan Bali. Hal itu menunjukkan Bali bukan hanya memilih keindahan alam. Tapi juga punya potensi budaya hingga pesona spiritualitas yang tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia.
Tengok saja kondisi di Bali. Ratusan bahkan ribuan bangunan suci berupa pura terpencar di berbagai penjuru. Pura menjadi lokasi ibadah umat Hindu. Bukan hanya pada hari raya, tapi juga lokasi ibadah sehari-hari.
Dalam menjaga aspek spiritual, umat Hindu di Bali juga mengenal filosofi Tri Hita Karana. Filosofi tersebut bermakna "tiga penyebab kebahagiaan”.
Lewat filosofi tersebut, umat Hindu berupaya menjaga keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan atau yang disebut dengan parahyangan, manusia dengan sesama manusia atau yang dikenal dengan istilah pawongan, serta manusia dengan alam atau yang dikenal dengan sebutan palemahan.
Implementasi Tri Hita Karana dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu di Bali. Hal yang paling sederhana adalah menghaturkan sesaji dalam proses ibadah. Hal itu diyakini untuk menjaga hubungan bhuana agung (alam semesta) dengan bhuana alit (manusia).
Masuknya pariwisata ke Bali sejak era 1970-an menjadi peluang sekaligus tantangan. Wisatawan tertarik melihat bahkan mempelajari kebudayaan Hindu Bali. Pura sebagai lokasi ibadah dewasa ini kerap menjadi salah satu destinasi wisata. Namun di sisi lain, kesakralan dan kesucian pura harus tetap dijaga.
Ruang Sakral dan Atraksi Wisata
Umat Hindu di Bali mengenal Pura Sad Kahyangan yang terdiri atas enam pura. Pura-pura itu diyakini menjadi sendi-sendiri spritualitas masyarakat Bali. Adapun keenam pura itu adalah Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Uluwatu, Pura Luhur Batukaru, dan Pura Pusering jagat.
Pura Sad Kahyangan menjadi tempat ibadah utama bagi umat Hindu Bali. Namun di sisi lain, pura-pura tersebut juga lokasi wisata. Sebut saja Pura Goa Lawah dan Pura Lempuyang Luhur. Pura Besakih bahkan masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional.
Dalam konteks parahyangan, tempat-tempat ini berfungsi sebagai ruang sakral untuk sembahyang dan ritual. Namun, dalam kaitannya dengan pawongan, tempat ini juga dirancang untuk membuka ruang bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat budaya dan spiritualitas Bali, tanpa mengurangi kesakralannya.
Berbagai aktivitas yang berlangsung pura masih bisa dilihat oleh wisatawan. Dengan catatan wisatawan mengenakan pakaian dan berperilaku yang pantas. Sehingga tidak mengurangi esensi nilai spiritual itu sendiri
Melalui pendekatan Tri Hita Karana, komunitas lokal diberdayakan sebagai pengelola yang menjaga keseimbangan antara fungsi religius dan ekonomi. Pemandu lokal misalnya, tidak hanya memberikan informasi kepada wisatawan tetapi juga mendidik mereka tentang pentingnya menghormati tradisi dan norma setempat. Pentingnya pendidikan ini dilakukan untuk menjaga dan melestarikan kawasan tempat ibadah agar nilai kesakralan dan nilai spiritualnya tidak berkurang.
Pariwisata Alam dan Pelestarian Lingkungan
Dalam aspek palemahan, pelestarian lingkungan sekitar tempat ibadah menjadi prioritas utama. Salah satu pura di Bali yakni Pura Tanah Lot menerapkan zona konservasi untuk melindungi ekosistem pantai dari eksploitasi berlebihan.
Desa adat juga sering menerapkan sistem gotong royong untuk membersihkan area pura, memastikan keindahan lingkungan tetap terjaga. Dalam hal ini Kesadaran masyarakat menjadi kunci penting dalam menjaga kelestarian lingkungan pada tempat ibadah
Penerapan Tri Hita Karana ini tidak hanya melindungi keaslian budaya dan spiritual Bali tetapi juga menjadikan tempat ibadah sebagai contoh pariwisata berkelanjutan. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati pemandangan indah, tetapi juga mendapat pemahaman lebih dalam tentang nilai-nilai lokal yang menjunjung tinggi keharmonisan.
Tantangan dan Harapan
Implementasi Tri Hita Karana dalam pariwisata tidak lepas dari tantangan. Komersialisasi yang berlebihan berpotensi mengancam kesakralan pura. Lonjakan kedatangan wisatawan dapat memberikan tekanan pada lingkungan dan masyarakat lokal.
Perlunya sosialisasi tentang rambu-rambu ketika memasuki tempat ibadah agar para wisatawan mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam area tersebut. Perlu regulasi yang ketat dan kesadaran kolektif untuk menjaga keseimbangan. Penerapan regulasi yang tegas akan memberikan rambu-rambu baik kepada wisatawan dan masyarakat lokal dalam keberlangsungan pariwisata di Bali.
Tri Hita Karana merupakan pondasi yang menjadikan Bali unik di mata dunia. Filosofi ini tidak hanya menjaga keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Bali tetapi juga menawarkan solusi berkelanjutan untuk pariwisata modern. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ini, Bali dapat terus menjadi inspirasi bagi dunia dalam menciptakan hubungan yang selaras antara spiritualitas, budaya, dan alam. (*)
*Penulis adalah Mahasiswa Magister Akuntansi angkatan 2024 di Undiksha Singaraja.
Editor : Eka Prasetya