Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

“Mekila”, Tradisi Silaturahmi Unik dari Kampung Kajanan yang Kembali Dihidupkan

Francelino Junior • Selasa, 8 April 2025 | 00:15 WIB

 

LESTARIKAN TRADISI: Tradisi Mekila yang dilakukan oleh umat muslim di Kelurahan Kampung Kajanan, Buleleng.
LESTARIKAN TRADISI: Tradisi Mekila yang dilakukan oleh umat muslim di Kelurahan Kampung Kajanan, Buleleng.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Momen hari raya Idul Fitri atau lebaran, dirayakan dengan meriah oleh umat muslim. Tak terkecuali di Kabupaten Buleleng.

Di wilayah Kelurahan Kampung Kajanan, umat muslim setempat memiliki sebuah tradisi khas.

Tradisi itu disebut mekila – sebuah budaya turun-temurun yang mengusung nilai luhur silaturahmi antar warga usai Idul Fitri.

Tradisi mekila adalah kegiatan mengunjungi rumah-rumah warga sambil membawa semangat kebersamaan dan doa.

Konon, di masa lampau, tradisi ini dipimpin langsung oleh tokoh atau pemimpin wilayah dan diikuti oleh warga secara beriringan. 

Sempat vakum selama beberapa tahun, tradisi ini dihidupkan kembali sejak 2020 oleh pengurus Masjid Kuna Keramat Singaraja. Alasannya, ada rasa kerinduan dari generasi muda akan warisan budaya leluhur mereka.

Tahun ini, tradisi tersebut berlangsung sejak Rabu (2/4/2025) hingga Kamis (3/4/2025), atau pada hari ketiga dan hari keempat bulan Syawal pada kalender Islam.

Tradisi ini dimulai sejak pukul 08.00 WITA. Pengurus masjid atau Badan Kemakmuran Masjid (BKM) berkumpul di Masjid Kuna Keramat, Jalan Hasanudin, Singaraja. 

Doa-doa syukur pun dilantunkan sebelum rombongan memulai kunjungan dari satu rumah ke rumah lainnya.

Setibanya di rumah warga, rombongan mengawali kunjungan dengan dzikir Alhamduliman, dilanjutkan dengan jamuan makan yang disuguhkan tuan rumah. 

Sajian yang dihidangkan tidak harus mewah. Cukup berdasarkan niat tulus dan kemampuan masing-masing keluarga. 

Salah satu hidangan khas yang mencuri perhatian adalah dadar gule, kuliner lokal yang biasanya hadir di bulan Ramadan.

“Inti dari mekila ini adalah mempererat tali persaudaraan usai Lebaran. Tradisi ini warisan dari para leluhur kami,” ungkap Ketua BKM Masjid Kuna Keramat, Muhammad Mujib.

Menurut Mujib, kelezatan kuliner menjadi pemanis dalam tradisi tersebut. Sebab inti dari tradisi mekila tetaplah kebersamaan dan kekhusyukan dalam doa. 

Yang membuat tradisi ini makin meriah adalah iringan hadrah—rebana Islami—yang menyertai rombongan sepanjang perjalanan dari satu rumah ke rumah lainnya. Nuansa religius pun terasa semakin kuat dan menghangatkan.

Saat ini, tradisi mekila masih difokuskan untuk mengunjungi rumah para pengurus masjid. 

Namun menurut Mujib, tak menutup kemungkinan kedepannya rombongan juga akan mengunjungi warga lainnya jika ada permintaan. 

“Kami hanya meneruskan tradisi. Bacaan-bacaan dalam mekila ini pun sudah diwariskan dari para leluhur. Tugas kami hanya menjaga dan melestarikannya,” tutupnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#doa #lebaran #kampung kajanan #masjid #hari raya #muslim #keramat #idul fitri #tradisi #buleleng #Singaraja