SINGARAJA, RadarBuleleng.id - STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja akan menjadi duta kesenian Kabupaten Buleleng pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025 mendatang.
Mereka akan tampil pada ajang peed aye atau saat parade dalam momen pembukaan Pesta Kesenian Bali, bulan Juni mendatang.
Tahun ini mereka akan menampilkan beragam kesenian khas yang ada di Bali Utara. Ide itu berangkat dari keberadaan Pura Gambung Anglayang atau yang juga dikenal dengan sebutan Pura Pancasila.
Koordinator Pementasan, I Putu Ardiyasa mengatakan, visi yang mereka usung dalam peed aye adalah keinginan Mpu Kuturan untuk mempersatukan Bali. Apalagi pada masa lampau ada berbagai sekte agama di Bali.
Para seniman menerjemahkan visi tersebut dalam bentuk kehidupan multikultural yang berlangsung di Buleleng.
“Buleleng adalah daerah dengan multietnis. Sehingga kami bukan hanya mengangkat kesenian Bali, tapi juga kesenian etnis lainnya,” kata Ardi, Rabu (25/5/2025).
Baca Juga: Balap Liar di Jembatan Merah PKB Makin Meresahkan, Barrier Polisi Pun Dicuri
Kesenian yang akan ditampilkan sangat beragam. Ada kesenian barongsai yang mewakili etnis Tionghoa, kesenian Janger Menyali yang merupakan perpaduan antara Belanda serta Bali, hingga burdah yang merupakan kesenian khas di Desa Pegayaman.
“Ada juga boneka gendong khas Desa Les yang sekarang menjadi kesenian kontemporer di Buleleng,” ujarnya.
Lebih lanjut Ardi mengungkapkan, secara tematik pihaknya juga menyiapkan tiga buah garapan. Pertama yakni tari kreasi pedeengan yang terinspirasi dengan kecantikan paras wanita di Buleleng.
“Deeng ini juga akan kami tampilkan dengan riasan roko-rokoan yang menjadi identitas riasan khas Buleleng,” ungkapnya.
Mereka juga menyiapkan teatrikal bandung rangki. Hal itu terinspirasi dari Umah Bandung Rangki yang merupakan rumah adat Desa Pedawa.
Terakhir, para seniman membuat garapan bertajuk Agra Buana Raksa yang menggambarkan laku kehidupan masyarakat Bali Aga, khususnya Pedawa, dalam menjaga kawasan hulu.
Ardi menuturkan, masyarakat di Desa Pedawa sangat menghormati filosofi tri hita karana. Hal itu tercermin lewat tradisi saba malunin yang diselenggarakan masyarakat adat.
Dalam tradisi saba malunin, masyarakat adat Pedawa wajib menggunakan bahan-bahan yang didapat dari alam. Upacara juga wajib menggunakan tirta atau air suci yang diambil dari 11 mata air di Desa Pedawa.
“Kalau tidak mengambil dari alam, maka mereka tidak bisa melakukan upacara. Demikian juga, kalau tirta dari salah satu mata air itu tidak ada, maka masyarakat menganggap ada sesuatu yang salah di desa sehingga mata air kering,” jelas Ardi.
Lewat garapan tersebut, para seniman di STAHN Mpu Kuturan mengajak para mahasiswa maupun penonton untuk melindungi kesenian serta objek-objek pemajuan kebudayaan.
Ardi mengingatkan, perlindungan terhadap kesenian dan objek pemajuan kebudayaan tidak akan pernah cukup, tanpa ada upaya pengembangan terhadap kesenian.
“Karena yang lampau akan menjadi heritage, yang pengembangan akan meningkatkan posisi tawar. Bagaimanapun juga, di Bali seni itu untuk ritual, seni juga menjadi aspek ekonomi bagi masyarakat,” demikian Ardi. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya