Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kisah Kadek Widiasa, Seniman Karawitan Buleleng: Menolak Menyerah pada Polio, Berhasil Tembus Panggung Dunia

Admin • Rabu, 2 Juli 2025 | 00:45 WIB

 

PIAWAI: Kadek Widiasa (paling kanan), seniman karawitan asal Buleleng saat tampil bersama anak asuhnya.
PIAWAI: Kadek Widiasa (paling kanan), seniman karawitan asal Buleleng saat tampil bersama anak asuhnya.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Di sebuah balai banjar kecil di sudut Lingkungan Banyuning Timur, denting gamelan menggema bersahut-sahutan. Di antara deretan penabuh, duduk seorang pria. Salah satu kakinya terlihat tak berfungsi maksimal.

Pria itu adalah Kadek Widiasa, 44. Namanya sudah tak asing lagi di kalangan penggiat karawitan di Bali Utara.

Sejak balita, Widiasa harus berdamai dengan kenyataan pahit. Ia terserang polio yang membuat kaki kanannya lumpuh total. Aktivitas fisik menjadi terbatas. 

Tapi ada hal yang tak pernah lumpuh. Yakni kecintaannya pada gamelan. “Saya sudah suka gamelan sejak kecil. Dengar suara gong saja hati rasanya bergetar,” ujarnya.

Meski hidup dalam keterbatasan fisik, Widiasa tak pernah menyerah. Sebelum berlabuh sebagai seniman karawitan, Widiasa lebih suntuk dengan band. Dia menggandrungi pop era 90-an hingga musik metal.

Ia membentuk band bersama teman-teman sekolah. Tampil di pentas seni, lomba antar pelajar, hingga panggung kecil di pelosok Buleleng.

“Maman dulu bikin lagu sehari jadi. Jenis musiknya dead metal,” kenangnya sambil tertawa.

Kala itu ia menggeber gitar. Meski sound system seadanya dan alat musik mereka sederhana, penampilannya selalu trengginas.

Tepat di tahun 2000, dia memilih banting haluan. Salah seorang rekannya mengajak Widiasa ikut latihan megambel di Padepokan Seni Dwi Mekar. 

“Band dan gamelan itu mirip, sama-sama bicara soal ritme, emosi, dan kekompakan. Bedanya cuma di alatnya saja,” ungkapnya.

Usai menyerap ilmu karawitan, Widiasa memilih kembali ke banjar. Ia membangun sekaa gong kebyar di Banyuning Timur dari nol. Remaja yang tadinya berjarak dengan musik tradisi, kini mulai tertarik. Dia melatih dengan sabar, menanamkan dasar seni dan rasa percaya diri.

Ketekunannya membuahkan hasil. Reputasi Kadek sebagai pelatih gamelan mulai menyebar. Ia diundang ke berbagai desa dari Pedawa ke Tangguwisia. Instansi kepolisian seperti Polres Bangli dan Polresta Denpasar meminta pendampingan. Anak-anak, ibu-ibu, siswa di SD, SMP, hingga SMK tak luput dari tangannya.

Puncak dedikasi Widiasa tampak saat namanya berkibar di Pesta Kesenian Bali (PKB), pagelaran seni paling prestisius di Pulau Dewata. Ia sudah tujuh kali tampil mewakili Buleleng dalam kesenian Gong Kebyar. Maklum, dia paham betul struktur gending.

Tak hanya di Bali, Kadek juga membawa nama Indonesia ke panggung internasional. Ia ikut dalam pertukaran budaya ke Jerman, Jepang, dan Korea. Dari Banyuning Timur, dia menabuh harapan hingga ke panggung dunia. Dari tangan yang tak pernah lelah menabuh itu, lahir generasi-generasi baru yang mencintai budaya. (Penulis: I Made Mestha Budi Praduinata)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #kaki #pelajar #polio #pop #lomba #fisik #pentas seni #Banyuning #Banjar #remaja #gitar #megambel #seni #gong #metal #karawitan