Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Payas Dirga dan Tenun Loloan Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Takbenda Nasional 2025

Muhammad Basir • Kamis, 30 Oktober 2025 | 20:51 WIB

 

Peragaan tenun loloan saat Festival Loloan Jaman Lame beberapa waktu lalu.
Peragaan tenun loloan saat Festival Loloan Jaman Lame beberapa waktu lalu.

RadarBuleleng.id – Kabar membanggakan datang dari dunia kebudayaan di Kabupaten Jembrana, Bali. 

Sebanyak dua karya khas daerah, Payas Dirga dan Sarung Tenun Loloan, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Nasional 2025. 

Penetapan tersebut menjadi bukti pengakuan terhadap kekayaan tradisi dan sejarah yang dimiliki kawasan Bali Barat.

Kepastian tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara. 

Ia menjelaskan, kedua warisan budaya itu telah melalui proses panjang mulai dari verifikasi lapangan, sidang tingkat provinsi, hingga sidang nasional di Jakarta.

“Dari lima warisan budaya yang kami usulkan, dua telah disetujui dan ditetapkan sebagai WBTB 2025, yakni Payas Dirga dan Sarung Tenun Loloan,” ujarnya.

Proses penetapan ini juga dihadiri langsung para maestro dari masing-masing bidang bersama perwakilan Pemprov Bali. Penyerahan keputusan resmi dijadwalkan berlangsung pada awal November mendatang.

Payas Dirga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Busana adat kebesaran ini pertama kali dikenakan pada upacara pernikahan agung putra tunggal Raja Jembrana VII, Anak Agung Bagus Sutedja, dengan Anak Agung Istri Ngurah Sunitri pada tahun 1940.

Sebagai wilayah yang menjadi pintu perdagangan laut pada masa itu, Payas Dirga menampilkan perpaduan budaya Jawa, Cina, Melayu, dan Bugis. 

Ciri khasnya terletak pada penggunaan bunga medori—yang kini tergolong langka—serta gelung tanduk di bagian belakang kepala, yang melambangkan kewibawaan dan kehormatan.

Sementara itu, Sarung Tenun Loloan dikenal sebagai karya tenun ikat khas Jembrana yang sarat nilai estetika dan filosofi. 

Motifnya banyak terinspirasi dari alam serta tradisi Melayu yang hidup di kawasan Loloan.

“Motifnya diambil dari tumbuhan dan ornamen dekoratif yang memberikan kesan lembut, namun tetap berkarakter kuat. Inilah yang membuat Tenun Loloan berbeda dari tenunan daerah lain,” terang Sapta Negara.

Sapta menambahkan, sejumlah warisan budaya Jembrana lainnya akan terus diusulkan agar mendapatkan pengakuan serupa. 

Pihaknya juga tengah mempersiapkan kajian akademis dan syarat administratif untuk mendukung usulan WBTB berikutnya.

“Kami ingin seluruh kekayaan budaya Jembrana terdokumentasi dan diakui secara nasional, agar dapat dilestarikan lintas generasi,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kebudayaan #bali #bunga #Bugis #melayu #loloan #langka #jembrana #sarung #pariwisata #bali barat #raja #wbtb #warisan budaya #tenun