SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Desa Julah di Kecamatan Tejakula menyimpan berbagai potensi. Salah satunya adalah potensi di bidang kerajinan.
Desa tersebut memiliki kerajinan berupa kain tenun. Uniknya, kain itu hanya digunakan untuk sarana upakara. Pantang dikenakan di badan.
Saat ini hanya tersisa 3 orang penenun di desa itu. Mereka adalah Ketut Resini, Ketut Sarining, dan Luh Mertanadi. Ketiganya masih memiliki hubungan kerabat.
Ketut Resini menuturkan, dirinya mulai menggeluti kerajinan tenun pada tahun 2012 lalu. Keterampilan itu ia pelajari dari mertuanya, Jro Kubayan Sandiarsa.
Hanya perlu waktu selama seminggu bagi Resini untuk mempelajari cara menenun. Setelahnya, dia sudah bisa memproduksi tenun secara mandiri.
“Waktu itu hanya melihat saja. Kalau harus sambil latihan, justru saya bingung. Setelah lihat, mengerti, akhirnya menenun sampai sekarang,” cerita Resini saat ditemui di rumahnya pada Selasa (3/12/2024).
Menurut Resiani, proses pembuatan kain tenun cukup panjang. Ia harus membeli benang terlebih dulu. Setelah itu, benang direbus selama 2 jam.
Saat merebus benang, juga perlu ada perlakuan khusus. Yakni dicampur dengan tepung kanji sebanyak satu sendok makan.
“Yang makan waktu lama itu sebenarnya jemur benang. Kalau cuaca bagus, ya 1-2 hari sudah kering, sudah bisa mulai tenun,” ungkapnya.
Resiani mengungkap, setidaknya ada 6 motif tenun khas Julah. Yakni kain geringsing, kain kasang, kamen daki, kain sakukup, kain subagi, dan tapih pegat. Setiap kain punya fungsi dan makna tersendiri.
Kain geringsing misalnya, digunakan sebagai alas banten. Kain itu wajib ada saat upacara mewinten.
Kain kasang juga memiliki fungsi serupa. Jika kain geringsing menjadi alas, maka kain kasang menjadi penutup sarana upakara. Ukurannya hanya sebesar sapu tangan.
Selanjutnya kamen daki yang digunakan untuk upacara manusa yadnya. Kain sakukup yang berfungsi sebagai sarana banten, kain subagi yang digunakan pada upacara pewintenan, serta kain tapih pegat yang juga dikenakan saat upacara manusa yadnya.
Selain motif-motif tadi, ada juga kain tenun yang dibuat dengan benang putih polos. Tanpa motif apapun. Kain itu diletakkan di dalam sanggah merajan warga.
Salah satu kain yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari oleh warga adalah kain tapih pegat. Kain itu dikenakan saat upacara manusa yadnya. Setelahnya, kain digunakan sebagai alas tidur pasangan suami istri.
Kain itu tidak boleh dibuang, tidak boleh dipinjamkan, bahkan tidak boleh diwariskan. Kain harus digunakan seumur hidup, sampai kain itu rusak. Kain juga hanya boleh dikenakan pada bagian pinggang ke bawah.
“Kalau sudah hancur sendiri, istilahnya tepu (lapuk), ya itu boleh dibuang. Jadi memang harus dipakai seumur hidup. Kalau sudah rusak ya boleh dibuang. Setelah itu tidak perlu buat lagi. Cukup sekali seumur hidup,” ungkap Resini.
Lebih lanjut Resini mengungkapkan, kain yang diproduksi para penenun dari Desa Julah, selalu diminati warga. Setidaknya warga di desa mereka. Karena hampir tiap kegiatan upacara, selalu diikuti dengan penggunaan kain.
“Setiap bulan ada saja yang memesan,” kata Resini.
“Saya juga sekarang ada pesanan. Harus selesai besok, karena mau dipakai upacara,” timpal penenun lainnya, Ketut Sarining.
Bukan hanya warga dari Desa Julah, terkadang warga dari Desa Satra, Bangli juga datang ke Julah untuk mencari kain.
Biasanya warga dari Satra memesan kain untuk keperluan upacara, khususnya upacara menek bajang. Jika anaknya laki-laki, maka mereka akan memesan kain selendang berwarna putih. Sementara bila perempuan, kainnya berwarna putih-kuning.
Dalam sehari, para penenun itu bisa menghasilkan selembar kain berukuran besar. Ukurannya mencapai panjang 2 meter dengan lebar 50 centimeter. Kain itu dijual seharga Rp 350 ribu.
Sementara untuk ukuran yang lebih kecil, dijual seharga Rp 125 ribu. Untuk ukuran kecil, para penenun bisa memproduksi hingga 2 lembar kain.
Kini para penenun berharap bisa menambah pendapatan mereka. Salah satunya dengan memanfaatkan pewarna alami. Mereka berharap bisa mendapatkan pelatihan terkait hal tersebut.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengatakan, dirinya telah melihat langsung tenun khas di Desa Julah. Tenun itu sangat unik. Apabila dikelola dengan baik, kain juga bisa menjadi souvenir bagi wisatawan maupun peneliti yang berkunjung.
Khusus soal ide pemanfaatan pewarna alami, Dody berjanji siap memfasilitasi hal tersebut. “Saya akan komunikasikan dengan Dinas Perdagangan. Kebetulan di PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu) ada instrukturnya,” kata Dody. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya