SINGARAJA-Menjelang Hari Raya Galungan, ternyata penjualan daging babi di Kabupaten Buleleng sepi.
Dari pantauan wartawan ke Pasar Anyar pada Senin (24/2) pagi, para pedagang daging babi yang berada di lantai 2 pasar mengaku penjualan cenderung menurun.
Komang Budiani, salah satu pedagang daging babi menyebutkan bila harga daging babi saat ini tidak berubah alias tidak ada kenaikan maupun penurunan.
Budiani mengatakan bila daging sapi yang dijual per kilogram (kg)-nya seharga Rp 70 ribu untuk daging babi usia muda. Sedangkan bila daging yang usianya tua, berkisar di harga Rp 50-60 per kg.
Meski tidak ada kenaikan harga, tetapi tidak mendorong minat masyarakat untuk membeli daging babi. Daging yang dijajakannya itu, lanjut Budiani, kebanyakan laku dibeli langganannya.
Pedagang daging babi ini menduga, faktor banyaknya keperluan serta harga bahan pokok lainnya yang naik, membuat daya beli masyarakat menjadi menurun. Ia mengaku, hal ini berbeda dengan edisi galungan sebelumnya yang selalu saja ramai pembeli.
“Tidak ada kenaikan, harganya tetap sama. Kalau dagingnya Rp 70 ribu sudah bisa dapat kulit babi Rp 50 ribu. Tapi Hari Raya Galungan, permintaan sepi. Kalau tidak ada langganan, bisa tidak ada yang beli. Krisis uang katanya,” ujarnya sembari memotong daging babi.
Hal senada juga disampaikan Ketut Susila, pedagang daging babi lainnya di Pasar Anyar.
Sepinya pembeli, membuat daging babi yang dijualnya selalu tersisa sebanyak 5 kg. Hal ini membuatnya memutar otak, untuk mengolah daging babi yang dijualnya menjadi urutan babi agar bisa dijual kembali.
Meski, harga daging babi berkisar di harga Rp 75-80 ribu. Mulai dari daging biasa hingga daging campuran.
“Sekarang ada yang beli, tapi sedikit. Kalau dulu sebelum Covid-19 selalu ramai pembeli, tidak hanya penampahan saja ramainya. Harganya tidak ada kenaikan, biasa saja,” kata pria bertubuh gempal ini. ***
Editor : Donny Tabelak