Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Akses Pariwisata Rusak Parah, Warga Desa Tukadmungga Tuntut Ganti Rugi

Francelino Junior • Selasa, 16 April 2024 | 04:10 WIB
Potret jalan rusak di Jalan Petirtaan menuju ke pantai. Ganti rugi dituntut ke pihak kontraktor karena berdampak pada nelayan dan pariwisata.
Potret jalan rusak di Jalan Petirtaan menuju ke pantai. Ganti rugi dituntut ke pihak kontraktor karena berdampak pada nelayan dan pariwisata.

SINGARAJA-Warga Desa Tukadmungga menuntut ganti rugi ke kontraktor sempadan pantai.

Tuntutan ini bukan tak beralasan, tetapi karena rusaknya jalan akibat dilalui aktivitas proyek sempadan pantai di Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.

Mereka menyampaikan kekesalannya dan tuntutannya itu dengan memasang spanduk di Jalan Petirtaan Bali Taman yang tembus menuju ke pantai Desa Anturan. 

Spanduk itu bertuliskan “YANG TERHORMAT BAPAK BWS (BALAI WILAYAH SUNGAI BALI - PENIDA) TOLONG DI TINDAK KONTRAKTOR NAKAL YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB. Jalan Kami Dirusak Akibat Proyek Penyenderan Pantai. Forum Anak Nelayan Desa Tukadmungga.”

Perbekel Desa Tukadmungga, Kadek Surya Darmawan menjelaskan pihaknya sudah meminta pertanggungjawaban dari kontraktor proyek pembangunan senderan pantai pada bulan November dan Desember 2023 lalu. 

Saat itu, proyek pembangunan prasarana pengamanan pantai ruas Buleleng-Tejakula di Kabupaten Buleleng (ruas Tukad Mungga) baru saja diselesaikan.

Perbekel Surya pun meminta agar kontraktor memperbaiki jalan yang dilalui aktivitas proyek itu.

“Saat itu kontraktor berjanji, tapi secara lisan tanpa ada tertulis. Kami minta tanggung jawab sosial, karena akses jalan yang rusak itu merupakan akses nelayan dan untuk pariwisata,” ujarnya ditemui pada Senin (15/4) sore di pantai Tukadmungga.

Surya menuturkan, imbas dari rusaknya jalan tersebut membuat daerah pinggiran Desa Tukadmungga menjadi langganan banjir.

Hal ini karena drainase di jalan tersebut tertutup timbunan batu yang dibuang oleh pihak kontraktor untuk menutupi amblasnya jalan tersebut.

Tak hanya itu saja, Perbekel Desa Tukadmungga menjelaskan rusaknya jalan dan banjir membuat wisatawan yang datang menjadi komplain.

Bahkan berujung batal untuk menikmati aktivitas pariwisata melalui Desa Tukadmungga.

Hal itu juga dikeluhkan pada pelaku pariwisata di Desa Tukadmungga yang disampaikan kepada Perbekel Surya.

“Wisatawan yang datang untuk berwisata melihat dolphin jadi batal karena banjir. Mereka komplain karena baru turun, sudah becek,” sambungnya lagi.

Kini pihaknya pun hanya melakukan gotong royong bersama warga untuk membersihkan sisa-sisa pecahan batu yang ternyata tidak dibersihkan oleh kontraktor.

Lantaran kontaktor hanya berjanji memperbaiki saat sebelum Nyepi, lalu setelah Nyepi, kemudian sebelum Lebaran.

“Mereka janji sebelum Nyepi, lalu sudah lewat Nyepi. Kemudian janji sebelum Lebaran, tapi sekarang sudah lewat Lebaran. Kalau tidak diperbaiki ya swadaya kami, karena ini akses untuk nelayan dan menunjang pariwisata,” lanjutnya lagi.

Surya menambahkan, pihaknya harus mengeluarkan dana sekitar Rp 300 juta untuk memperbaiki dua jalan beton menuju pantai yang digunakan sebagai akses aktivitas untuk proyek. 

Dengan perhitungan, jalan petirtaan dengan panjang 100 meter dan lebar 4 meter, memerlukan biaya perbaikan jalan sebanyak Rp 100 juta.

Sementara jalan satu lagi, jalan Pantai Happy Baru, dengan lebar 200 meter dan panjang 6 meter, memerlukan biaya perbaikan Rp 200 juta.

“Dana itu baru untuk perbaikan jalan saja,” kata Perbekel Surya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek pembangunan prasarana pengamanan pantai ruas Buleleng-Tejakula di Kabupaten Buleleng (ruas Tukad Mungga) ini dibangun mulai bulan April sampai November 2023. ***

Editor : Donny Tabelak
#jalan rusak #desa tukadmungga #kontraktor #pariwisata #Balai Wilayah Sungai