SINGARAJA-Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng memiliki sebuah cara dalam membentengi dirinya dari toko modern, terlebih di wilayahnya.
Caranya, Pemerintah Desa (pemdes) membangun sebuah pasar di pinggir jalan utama desa.
Perbekel Desa Tukadmungga, Kadek Surya Darmawan mengatakan pasar tersebut dinamakan Pasar Happy. Berdiri di atas lahan seluas 4,5 are, pasar tersebut dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dharma Utsaha.
Dalam pasar tersebut, ada 36 lapak serta 10 kios yang diperuntukkan untuk pedagang sore atau senggol.
“Memang sebelumnya ada pasar, tapi tidak strategis. Kini kami bangun di tempat yang lebih representatif. Ini juga salah satu cara kami untuk bentengi diri dari toko modern,” ujar Surya.
Perbekel Desa Tukadmungga mengatakan pihaknya ingin perekonomian di desanya bergerak.
Pihaknya pun mewajibkan seluruh penduduk lokal agar berbelanja di pasar tersebut. Sehingga perputaran uang juga tidak harus keluar dari wilayah desanya.
Apalagi di pasar tersebut akan menjual berbagai keperluan masyarakat mulai hasil bumi hingga sarana dan prasarana upacara.
Rencananya, tanah yang kini berdiri Pasar Happy itu akan dibeli oleh Pemdes Tukadmungga. Karena saat ini tanah tersebut masih dikontrak dari salah satu pemilik lahan.
“Pasar Happy masuk RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Desa. Jadi semua produk Tukadmungga kami namakan happy. Agar semua bisa bahagia,” tandasnya.
Sementara itu, Putu Buda Darma Laksana, Direktur BUMDes Dharma Utsaha mengatakan nantinya para pedagang hanya dikenakan biaya sewa sebesar Rp 400 ribu untuk jangka waktu lima tahun.
Sedangkan, per harinya para pedagang hanya dipungut sebesar Rp 5 ribu saja.
Pembangunan Pasar Happy, kata Buda, menggunakan dana dari BUMDes sebesar Rp 250 juta alias tanpa menggunakan dana APBDes.
“Ini pasar pertama yang dibangun dan dikelola oleh BUMDes. Kami juga sudah hitung, tidak akan merugikan masyarakat desa dan BUMDes,” jelasnya menegaskan. ***
Editor : Donny Tabelak