SINGARAJA-Dinilai berhasil menurunkan angka stunting, Kabupaten Buleleng berhasil meraih penghargaan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI.
Apresiasi ini diberikan pada Jumat (28/6) di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Apresiasi yang diberikan pemerintah pusat berupa penghargaan Program Percepatan Penurunan Angka Stunting berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023.
Penghargaan diterima langsung oleh Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Buleleng, I Nyoman Riang Pustaka mewakili Penjabat (Pj) Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana.
Kabupaten Buleleng menempati posisi enam dari 15 kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki prevalensi terendah. Untuk diketahui, angka prevalensi stunting Buleleng mencapai 6,2 persen.
Angka tersebut berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, yang menjadi data acuan untuk memberikan penghargaan oleh BKKBN RI.
Posisi keenam se-Indonesia, berada di bawah Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Badung, Kabupaten Mesuji, dan Kota Medan.
Sementara untuk lingkup Provinsi Bali, Buleleng berada di posisi ketiga prevalensi angka stunting terendah di Provinsi Bali
Menurut Riang Pustaka, keberhasilan ini merupakan buah kerjasama antar pihak-pihak terkait. Mengingat penyebab stunting berasal dari berbagai faktor.
“Kami di dinas akan melanjutkan program-program yang selama ini sudah dilakukan, khususnya penyuluhan-penyuluhan kepada calon pengantin maupun pengantin baru,” ujarnya.
Ia melanjutkan, bla penyuluhan yang menjadi program tersebut meliputi edukasi 4T atau empat terlalu kepada pengantin.
Itu merupakan adalah kampanye yang berfokus pada empat isu yang dianggap menjadi penyebab tingginya angka stunting
Apa itu? Kata Riang Pustaka, 4T yaitu usia ibu yang Terlalu muda dan Terlalu tua, jarak persalinan yang Terlalu sering, serta jumlah persalinan yang Terlalu banyak.
“Selain itu, pola asuh dan asupan gizi anak menjadi perhatian. Agar angka stunting tidak naik lagi di Buleleng,” jelasnya.
Terpisah, Pj Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana mengatakan angka prevalensi di Buleleng menjadi sorotan di tingkat nasional. Mengapa? Karena angkanya yang mencapai 11 persen.
Senada dengan Kepala Dinas P2KBP3A, Riang Pustaka, Lihadnyana menegaskan bila kolaborasi antar pihak-pihak terkait dalam penanganan stunting sangat penting dilakukan. Karena menjadi kerja bersama untuk membangun kualitas sumber daya manusia.
“Saat ini sudah di angka enam persen. Mudah-mudahan bisa terus diturunkan. Gotong royong dan kerja bersama dalam penanganan stunting sangat diperlukan dan harus dipertahankan,” harapnya. ***
Editor : Donny Tabelak