Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Cerita PKK Sumberklampok Siapkan Menu Makan Siang: Masak Sejak Dini Hari, Hari Pertama Mengaku Kewalahan

Eka Prasetya • Senin, 25 November 2024 | 23:43 WIB

 

MAKAN SIANG: Simulasi makan siang bergizi di SMP Negeri Satu Atap 1 Gerokgak.
MAKAN SIANG: Simulasi makan siang bergizi di SMP Negeri Satu Atap 1 Gerokgak.

GEROKGAK, RadarBuleleng.id - Pemkab Buleleng melakukan simulasi makan siang bergizi di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak.

Simulasi itu menyasar 359 orang siswa yang ada di sekolah tersebut. Meliputi siswa SDN 1 Sumberklampok, SDN 2 Sumberklampok, dan SMP Negeri Satu Atap 1 Gerokgak.

Menu makan siang bergizi itu disiapkan oleh Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Sumberklampok.

Dalam memasak menu makanan, mereka tidak bisa sembarangan. Menu yang disiapkan, hingga proses memasak, wajib diawasi ahli gizi dari puskesmas terdekat.

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sumberklampok, Ni Kadek Trantini mengatakan, dirinya mendapat informasi untuk memasak dalam jumlah besar sekitar seminggu yang lalu.

Ia pun mengaku kelabakan karena harus menyiapkan ratusan menu makanan dalam hitungan jam.

“Ya lumayan ribet (kelabakan, Red). Siap nggak siap harus dijalani. Kami libatkan anggota lain yang siap membantu,” ujar Trantini saat ditemui di Desa Sumberklampok pada Senin (25/11/2024).

Baca Juga: Lapor Pak! Program Makan Siang Gratis untuk Siswa Mulai Diuji Coba di Buleleng

Khusus untuk simulasi tersebut, Trantini mengaku melibatkan 12 orang anggota PKK. Mereka sudah bekerja sejak sehari sebelumnya.

Pada Minggu (24/11/2024), tim mulai menyiapkan bumbu, memotong sayur, serta menyiapkan buah-buahan.

Selanjutnya pada Senin (25/11/2024) dini hari, mereka mulai memasak. Mulai dari menanak nasi, menumis sayur, membuat telur bacem, serta menggoreng tempe.

Khusus untuk kegiatan simulasi pada Senin, timnya menyiapkan 500 paket makan siang. Sebanyak 359 paket disiapkan untuk siswa, sisanya diberikan pada tamu undangan yang hadir.

Trantini mengatakan, dari hasil evaluasinya, memasak dalam jumlah besar memang cukup ribet dan melelahkan.

Dengan biaya sebanyak Rp 17.500, biaya yang dihabiskan terasa sangat ketat. Sebab dana itu hanya cukup untuk pembelian bahan. Belum termasuk biaya jasa dan distribusi.

“Programnya bagus. Tapi kalau untuk masak besar, biayanya agak ketat. Selain itu cukup ribet. Kalau bisa dipecah per sekolah, sepertinya tidak begitu berat,” ujarnya.

Ia pun masih menunggu informasi lebih lanjut soal skema makan siang bergizi di Buleleng. Sebab kegiatan pada Senin baru bersifat uji coba.

“Apakah nanti mau kerjasama dengan BUMDes, atau tetap terus dengan PKK. Kalau memang tetap PKK, kami usul agar bisa membagi tim. Jadi tiap tim handle satu sekolah,” kata Trantini.

Terpisah, Ahli Gizi Puskesmas Gerokgak II, Luh Dami Asih mengatakan, menu yang disiapkan untuk makan siang bergizi sudah dihitung sedemikian rupa.

“Ada hitungan kandungan gizi dan kalori. Jadi sudah ada hitungan nasi sekian gram, sayur sekian gram, protein hewani dan nabati sekian gram,” ungkapnya.

Dalam memasak juga ada pengawasan ketat. Menu yang disiapkan tidak boleh menggunakan penyedap, pewarna, pengenyal, serta pengawet makanan.

Dari hasil pengawasan dirinya, ia menyebut biaya Rp 17.500 yang disiapkan cukup ketat. Padahal tim sudah berusaha menyiapkan menu yang bersumber dari kawasan lokal.

“Bahannya didapatkan lokal. Seperti ayam, telur, dan buah. Kalau sayur dan beras memang harus ambil dari pasar. Memang diupayakan agar menggunakan bahan lokal, biar menekan biaya distribusi,” ujarnya.

Simulasi makan siang bergizi itu juga mendapat perhatian dari Pj. Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya.

Mahendra menyebut model yang diterapkan di Buleleng cukup ideal. Karena melibatkan Tim Penggerak PKK sebagai penyedia makanan.

Dengan melibatkan PKK, ia yakin menu yang disiapkan benar-benar higienis dan bergizi. Sebab mereka memasak untuk anak-anaknya.

“Kalau memasak untuk anak-anaknya, pasti memasak dengan bahan terbaik, higienis, dan tentu dengan penuh rasa cinta,” ujarnya.

Ia mengatakan pemerintah masih melakukan evaluasi terkait model yang sesuai. Termasuk melakukan evaluasi soal biaya yang diperlukan untuk program tersebut.

“Ini kan bagian dari evaluasi kami. Termasuk dengan susu, berapa sih idealnya. Ini masih simulasi untuk mencari model terbaik dan nilai yg ideal,” demikian Mahendra Jaya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#sumberklampok #makan siang #makan siang bergizi #simulasi #pkk #buleleng