SINGARAJA, Radarbuleleng.jawapos.com- Untuk menjaga keberadaan serta keberlangsungan Janger Kolok asal Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, sekeha-nya berlatih rutin tiap seminggu sekali.
Apalagi seni ini sudah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan.
Seni budaya ini memang khas, sebab yang mementaskan adalah orang-orang tuna wicara atau bisu alias kolok.
Latihan ini rutin dilakukan, sebab populasi masyarakat yang tuna wicara dan tuna rungu dari tahun ke tahun, terus berkurang di Desa Bengkala.
Sehingga pelestariannya penting untuk dilakukan. Sebab Janger Kolok memberdayakan masyarakat kolok untuk berkesenian, sehingga setara dengan masyarakat normal.
Menurut I Kadek Sriparcana, Koordinator Sekeha Janger Kolok menyebut kalau populasi masyarakat kolok dulu sekitar 45 orang.
Namun saat ini sebanyak 35 orang. Selain itu, untuk menjadi anggota Janger Kolok tidak dapat dipaksakan, karena harus yang bener-bener mau ikut.
Tentu untuk menjaga kekompakan, karena populasi yang menurun, maka Sekeha Janger Kolok ini secara berkelanjutan mengadakan latihan seminggu sekali, untuk berjaga-jaga apabila ada panggilan pentas mendadak oleh wisatawan.
”Jumlah anggota dulu 16 orang sekarang 12 orang dan regenerasi tetap kita lakukan. Yang ikut harus benar-benar mau, selain mood bersangkutan. Tempat latihan kami di Kawasan Ekonomi Masyarakat (KEM),” ujarnya pada Kamis (10/4).
Bicara sejarah, Janger Kolok dirintis oleh Wayan Nedeng pada 1969. Seni budaya ini merupakan tarian Janger dan seni beladiri serta mengadopsi cerita Kekawin Arjuna Wiwaha.
Pelakonnya adalah sepuluh orang penari penyandang disabilitas tuna rungu dan wicara diiringi alat tabuh kendangan dan cengceng.
Janger Kolok baru saja ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2024. Sertifikat resminya diberikan Gubernur Bali, Wayan Koster kepada Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Buleleng, I Nyoman Wisandika pada Sabtu (1/3) di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali.
”Dengan diberikannya panggung kepada Janger Kolok, itu merupakan hal yang luar biasa agar eksistensi seni budaya ini terus terjaga,” tandas Sriparcana.***
Editor : Donny Tabelak