SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Mata Kadek Witana, 45, tampak sembab. Sesekali ia menutup wajahnya dengan tangan, berusaha menahan tangis yang tak kunjung reda.
Di hadapan para relawan yang berkumpul di halaman rumahnya yang kini penuh lumpur, buruh harian itu berusaha menceritakan kembali detik-detik yang mengubah hidupnya untuk selamanya.
Banjir bandang yang menerjang Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, pada Jumat (6/3/2026) sore tidak hanya menghanyutkan rumah dan harta benda.
Bagi Witana, bencana itu merenggut tiga orang paling berharga dalam hidupnya. Yakni sang istri, Komang Suci, 43, serta kedua anaknya Putu Wini, 17, dan Kadek Wahyu, 12.
Dari empat orang korban akibat banjir bandang di Desa Banjar, tiga orang diantaranya merupakan sosok terdekat bagi Witana.
Setiap mengingat momen tersebut, tangis Witana kembali pecah. “Saya mau selamatkan orang tua di sebelah. Tiba-tiba ada air besar. Saya mau menyelamatkan istri dan anak-anak saya sudah tidak bisa, karena airnya besar sekali,” ucapnya sesenggukan, saat ditemui pada Minggu (8/3/2026).
Saat itu, hujan deras yang mengguyur wilayah Banjar pada Jumat (6/3/2026) sore, membuat aliran sungai tiba-tiba -tiba meluap.
Air keruh bercampur lumpur, kayu, dan material lainnya datang seperti gelombang besar yang menyapu pemukiman warga.
Demikian pula dengan rumah yang dihuni Kadek Witana bersama keluarga kecilnya. Terlebih rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari aliran sungai Tukad Mendaum.
Witana mengaku tidak sempat menyadari bahaya yang datang begitu cepat. Ketika ia berusaha membantu ayah lansia di rumah sebelah, air bah sudah lebih dulu menghantam rumahnya. Dalam hitungan detik, keluarganya terseret arus yang deras.
Kini, di tempat yang sama, Witana hanya bisa memandang rumahnya yang rusak. Di teras rumah, terdapat banten. Lewat banten itu ia berdoa agar keluarganya yang hilang bisa ditemukan seluruhnya.
Salah seorang keluarga korban, Putu Sri Sutarini menyebut, peristiwa air bah itu terjadi sangat cepat. Saat awal air meluap, Putu Wini sempat berusaha meminta pertolongan kepada keluarganya yang lain.
“Sempat telepon bibinya, teman-teman, minta tolong karena air sudah masuk ke rumah. Sempat tersambung dengan pak kadus juga,” ungkap Sri Sutarini.
Perbekel Banjar, Ida Bagus Dedy Suyasa mengatakan, Putu Wini sempat membagikan video ketika ia bersama ibu dan adiknya terjebak di dalam rumah.
Dalam video tersebut, terlihat air sudah mencapai pinggang orang dewasa. “Memang di lokasi itu, saat terjadi banjir airnya cukup tinggi. Sampai 2,5 meter,” ujar kepala desa yang akrab disapa Gus Romet itu.
Menurut Gus Romet, keluarga tersebut sebenarnya tergolong keluarga tidak mampu. Rumah yang mereka huni mereka bantuan pemerintah melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
“Rumahnya baru jadi tahun lalu. Kalau tidak salah sekitar bulan November. Dindingnya masih batako, tapi lantainya sudah disemen. Memang mereka keluarga kurang mampu,” jelasnya.
Hingga Minggu (8/3/2026) tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap korban banjir bandang di Desa Banjar. Ratusan personel dikerahkan untuk menyisir aliran sungai hingga ke perairan laut.
Dari empat orang warga yang dinyatakan hilang akibat banjir bandang, sebanyak tiga orang telah berhasil ditemukan.
Adapun korban yang telah berhasil ditemukan yakni Dewa Ketut Adi Suarjana, 55; Komang Suci, 44; dan Kadek Wahyu, 12. Sementara Putu Wini, 17, masih dalam pencarian. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya