Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mencari SIM Card di Negeri Tirai Bambu. Tak Ada WhatsApp, Tak Ada Google

Eka Prasetya • Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:30 WIB
MENGURUS SIM CARD: Sejumlah jurnalis dari beberapa negara tampak mengurus SIM card untuk mempermudah telekomunikasi selama berada di Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
MENGURUS SIM CARD: Sejumlah jurnalis dari beberapa negara tampak mengurus SIM card untuk mempermudah telekomunikasi selama berada di Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

 

RadarBuleleng.id - Dua hari pertama saya di Tiongkok (China) nyaris berlalu tanpa aktivitas berarti. Sejak tiba pada Senin (11/5/2026), sebagian besar waktu hanya dihabiskan untuk beristirahat di apartemen kampus. Penerbangan panjang dari Indonesia ternyata cukup menguras tenaga.

Maklum, usia sudah mendekati kepala empat. Energi bepergian belasan jam tanpa jeda kini jelas berbeda dibanding masa-masa masih muda dulu.

Di sela waktu istirahat itu, ada satu urusan penting yang harus segera dituntaskan. Yakni membeli SIM card mainland Tiongkok. 

Bukan sekadar untuk komunikasi, tapi juga demi menghemat pengeluaran. Tarif roaming operator Indonesia, jujur saja, bikin dompet menjerit bila dipakai berbulan-bulan.

Awalnya saya berpikir urusan membeli SIM card di Tiongkok akan semudah di Bali.

Di Pulau Dewata, wisatawan asing bisa dengan gampang mendapatkan kartu perdana. Terutama begitu keluar dari terminal kedatangan internasional. 

Cukup tunjukkan paspor, IMEI ponsel, dan alamat tinggal sementara. Dalam hitungan menit, kartu sudah aktif dan siap dipakai.

Tapi bayangan itu buyar begitu saya tiba di Shanghai Pudong International Airport.

Saya berjalan cukup jauh menyusuri area kedatangan internasional. Mata beberapa kali menyapu kanan dan kiri, berharap menemukan outlet provider telekomunikasi. Hasilnya nihil. Bahkan money changer pun tidak terlihat.

Saya sempat berpikir mungkin hanya luput melihatnya.

Namun pengalaman serupa kembali terjadi ketika tiba di Beijing Capital International Airport. 

Tak ada outlet SIM card untuk turis. Supermarket di sekitar kampus juga sama saja. Anehnya, toko handphone justru cukup mudah ditemukan.

SIM card baru benar-benar berhasil saya urus pada Selasa (12/5/2026) siang. Bersama beberapa jurnalis dari kawasan Asia Pasifik, saya berjalan menuju Dongfeng Building di sisi selatan kampus. 

Jaraknya sekitar 10 menit berjalan kaki dari apartemen tempat saya huni di area Renmin University of China, di Distrik Haidian, Beijing.

Sesampainya di sana, antrean sudah mengular. Banyak jurnalis asing rupanya punya misi yang serupa. Sama-sama berburu nomor mainland Tiongkok.

Namun proses pembuatannya membuat saya sedikit tercengang.

SIM card dimasukkan ke sebuah mesin otomatis. Setelah itu kami diminta duduk menghadap kamera. Kepala harus digerakkan ke kiri dan kanan. Mata diminta berkedip. Mulut harus dibuka. Setelah lolos verifikasi wajah, barulah tanda tangan digital dibubuhkan.

“Heboh juga ya cara buat SIM card di sini,” celetuk Nadia Ayu Soraya, rekan sesama jurnalis Indonesia yang ikut program CIPCC 2026.

Saya hanya tertawa kecil. Dalam hati, proses registrasi nomor telepon di Tiongkok terasa seperti sedang membuat paspor digital.

Kejutan rupanya belum berhenti.

Saat tiba di meja pembayaran, saya sempat menahan napas. Untuk SIM card dengan masa aktif enam bulan dan kuota sekitar 50 gigabyte, tarifnya mencapai 400 yuan atau sekitar Rp 1,04 juta.

Nominal itu langsung membawa ingatan saya ke awal tahun 2000-an. Masa ketika harga kartu perdana di Indonesia kadang lebih mahal dibanding handphone-nya sendiri.

Meski terasa mahal, beberapa kolega yang pernah tinggal di Tiongkok, Taiwan, hingga Makau mengatakan harga tersebut masih tergolong normal.

Dan benar saja. Setelah memiliki nomor lokal Tiongkok, banyak urusan mendadak menjadi jauh lebih mudah.

Akses keluar masuk kampus misalnya. Saya kini cukup berjalan melewati gerbang sambil melakukan pemindaian wajah. Tak perlu lagi kartu akses.

Nomor lokal juga mempermudah urusan administrasi perbankan dan aplikasi yang biasa digunakan sehari-hari di Tiongkok. Hampir semua proses verifikasi selalu meminta nomor mainland Tiongkok.

Ya, selama tinggal di sini saya juga membuka rekening bank lokal. Tapi cerita itu mungkin lebih menarik untuk dibahas lain waktu.

Ada satu hal lain yang membuat saya cukup kaget setelah SIM card aktif.

Mendadak beberapa aplikasi yang biasa dipakai sehari-hari tidak lagi bisa diakses. WhatsApp, Facebook, Gmail, Google, hingga TikTok mendadak lumpuh total.

Awalnya saya pikir jaringan internet sedang bermasalah. Ternyata memang demikian sistem yang berlaku di Tiongkok.

Pemerintah Tiongkok belum membuka akses untuk sejumlah platform digital asing yang dianggap belum mengikuti regulasi setempat.

“Pemerintah Tiongkok tidak membatasi akses. Tiongkok terbuka, sepanjang platform digital bersedia mematuhi aturan yang ada di Tiongkok,” ujar Konjen Tiongkok di Bali, Zhang Zhisheng saat ditemui pada Rabu (29/4/2026) lalu.

Adapun aturan yang ia maksud serupa dengan regulasi Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) yang diterapkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Indonesia. 

Lalu bagaimana cara menyiasatinya? Sebagian jurnalis memilih tetap menggunakan roaming operator dari negaranya. 

Sebagian lain mulai beradaptasi memakai aplikasi lokal yang tersedia di Tiongkok.

Dan saya mulai menyadari satu hal: tinggal di negeri orang bukan sekadar soal bahasa atau cuaca. 

Kadang, urusan sesederhana membeli SIM card pun bisa menjadi pengalaman budaya yang benar-benar berbeda. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #sim card #tiongkok #china #buleleng