Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
RadarBuleleng.id - Berada di negeri orang tanpa mengenal siapapun bukan perkara mudah. Apalagi ketika kaki pertama kali menapak di Tiongkok (China), negara yang hampir seluruh aktivitas sehari-harinya menggunakan Bahasa Mandarin. Bekal Bahasa Inggris yang saya bawa dari Indonesia mendadak terasa minim.
Hari-hari pertama di Beijing lebih banyak diisi dengan rasa bingung. Hal sederhana seperti membeli makanan saja bisa berubah menjadi tantangan kecil.
Saya harus memotret menu, lalu menerjemahkannya menggunakan aplikasi translate lewat situs Yandex. Ya, selama di Beijing, saya justru lebih mengandalkan mesin pencari asal Rusia itu dibanding Google.
Entah karena faktor jaringan atau hal lain, Google terasa lambat dan kurang responsif. Padahal saya sudah menggunakan paket roaming data dari provider telekomunikasi di Indonesia.
Sementara Yandex jauh lebih lancar, terlebih setelah saya menggunakan SIM card lokal Tiongkok. Dari situlah “survival mode” dimulai. Semua serba mengandalkan internet.
Beberapa hari kemudian, saat sedang berbelanja di sebuah minimarket di area kampus, seorang perempuan tiba-tiba menyapa saya.
“Dari Indonesia ya?” tanyanya ramah.
Sapaan sederhana itu terasa hangat di tengah dinginnya Beijing. Saya pun mengangguk sambil tersenyum.
Perempuan itu bernama Laras, mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh studi Public Relation di Renmin University of China.
Kami berbincang singkat dan bertukar kontak WeChat, aplikasi pesan yang nyaris wajib dimiliki semua orang di Tiongkok.
Dari Laras, saya mendapat kabar bahwa mahasiswa Indonesia akan membuka booth dalam acara International Cultural Exhibition atau Pameran Budaya Internasional di area kampus, Sabtu (16/5/2026).
Saya pun berjanji datang.
Sabtu siang itu, East Park atau Taman Timur Renmin University terlihat ramai.
Puluhan booth berdiri berjejer, mewakili berbagai negara. Ada Nigeria, Tajikistan, India, Brasil, Korea Selatan, Malaysia, hingga Indonesia.
Selain saya, sejumlah jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) juga hadir membaur dengan mahasiswa internasional.
Salah satu peserta asal Bahrain bahkan langsung mencuri perhatian. Ia mengenakan Thobe putih lengkap dengan sorban dan ikat kepala khas Timur Tengah. Mahasiswa silih berganti mengajaknya berswafoto.
Namun perhatian saya justru tertuju pada booth sudut taman itu.
Tak sulit mengenali mahasiswa Indonesia. Para perempuan tampil anggun mengenakan kebaya dan kain batik.
Sementara mahasiswa pria memakai kemeja batik dengan berbagai motif khas Nusantara.
Laras yang beberapa hari sebelumnya saya temui di minimarket beberapa hari lalu, tampak mengenakan kebaya dipadukan kain songket Bali.
Suasana mendadak terasa akrab.
Saya kemudian berkenalan dengan Kiki, mahasiswa asal Jogjakarta yang sedang menempuh magister Ilmu Komunikasi di Renmin University.
Pria berkacamata itu mengenakan surjan lengkap dengan blangkon khas Jawa. Termasuk kain batik.
Obrolan kami mengalir ringan. Tentang Bali, tentang Indonesia, hingga bagaimana mereka bisa menempuh pendidikan jauh di negeri Tirai Bambu.
Lalu Kiki menawarkan sesuatu yang sederhana, tetapi justru terasa sangat mewah bagi perantau: mie instan Indonesia.
Hari itu, booth mahasiswa Indonesia memang menyediakan Indomie dan Mie Sedap untuk para pengunjung.
Produk-produk itu rupanya sudah diekspor hingga Tiongkok dan menjadi “penyelamat” bagi mahasiswa Indonesia yang rindu kampung halaman.
Saya memilih mie kuah rasa kari ayam.
Ketika kuah hangat pertama menyentuh lidah, rasa rindu itu tiba-tiba muncul begitu saja.
Bumbu rempah yang akrab di lidah terasa seperti membawa pulang ingatan tentang Indonesia.
Tentang rumah. Tentang warung kecil. Tentang serangan rasa lapar pada malam hari yang diobati semangkuk mie instan.
Padahal di Beijing, makanan juga kaya rempah. Namun rasanya tetap berbeda. Ada sesuatu yang terasa kurang nendang.
Rekan saya, Nadia Ayu Soraya, jurnalis Metro TV yang juga mengikuti program CIPCC di Beijing, memilih mie goreng.
“Akhirnya ngerasain lagi makanan Indonesia,” katanya sambil tertawa kecil.
Selain mie instan, booth Indonesia juga menyediakan es buah, kopi, hingga informasi wisata Nusantara. Tak heran lapak itu ramai dikunjungi mahasiswa asing.
Bahkan snack wafer asal Indonesia dengan rasa keju yang lebih kuat ludes diserbu pengunjung.
Di tengah pameran budaya internasional yang dipenuhi aneka tradisi dunia, ternyata rasa sederhana dari Indonesia tetap punya tempat istimewa.
Dan siang itu, semangkuk mie instan di Beijing berhasil mengobati rasa rindu yang sepekan terakhir saya pendam. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya