Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
LANGKAH kaki para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) nyaris tak pernah benar-benar longgar.
Agenda datang silih berganti. Dari ruang kuliah, diskusi budaya, hingga kunjungan lapangan. Hanya Sabtu dan Minggu yang memberi sedikit jeda.
Selasa (19/5/2026) pagi, bus kembali membawa kami keluar kampus. Jika akhir pekan lalu rombongan diajak menyusuri pusat herbal di Beijing, kali ini tujuannya Museum of the Communist Party of China atau Museum Partai Komunis Tiongkok.
Museum itu berdiri megah di kawasan pusat olahraga Beijing. Kawasan yang juga pernah menjadi panggung Olimpiade Musim Panas 2008 dan Olimpiade Musim Dingin 2022.
Begitu tiba di lokasi, kesan pertama langsung terasa: besar. Sangat besar.
Gedung museum yang baru dibuka pada 2021 itu memiliki empat lantai dengan luas mencapai 147 ribu meter persegi. Kira-kira setara 20 lapangan sepak bola.
Dari luar, bangunannya tampak kokoh dengan arsitektur modern khas Tiongkok dengan pilar-pilar raksasa.
Bahkan sejumlah jurnalis asing yang ikut dalam program CIPCC tampak dibuat terpukau.
“Di negara kami memang ada museum nasional, tapi tidak sebesar ini. Museum ini benar-benar masif,” ujar Ram B. Rawal, jurnalis asal Nepal.
Hal serupa disampaikan wartawan Kantor Berita Bernama Malaysia, Siti Zanariah Nor Zin.
“Di Malaysia juga ada museum nasional, tapi ukurannya tidak sebesar ini,” katanya.
Meski bernama Museum Partai Komunis Tiongkok, isi museum ternyata jauh lebih luas daripada sekadar sejarah partai politik.
Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang negeri Tirai Bambu. Mulai dari masa revolusi, perang saudara, berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, hingga transformasi negara itu menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan teknologi dunia.
Museum dibagi dalam empat zona tematik besar. Pengunjung diajak mengikuti alur sejarah Tiongkok secara kronologis. Dari lahirnya Partai Komunis, perjuangan revolusi, pembangunan nasional, hingga era modern yang dipenuhi kemajuan teknologi.
Saban hari, museum ini dipadati warga lokal. Bahkan ketika kami datang pada Selasa pagi, ratusan orang sudah mengantre sejak awal.
Pihak pengelola tampaknya sangat serius menata pengalaman pengunjung. Pemandu ditempatkan di berbagai sudut diorama untuk menjelaskan setiap artefak.
Bagi tamu asing seperti kami, museum juga menyiapkan penerjemah Bahasa Inggris.
Artefak yang dipamerkan pun sangat beragam.
Ada peninggalan terkait Karl Marx sebagai penggagas marxisme, dokumentasi revolusi Tiongkok, senjata perang, miniatur armada militer modern, hingga perkembangan industri luar angkasa Tiongkok.
Tak hanya itu, satu sudut museum juga secara khusus didedikasikan untuk pandemi Covid-19.
Di sana terpampang diorama perjuangan tenaga medis dan militer saat menghadapi wabah yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, Provinsi Hubei. Foto-foto, perlengkapan medis, hingga kisah penanganan pandemi dipajang lengkap.
Menariknya, museum ini tidak hanya mengandalkan artefak statis.
Di salah satu area, kami diajak mencoba wahana interaktif futuristik yang menjadi pengalaman paling berkesan sepanjang kunjungan.
Kami diminta duduk di kursi menyerupai roller coaster. Setelah itu, kursi bergerak masuk ke dalam kapsul besar yang seluruh dindingnya dipenuhi panel LED raksasa.
Video mulai diputar.
Kursi yang kami duduki bergerak mengikuti arah kamera drone di layar. Kadang menanjak, menukik, berbelok, hingga berguncang halus.
Video pertama berjudul *Beautiful of China*. Isinya menampilkan panorama berbagai wilayah di Tiongkok. Dari pegunungan Tibet, Sungai Yangtze, Yellow River, hingga kota-kota modern yang dipenuhi gedung pencakar langit.
Sensasinya terasa nyata.
Saat tayangan memperlihatkan derasnya Air Terjun Hukao, cipratan air sungguhan ikut menyembur tipis ke wajah penonton.
Sontak ruangan dipenuhi suara tawa para peserta.
Sementara video kedua bertajuk Chasing Chinese Dream – New Era of China. Tayangan ini memperlihatkan wajah modern Tiongkok: kereta cepat, teknologi antariksa, industri bawah laut, kecerdasan buatan, hingga kekuatan militer mereka.
Semua dipadukan dalam visual megah dengan efek suara menggelegar.
Kunjungan ke museum itu seperti membawa kami menyusuri cara Tiongkok membangun narasi tentang dirinya sendiri. Tentang sejarah, ideologi, perjuangan, sekaligus ambisi menjadi negara maju. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya