Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Menyusuri Diplomasi Tiongkok dari Ruang Jurnalisme di Beijing

Eka Prasetya • Sabtu, 23 Mei 2026 | 06:52 WIB
FOTO BERSAMA: Para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik berfoto bersama Asisten Menteri Luar Negeri Tiongkok, Hong Lei, saat pembukaan program China International Press Communication Center (CIPCC) di Renmin University of China, Kamis (21/5/2026). (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
FOTO BERSAMA: Para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik berfoto bersama Asisten Menteri Luar Negeri Tiongkok, Hong Lei, saat pembukaan program China International Press Communication Center (CIPCC) di Renmin University of China, Kamis (21/5/2026). (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

SUDAH 10 hari saya berada di Beijing, Tiongkok. Hari-hari pertama di negeri Tirai Bambu itu berjalan lambat. Belum ada agenda besar. 

Waktu lebih banyak dihabiskan untuk beradaptasi. Dari suhu udara yang berubah drastis, kebiasaan masyarakat yang serba cepat, hingga cita rasa makanan yang berbeda dengan lidah Indonesia.

Program China International Press Communication Center (CIPCC) sebenarnya sudah dimulai sejak Sabtu (16/5/2026). 

Namun, seremoni pembukaan baru digelar Kamis (21/5) sore. Lokasinya di Sekolah Jurnalisme dan Komunikasi Renmin University of China, tepatnya di Mingde Building—gedung ikonik yang berdiri megah di area kampus.

Sejak pukul 14.30 WITA, para jurnalis dari berbagai negara berkembang mulai berdatangan. Suasananya seperti miniatur dunia. 

Ragam bahasa bercampur dalam satu ruangan. Begitu pula dengan pakaian yang dikenakan peserta.

Sebagian memilih tampil formal dengan jas lengkap. Sebagian lainnya mengenakan pakaian tradisional khas negaranya masing-masing. 

Para jurnalis pria dari kawasan Asia Pasifik kompak mengenakan setelan jas. Sama seperti peserta dari Amerika Latin.

Namun, para jurnalis perempuan tampil lebih berwarna. Easmin Akter dari Bangladesh, Thetwaisan dari Vietnam, hingga Patience Mawa dari Vanuatu tampil dengan busana tradisional yang mereka bawa langsung dari negara asal.

Peserta dari Timur Tengah juga mencuri perhatian. Mereka mengenakan thobe putih lengkap dengan penutup kepala khas Arab. Sementara jurnalis asal Afrika tampil dengan pakaian tradisional bercorak cerah dan penuh motif etnik.

Di tengah suasana yang penuh keberagaman itu, Wakil Presiden China Public Diplomacy Association (CPDA), Tong Xiaoling, menyampaikan sambutan hangat kepada para peserta.

Ia menegaskan media memiliki peran penting sebagai penyebar informasi sekaligus penghubung antar masyarakat di berbagai negara.

Melalui program CIPCC, CPDA berupaya memperluas pemahaman negara-negara berkembang terhadap Tiongkok. Selama 12 tahun berjalan, program tersebut telah melibatkan hampir 1.000 jurnalis dari lebih dari 140 negara berkembang.

“Hingga saat ini, kami telah mengundang hampir 1.000 jurnalis dari lebih dari 140 negara berkembang ke Tiongkok untuk pelatihan dan kunjungan lapangan. Mereka telah melakukan perjalanan melintasi Tiongkok dengan pena dan lensa, menyaksikan langkah perkembangan Tiongkok di era baru. Laporan mereka telah menyajikan kepada dunia Tiongkok yang asli dan beragam, berbeda dari narasi Barat,” ujarnya.

Presiden Renmin University of China, Ma Huaide, dalam sambutannya juga menyoroti perubahan besar dalam lanskap komunikasi global. Menurutnya, publik dunia saat ini membutuhkan informasi yang jujur, mendalam, dan bertanggung jawab.

Renmin University, kata dia, terus mendorong pertukaran gagasan dan dialog antar peradaban. Kampus tersebut juga tengah mengembangkan integrasi kecerdasan buatan (AI), jurnalisme, dan komunikasi internasional.

Upaya itu dilakukan melalui pengembangan kampus Tongzhou yang diarahkan menjadi pusat inovasi komunikasi berbasis teknologi. Tujuannya meningkatkan akurasi sekaligus interaktivitas komunikasi internasional.

Ma Huaide menjelaskan, Renmin University telah terlibat dalam program CIPCC sejak 2014. Namun, tahun ini menjadi kali pertama kampus tersebut menyediakan apartemen khusus bagi para jurnalis peserta program.

Harapannya bukan sekadar memberi tempat tinggal. Lebih dari itu, para jurnalis diharapkan bisa benar-benar merasakan kehidupan masyarakat Tiongkok dari dekat.

“Kami harap dengan beraktivitas di area kampus, jurnalis bukan hanya belajar, tapi juga menjadi media untuk melakukan pertukaran budaya, memahami pemuda Tionghoa, serta mengamati masyarakat Tionghoa, dan memahami semangat zaman,” tegasnya.

Sementara itu, Asisten Menteri Luar Negeri Tiongkok, Hong Lei, menegaskan pemerintah Tiongkok terus memperkuat solidaritas dan kerja sama dengan negara-negara berkembang.

Menurutnya, banyak negara ingin memahami lebih jauh tentang Tiongkok. Bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga filosofi pembangunan, sistem pemerintahan, hingga arah reformasi negara tersebut.

Karena itulah, pemerintah Tiongkok membentuk CIPCC sebagai jembatan komunikasi bagi media dari negara-negara berkembang.

“Selama lima tahun terakhir, kami telah menjadi tuan rumah bagi sekelompok media yang datang untuk mengenal dan memahami Tiongkok. Mereka mengirimkan kembali ke negara asal mereka apa yang mereka lihat, dengar, dan renungkan. Melalui ribuan laporan, mereka menyajikan kepada dunia Tiongkok yang akurat, multidimensi, dan indah, membangkitkan gaung yang meluas,” ujarnya.

Hong Lei juga menyinggung arah pembangunan Tiongkok pada 2026. Tahun ini disebut menjadi fase baru reformasi dan keterbukaan ekonomi yang lebih luas. 

Pemerintah Tiongkok kini fokus mengembangkan kekuatan produktif baru berbasis teknologi, mulai dari AI, kendaraan energi ramah lingkungan, hingga robot industri.

“Kami yakin dan mampu memberikan peluang baru bagi dunia melalui kemajuan pembangunan baru kami, dan akan terus menjadi mesin penting bagi pertumbuhan global,” katanya.

Selama tiga bulan kedepan, para jurnalis peserta CIPCC akan diajak berkeliling ke berbagai wilayah di Tiongkok. Mereka akan melihat langsung pembangunan, kawasan wisata, hingga perkembangan teknologi yang menjadi wajah baru negeri tersebut.

Bukan hanya itu. Para peserta juga akan bertemu langsung dengan komunitas lokal untuk memahami kehidupan masyarakat Tiongkok dari dekat.

“Saya harap para jurnalis bisa menjadi perekam yang objektif dan jujur, mengamati Tiongkok dengan mata kepala sendiri, merasakan Tiongkok dengan hati Anda,” demikian Hong Lei. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #china #buleleng #jurnalis