Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
BEGITU menginjakkan kaki di Beijing pada Senin (11/5/2026), satu hal langsung terasa mencolok: jalan-jalan di ibu kota Tiongkok itu seperti “panggung besar” kendaraan listrik.
Hampir setiap sudut kota dipenuhi mobil tanpa suara mesin yang melintas tenang, termasuk kendaraan yang menjemput saya dari bandara.
Mobil yang digunakan pemandu saat itu tidak meninggalkan kesan dari segi merek, tetapi satu hal langsung terasa jelas—ini kendaraan listrik.
Tanpa suara raungan mesin, perjalanan justru terasa senyap. Di dalam kabin, panel digital berukuran besar memenuhi dashboard, menampilkan berbagai fitur modern khas mobil masa kini.
Semakin lama berada di jalanan Beijing, pola itu makin terlihat. Mobil listrik bukan lagi barang langka, melainkan arus utama.
Bahkan, saya bisa dengan mudah membedakannya dari pelat nomor: kendaraan listrik menggunakan pelat berlatar hijau, sementara mobil berbahan bakar bensin memakai warna biru.
Dari sana, deretan merek pun mulai terbaca di jalanan. BYD menjadi salah satu yang paling sering melintas. Selain itu ada Voyah, Aito, Wuling, Maple, hingga Tesla yang ikut meramaikan lanskap otomotif kota metropolitan tersebut.
Pengalaman menarik juga muncul di area kampus, ketika saya mendapati mobil bermerek Xiaomi terparkir.
Di Indonesia, Xiaomi lebih dikenal sebagai produsen gadget, bukan kendaraan. Namun di Tiongkok, perusahaan teknologi ini ternyata sudah merambah industri otomotif.
“Di Tiongkok juga ada mobil Xiaomi. Mereka punya banyak fans,” ujar Nancy, salah satu pemandu selama program CIPCC berlangsung.
Fenomena ini sejalan dengan besarnya ekosistem kendaraan listrik di Tiongkok. Negeri Tirai Bambu itu disebut memiliki populasi kendaraan listrik terbesar di dunia, dengan sekitar 14,01 juta unit yang beredar atau sekitar 60 persen dari total global.
Tak hanya mobil, Beijing juga dipenuhi skuter listrik. Kendaraan roda dua ini bukan hanya milik pribadi, tetapi juga menjadi andalan layanan ojek online dan pengantar makanan.
Pemerintah setempat bahkan menata lalu lintasnya dengan menyediakan lajur khusus di sisi paling kanan jalan.
Meski demikian, pengguna skuter listrik tetap wajib mematuhi aturan lalu lintas. Saat menyeberang, mereka harus menggunakan zebra cross dan mengikuti lampu penyeberangan sebagaimana pengguna jalan lainnya.
Di lingkungan kampus seperti Renmin University of China, aturan bahkan lebih ketat. Skuter listrik tidak diperbolehkan masuk ke dalam area kampus dan harus diparkir di titik yang telah disediakan.
Meski kendaraan listrik mendominasi, kendaraan berbahan bakar bensin belum sepenuhnya hilang. Bus dan sebagian angkutan barang masih banyak yang menggunakan mesin konvensional, meski mulai bertahap beralih ke listrik.
Di jalanan, mobil berbahan bakar bensin pun masih terlihat, terutama dari merek-merek premium seperti Mercedes-Benz, BMW, Audi, Toyota, dan Honda. Namun ada satu merek yang menarik perhatian karena tampil dengan huruf Mandarin yang asing di mata saya.
Setelah bertanya kepada pemandu, barulah diketahui bahwa itu adalah Hongqi Automobile, produsen mobil lokal Tiongkok yang dikenal sebagai merek kelas atas.
Menariknya, Hongqi juga digunakan sebagai mobil resmi pejabat tinggi, bahkan Presiden Tiongkok Xi Jinping disebut memakai kendaraan tersebut sebagai mobil kepresidenan.
Produk pertamanya bahkan bisa ditemukan di Museum Partai Komunis Tiongkok, menandai sejarah panjang industri otomotif negeri itu.
Dari perjalanan singkat di Beijing, satu kesan yang tertinggal jelas: Tiongkok tidak hanya membangun industri kendaraan listrik, tetapi juga menjadikannya wajah baru mobilitas perkotaan.
Produk lokal bukan sekadar bersaing, tetapi justru memimpin di pasar domestik yang begitu besar. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya