Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
TINGGAL di Beijing perlahan mengubah kebiasaan saya. Sesuatu yang dulu terasa berat di Bali, kini justru menjadi rutinitas harian yang sulit dihindari: berjalan kaki.
Setiap hari, jam tangan pintar saya nyaris selalu mencatat angka 10 ribu langkah. Sebuah pencapaian yang sebelumnya cukup sulit saya raih saat masih berada di Buleleng. Bedanya sederhana. Di Beijing, sistem kehidupan memaksa orang bergerak.
Selama berada di Renmin University of China, kampus tempat saya menetap tiga bulan ke depan, berjalan kaki menjadi bagian dari keseharian.
Mau makan, harus jalan kaki. Mau ke gedung kuliah, jalan kaki lagi. Bahkan sekadar membeli kopi atau camilan, tetap harus melangkah cukup jauh.
Kantin langganan saya berada sekitar 10 menit dari apartemen. Karena biasanya makan dua kali sehari di tempat yang sama, otomatis ada sekitar 40 menit waktu berjalan kaki setiap hari.
Kalau sedang bosan dengan menu kantin, saya memilih berjalan ke area 7-Eleven di dalam kampus untuk membeli bento atau sushi.
Namun semua berubah ketika hujan turun. Cuaca dingin Beijing membuat kamar terasa jauh lebih menggoda.
Rebahan di balik selimut sambil menonton drama China menjadi pilihan paling nyaman. Sekalian belajar sedikit demi sedikit bahasa Mandarin.
Urusan makan pun praktis. Tinggal turun ke lobi apartemen, membeli mie instan dari vending machine, lalu kembali menikmati hangatnya kamar.
Kebiasaan berjalan kaki seperti ini sebenarnya cukup kontras dengan kehidupan saya di Bali.
Di Buleleng, urusan jalan kaki seringkali kalah oleh sepeda motor. Bahkan dari Kantor Bupati Buleleng menuju DPRD Buleleng yang lokasinya berdampingan saja, saya lebih sering memilih berkendara.
Di Beijing, pilihan itu nyaris tidak tersedia.
Area kampus Renmin University of China memang dirancang sangat ramah pejalan kaki.
Kendaraan bermotor dibatasi ketat. Mobil yang boleh masuk umumnya hanya milik dosen, pejabat kampus, tamu, atau taksi online. Area parkir juga dibuat terbatas.
Mahasiswa bahkan dilarang mengendarai skuter listrik di dalam kampus. Hanya polisi kampus yang diperbolehkan memakai skuter listrik untuk patroli.
Selebihnya, mahasiswa wajib memarkir kendaraan listrik mereka di area khusus sekitar asrama.
Akibatnya, solusi termurah sekaligus paling sehat hanyalah satu: berjalan kaki.
Dari Mingde Building di sisi barat kampus menuju Lide Building di sisi timur misalnya, perlu waktu sekitar 15 hingga 20 menit berjalan santai. Jarak kedua gedung itu kurang lebih satu kilometer.
Tapi mahasiswa Tiongkok yang sudah terbiasa berjalan cepat, bisa menempuhnya hanya dalam 10 menit.
Selain berjalan kaki, pilihan transportasi favorit lainnya adalah sepeda.
Di dalam kampus terdapat berbagai layanan bike sharing dengan warna-warna khas. Ada Hello Bike berwarna biru muda, Meituan Bike dengan nuansa biru lain, DiDi Bike berwarna kuning, hingga sepeda merah milik kampus yang khusus dipakai di area internal.
Cara menggunakannya pun sangat praktis. Tinggal membuka aplikasi Alipay atau WeChat, memindai barcode di sepeda, lalu kendaraan langsung bisa dipakai. Tarif sewanya murah, hanya 1 Yuan atau sekitar Rp 2.600 untuk 30 menit penggunaan.
Setelah selesai dipakai, pengguna cukup memarkir sepeda di titik parkir yang sudah tersedia lalu keluar dari aplikasi. Sederhana dan efisien.
Ratusan sepeda tersebar di seluruh area kampus. Bahkan ada petugas khusus yang setiap hari mengatur posisi sepeda agar tidak menumpuk di satu titik.
Sebagian sepeda dipindahkan dari area asrama menuju lokasi-lokasi yang lebih ramai dipakai mahasiswa.
Pengalaman menggunakan sepeda ini juga dicoba sejumlah jurnalis Asia Pasifik yang mengikuti program bersama di Beijing.
Jurnalis Kantor Berita Bernama Malaysia, Siti Zanariah bin Noor, menjadi salah satu yang pertama mencobanya.
“Menyenangkan, tidak terlalu capek lagi jalan ke Lide Building,” ujarnya sambil tersenyum.
Setelah itu, banyak jurnalis lain ikut mencoba layanan serupa.
Sementara saya tetap memilih berjalan kaki. Selain gratis, ada bonus lain yang cukup menggiurkan: badan terasa lebih sehat.
Siapa tahu, pulang ke Bali nanti berat badan benar-benar ikut turun. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya