Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
MALAM mulai turun saat kami berkeliling di kawasan selatan Kota Fuyang, Provinsi Anhui, Tiongkok, Senin (25/5/2026).
Lampu-lampu gedung pencakar langit memantul di permukaan danau. Jalur pedestrian terlihat ramai.
Anak-anak berlarian, pasangan lansia berjalan santai, sementara di sudut lain sekelompok warga sibuk mengikuti senam malam.
Sulit membayangkan kota yang kini modern dan tertata rapi itu dulunya dikenal sebagai wilayah pertanian dan peternakan.
Fuyang memang sedang berubah. Pemerintah setempat tampaknya tidak ingin kota ini hanya dikenal sebagai lumbung pangan.
Ambisi besar mulai dipancang. Sektor teknologi dan inovasi kini menjadi arah baru pembangunan kota.
Tak tanggung-tanggung, pemerintah mengguyurkan dana hingga 10 miliar yuan atau sekitar Rp 26 triliun untuk pengembangan pusat teknologi, inovasi, dan ekonomi baru. Perlahan, wajah kota ikut berubah.
Di sisi selatan kota, kawasan baru tumbuh seperti kota satelit. Gedung apartemen menjulang. Hotel-hotel berdiri megah.
Pusat bisnis mulai hidup. Kantor pemerintahan, rumah sakit, kantor polisi, hingga markas pemadam kebakaran disiapkan dalam satu kawasan modern yang tertata.
Namun yang menarik, pembangunan di Fuyang tak hanya bicara beton dan gedung pencakar langit.
Pemerintah kota tampaknya sadar, kota modern juga harus ramah bagi warganya. Ruang terbuka hijau diperbanyak. Pusat olahraga dibangun. Area rekreasi disiapkan luas dan nyaman.
Salah satu denyut kehidupan warga terasa di Shuangqing Bay Park atau Taman Teluk Shuangqing.
Taman seluas 430 ribu meter persegi itu kini menjadi ruang favorit warga Fuyang menghabiskan waktu.
Di kawasan ini, suasana terasa hidup sejak sore hingga malam hari. Sebagian warga jogging di jalur pedestrian yang membentang di tepi danau.
Ada yang duduk santai menikmati udara malam bersama keluarga. Sebagian lainnya memilih berkumpul sambil menikmati pertunjukan seni.
Yang menarik, meski jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam, aktivitas warga belum surut.
Bahkan cukup banyak lansia yang masih bersemangat mengikuti senam bersama di sudut taman.
Selain danau dan ruang terbuka, kawasan itu juga dilengkapi museum sains dan teknologi, perpustakaan kota, hingga Fuyang Grand Theater.
Di dekat taman, terdapat pusat perbelanjaan modern yang menjadi tujuan warga berburu kuliner hingga gadget terbaru.
Malam itu, keberuntungan juga berpihak kepada kami. Di salah satu sudut taman, tengah berlangsung pementasan Tari Lentera Huagu, tarian rakyat tradisional khas Anhui.
Dentuman musik terdengar riuh. Para penari perempuan tampil anggun dengan gerakan lembut dan gemulai. Sementara penari laki-laki tampil enerjik dan maskulin. Bahkan beberapa di antaranya memperagakan gerakan kungfu di tengah tarian.
Menurut pemandu lokal yang menemani rombongan jurnalis Asia Pasifik malam itu, pertunjukan seni seperti ini rutin digelar setiap hari dengan tema berbeda-beda.
Yang membuat suasana semakin meriah, beberapa jurnalis asing didaulat naik ke panggung mencoba langsung Tari Lentera Huagu.
Patience Mawa dari Vanuatu, Manenant Onpanna dari Thailand, hingga Moiz Farouq dari Pakistan sontak menjadi pusat perhatian.
Mereka mencoba mengikuti gerakan sederhana para penari. Sesekali gerakannya tampak kaku. Namun tawa dan tepuk tangan penonton justru pecah memenuhi taman.
Usai pertunjukan, Manenant Onpanna mengaku pengalaman itu menjadi salah satu momen paling berkesan selama berada di Tiongkok.
“Saya tidak tahu seperti apa tarian di Tiongkok. Ini pertama kali saya menonton dan langsung mendapat kesempatan mencoba. Tentu ini sangat berkesan,” ujar wanita yang akrab disapa Ying itu.
Hal serupa disampaikan Moiz Farouq. Ia mengaku kagum melihat energi para penari tradisional Anhui yang mampu tampil penuh semangat sepanjang pertunjukan.
“Mereka tampil sangat energik. Bahkan dalam waktu singkat bisa membawakan beberapa tarian,” katanya.
Di tengah geliat modernisasi dan pembangunan teknologi, Fuyang tampaknya belum ingin kehilangan jiwanya.
Kota ini tetap memberi ruang bagi budaya lama untuk hidup berdampingan dengan wajah masa depan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya