Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Bekas Pabrik Wine Menjadi Surga Digital Nomad, Kisah Heiduo Island di Pedalaman Anhui Tiongkok

Eka Prasetya • Rabu, 10 Juni 2026 | 04:43 WIB
WADAH BAGI DIGITAL NOMAD: Suasana di NCC Heiduo Island Digital Nomad Community, Provinsi Anhui, Tiongkok. Lokasi ini menjadi wadah para digital geek membangun proyek dan bekerjasama. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
WADAH BAGI DIGITAL NOMAD: Suasana di NCC Heiduo Island Digital Nomad Community, Provinsi Anhui, Tiongkok. Lokasi ini menjadi wadah para digital geek membangun proyek dan bekerjasama. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

LANGKAH kaki saya baru beberapa meter memasuki kawasan itu. Namun pikiran langsung melayang jauh ke Bali. Tepatnya ke Canggu, kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir identik dengan para digital nomad dari berbagai negara.

Bedanya, tempat yang saya datangi ini tidak berada di tepi pantai. Tidak pula dipenuhi wisatawan asing yang bekerja sambil menikmati matahari tropis. 

Lokasinya berada di pedalaman Provinsi Anhui, Tiongkok, sekitar satu jam perjalanan dari Kota Huangshan.

Namanya NCC Heiduo Island Digital Nomad Community.

Sebuah komunitas pekerja kreatif dan profesional teknologi yang tumbuh di tengah kawasan tenang bernama Yixian County. Tempat ini disebut "pulau" karena seluruh area komunitas dikelilingi aliran Sungai Yichuan.

Dari luar, kawasan tersebut tidak tampak seperti pusat inovasi teknologi. Bangunannya sederhana. Namun begitu masuk ke dalam, suasananya berubah total.

Ada ruang kerja bersama yang luas, teater mini, area workshop, pusat kebugaran, kafe, hingga hunian yang menyatu dalam satu kawasan. 

Semuanya dirancang agar para pekerja digital bisa bekerja, beristirahat, belajar, sekaligus membangun jejaring tanpa harus meninggalkan lokasi.

Yang menarik, tempat ini dulunya bukan pusat teknologi.

Bangunan yang kini menjadi rumah bagi para digital nomad tersebut sebelumnya merupakan pabrik pembuat wine lokal. 

Ketika perusahaan memindahkan operasionalnya ke lokasi yang lebih besar, bangunan lama itu nyaris kehilangan fungsi.

Namun sekelompok anak muda melihat peluang berbeda.

"Kami memutuskan mengambil alih tempat ini. Berbagai fasilitas kemudian disesuaikan dengan kebutuhan para pekerja kreatif," ujar Project Leader Heiduo Island, Li Xinya, saat menerima kunjungan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) beberapa waktu lalu.

Keputusan itu ternyata tepat.

Meski baru beroperasi sejak Juli 2024, Heiduo Island berkembang sangat cepat. Komunitas ini bahkan telah menjadi salah satu model pengembangan digital nomad community di Provinsi Anhui dan mendapat perhatian sebagai percontohan di tingkat nasional.

Keunggulannya bukan hanya menyediakan ruang kerja. Tetapi juga menciptakan lingkungan hidup yang mendukung produktivitas sekaligus kualitas hidup para anggotanya.

Saat ini sekitar 60 kreator dan pekerja digital tergabung dalam komunitas tersebut. Sekitar 40 orang aktif bekerja dan tinggal secara berkala di kawasan itu. 

Sisanya bekerja secara remote dari berbagai kota, namun tetap terhubung dan sesekali datang untuk mengikuti kegiatan komunitas.

Bidang pekerjaan mereka sangat beragam.

Sebagian besar berkecimpung di dunia coding dan pengembangan perangkat lunak. Ada pula yang bergerak di bidang komunikasi digital, perdagangan internasional, teknologi pariwisata, hingga industri kreatif berbasis kecerdasan buatan.

Nama-nama besar pun ikut muncul dalam percakapan.

"Beberapa anggota kami bekerja untuk Rednote, Alibaba, bahkan ada yang terlibat dalam proyek-proyek TikTok," kata Li.

Yang membuat Heiduo Island menarik bukan hanya para penghuninya, tetapi juga jejaring yang berhasil mereka bangun.

Dari sebuah kawasan kecil di pedalaman Anhui, komunitas ini telah terhubung dengan lebih dari 20 komunitas digital nomad di berbagai wilayah Tiongkok. Total lebih dari 5.000 pekerja digital masuk dalam jaringan kolaborasi mereka.

Relasi itu bahkan melampaui batas negara.

Li mengaku komunitasnya memiliki mitra dari Jerman, Amerika Serikat, hingga Kanada. 

Sejumlah pekerja digital dari negara-negara tersebut pernah datang, bekerja bersama, berdiskusi, sekaligus menikmati pengalaman hidup di pedesaan Tiongkok.

Menurutnya, lokasi yang jauh dari pusat kota justru menjadi keunggulan.

Selain menawarkan suasana kerja yang lebih tenang, kawasan tersebut juga dekat dengan berbagai destinasi wisata di selatan Anhui. Bahkan Shanghai dapat dijangkau dengan kereta cepat dalam waktu relatif singkat.

"Mereka datang bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga berwisata," ujarnya.

Namun Heiduo Island tidak hanya berbicara soal teknologi dan produktivitas.

Di balik layar komputer dan deretan proyek digital, komunitas ini juga memberi perhatian besar terhadap kesehatan mental para anggotanya.

Li menyadari tekanan pekerjaan di sektor teknologi sering kali tidak ringan. Tenggat waktu yang ketat, target yang tinggi, hingga tuntutan inovasi yang terus berkembang bisa menjadi beban tersendiri bagi para pekerja digital.

Karena itu komunitas secara rutin menggelar diskusi, sesi berbagi pengalaman, hingga menghadirkan pakar dan psikolog untuk memberikan pendampingan.

"Terkadang ada waktunya kita harus melangkah mundur sejenak. Di sini kami saling menguatkan dan saling mendukung," katanya.

Dalam kurun kurang dari dua tahun, komunitas ini telah menggelar lebih dari 500 kegiatan. 

Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah hackathon yang mempertemukan para digital geek dari berbagai daerah di Tiongkok untuk berkolaborasi menciptakan solusi teknologi.

Namun kontribusi mereka tidak berhenti di lingkungan komunitas.

Heiduo Island juga aktif membangun hubungan dengan masyarakat desa sekitar. Mayoritas penduduk di kawasan tersebut berusia di atas 45 tahun dan belum terbiasa memanfaatkan teknologi digital secara optimal.

Melihat kondisi itu, para anggota komunitas menginisiasi berbagai program pelatihan. Mulai dari penggunaan telepon pintar, media sosial, e-commerce, pengembangan merek usaha, hingga strategi pemasaran digital.

Program tersebut perlahan menjembatani dua generasi yang berbeda.

Generasi muda berbagi pengetahuan teknologi. Sementara generasi yang lebih tua membagikan pengalaman hidup dan kearifan lokal yang tidak didapatkan di ruang kelas maupun layar komputer.

"Kami sama-sama belajar. Yang tua belajar dari yang muda, dan kami yang muda belajar dari pengalaman para senior," ujar Li.

Dari Heiduo Island, saya melihat sebuah perubahan cara pandang tentang bekerja.

Bahwa bekerja tidak selalu harus dilakukan di tengah hiruk-pikuk kota besar. Tidak pula harus mengorbankan kualitas hidup demi mengejar produktivitas.

Di tempat ini, teknologi, kreativitas, komunitas, dan kehidupan berjalan berdampingan. 

Sebuah pengingat bahwa di era digital, kesuksesan bukan hanya soal seberapa banyak pekerjaan yang diselesaikan, tetapi juga bagaimana menciptakan keseimbangan antara pekerjaan, kesehatan, dan kebahagiaan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #digital #buleleng #digital nomad