Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Bangga! Penggiat Lingkungan di Buleleng Raih Kalpataru. Terumbu Karang Pemuteran yang Pernah Rusak Kini Jadi Percontohan Nasional

Francelino Junior • Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:19 WIB
KALPATARU: Pegiat lingkungan asal Desa Pemuteran Kabupaten Buleleng, Komang Astika (tengah) meraih kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup. (Pemkab Buleleng)
KALPATARU: Pegiat lingkungan asal Desa Pemuteran Kabupaten Buleleng, Komang Astika (tengah) meraih kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup. (Pemkab Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Kabupaten Buleleng kembali mengharumkan nama Bali di tingkat nasional. 

Upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan masyarakat Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, berhasil mengantarkan daerah ini meraih penghargaan bergengsi Kalpataru 2026.

Prestasi tersebut diraih berkat keberhasilan restorasi terumbu karang menggunakan teknologi Biorock, sebuah inovasi yang mampu menghidupkan kembali ekosistem laut yang sebelumnya mengalami kerusakan parah. 

Program ini bahkan berhasil menyisihkan lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dalam ajang penghargaan yang diserahkan di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Di balik penghargaan tersebut, terdapat sosok Komang Astika yang mengembangkan teknologi Biorock untuk mempercepat pertumbuhan terumbu karang. 

Teknologi ini memanfaatkan aliran listrik bertegangan rendah yang dialirkan ke struktur logam di bawah laut sehingga mampu merangsang pembentukan mineral alami sebagai media tumbuh karang.

Astika menjelaskan, sistem Biorock menggunakan dua komponen utama berupa anoda dari titanium dan katoda yang terbuat dari besi konstruksi. 

Arus listrik bertegangan rendah kemudian dialirkan ke struktur besi yang dibentuk menyerupai kubah atau bunga lotus.

"Dengan mengalirkan listrik tegangan rendah ke struktur besi yang dibentuk menyerupai bunga lotus atau kubah, terjadi reaksi kimia yang menyebabkan mineral kapur (kalsium karbonat) mengendap pada struktur tersebut," jelasnya.

Endapan mineral tersebut membuat struktur besi berubah menjadi habitat yang ideal bagi pertumbuhan bibit karang. 

Karang dapat tumbuh lebih cepat, lebih kuat, dan lebih sehat dibandingkan proses alami. 

Seiring waktu, kawasan itu kembali menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan dan biota laut yang sempat menghilang.

Keberhasilan ini berawal dari keprihatinan masyarakat Pemuteran terhadap kondisi laut di wilayah mereka. 

Bertahun-tahun lalu, terumbu karang di kawasan tersebut mengalami kerusakan akibat dampak pemanasan global, praktik penangkapan ikan menggunakan bom, hingga penggunaan potasium yang merusak ekosistem bawah laut.

Melalui komitmen perawatan lingkungan yang dilakukan secara berkelanjutan, kawasan terumbu karang seluas sekitar dua hektare kini berhasil dipulihkan. 

Perairan Pemuteran yang dulunya rusak kini berubah menjadi salah satu contoh sukses konservasi laut berbasis masyarakat di Indonesia.

"Keberhasilan ini tidak hanya mengembalikan keindahan bawah laut, tetapi juga menjadi model keberlanjutan ekonomi biru bagi masyarakat pesisir di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng, I Gede Putra Aryana, menyebut penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pegiat lingkungan mampu menghasilkan perubahan nyata bagi kelestarian alam.

"Penghargaan ini menjadi contoh sekaligus katalisator agar daerah lain, khususnya di Buleleng, turut bergerak dalam pelestarian lingkungan, terutama ekosistem laut. Kami sangat bangga dengan dedikasi Bapak Komang Astika dan tim di Pemuteran," ujarnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#bali #kalpataru #terumbu karang #Pemuteran #buleleng