Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
PESAWAT hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk menghubungkan Kota Linzhi dengan Lhasa, ibu kota Daerah Otonomi Xizang (Tibet), Tiongkok.
Namun, bagi kami, para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik, jalur udara justru bukan pilihan.
Sabtu siang (19/7/2026), usai mengunjungi Nyingchi Tibetan Hospital, rombongan memilih menempuh perjalanan darat selama sekitar tujuh jam.
Bukan karena ingin menikmati wisata jalan raya, melainkan demi satu tujuan penting. Yakni memberi kesempatan tubuh beradaptasi dengan ketinggian sebelum memasuki Lhasa.
Keputusan itu terdengar sederhana, tetapi menyangkut keselamatan.
Linzhi berada pada ketinggian sekitar 2.992 meter di atas permukaan laut. Sementara Lhasa berdiri hampir 700 meter lebih tinggi, sekitar 3.650 meter.
Perpindahan yang terlalu cepat berisiko memicu altitude sickness, gangguan kesehatan akibat menurunnya kadar oksigen di udara pegunungan.
Bus yang kami tumpangi perlahan meninggalkan Linzhi. Jalan raya membelah lembah-lembah Himalaya yang megah. Semakin jauh perjalanan, panorama di balik kaca jendela berubah layaknya lukisan raksasa yang terus berganti.
Pegunungan batu menjulang tanpa ujung mengapit jalan beraspal mulus. Di sejumlah lereng, untaian bendera doa khas Tibet berkibar diterpa angin pegunungan.
Warna-warni kain itu menjadi penanda bahwa kami benar-benar memasuki jantung dataran tinggi Himalaya.
Hamparan biru Danau Basum-tso muncul di sela pegunungan. Airnya begitu bening hingga memantulkan langit dan puncak-puncak gunung di sekitarnya seperti cermin alam.
Di lereng lain, puluhan ekor yak tampak merumput santai. Hewan berbulu tebal yang menjadi ikon Tibet itu terlihat begitu akrab dengan kerasnya alam pegunungan. Bagi mereka, tipisnya oksigen seolah bukan persoalan.
Tidak demikian bagi manusia. Semakin tinggi bus menanjak, semakin sering kendaraan berhenti.
Bukan karena mesin bermasalah, melainkan untuk memberi waktu seluruh penumpang menyesuaikan diri dengan perubahan ketinggian.
Salah satu pemberhentian dilakukan di Gongbujiangda County, kawasan yang berada di ketinggian sekitar 3.465 meter di atas permukaan laut.
Di sinilah perjalanan mulai terasa berbeda. Tim pendamping dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok membagikan tabung oksigen portable kepada seluruh peserta.
Beberapa jurnalis mulai mengeluhkan sakit kepala. Ada yang merasa tubuhnya ringan seperti melayang, ada pula yang mulai kehilangan keseimbangan saat berjalan.
Kami pun mendapat penjelasan singkat mengenai cara menggunakan tabung oksigen apabila sewaktu-waktu gejala altitude sickness muncul.
Saat itu saya justru menganggap pembagian tabung oksigen hanya sebagai langkah antisipasi berlebihan.
Saya merasa baik-baik saja. Tidak ada pusing. Tidak ada sesak. Saya bahkan sempat berpikir altitude sickness mungkin hanya cerita yang dibesar-besarkan.
Ternyata saya salah. Beberapa jam kemudian bus berhenti di Mila Mountain Pass, jalur pegunungan yang menghubungkan Gongbujiangda County dengan Maizhokunggar County. Ketinggiannya mencapai sekitar 5.000 meter di atas permukaan laut.
Begitu pintu bus terbuka, udara dingin langsung menyergap. Sebagian peserta turun sambil menggenggam tabung oksigen. Saya justru melangkah santai tanpa membawanya. Saya masih yakin kondisi tubuh saya baik-baik saja.
Keyakinan itu runtuh hanya dalam hitungan menit. Baru menyeberangi jalan dua lajur, napas saya sudah tersengal.
Beberapa puluh meter menuju toilet terasa seperti mendaki bukit tanpa ujung. Setelah urusan selesai, saya harus kembali berjalan menuju bus. Jarak yang sebenarnya sangat dekat mendadak terasa begitu jauh.
Langkah mulai goyah. Pandangan perlahan mengabur. Kepala terasa ringan. Tubuh kehilangan tenaga.
Saya nyaris pingsan.
Beruntung, seorang rekan segera menyodorkan tabung oksigen portable. Beberapa kali tarikan nafas perlahan mengembalikan kondisi tubuh. Pusing mulai mereda, meski kaki masih terasa limbung.
Pengalaman singkat tersebut langsung mengubah cara pandang saya terhadap altitude sickness.
Sejak saat itu, tabung oksigen portabel tak pernah lagi lepas dari genggaman setiap kali turun dari bus atau berjalan di luar ruangan.
Setibanya di Lhasa, tabung oksigen portable ternyata dijual hampir di setiap toko. Harganya sekitar 15 yuan atau sekitar Rp 40 ribu.
Bahkan hotel tempat kami menginap menyediakan selang oksigen medis di setiap kamar sebagai fasilitas standar bagi tamu.
Di kota yang berdiri ribuan meter di atas permukaan laut itu, oksigen bukan lagi sekadar alat kesehatan. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pengalaman yang lebih berat dialami rekan jurnalis asal Türkiye, Mert Sagit. Selama berada di Tibet, gejala altitude sickness yang dialaminya tidak kunjung reda.
Dalam sehari, ia bisa menghabiskan dua hingga tiga tabung oksigen portable hanya untuk menjaga tubuhnya tetap stabil.
"Kepala saya terus terasa pusing dan sakit. Mungkin karena altitude sickness. Makanya saya tidak pernah lepas dari tabung oksigen portable," ujarnya sembari menggenggam tabung oksigen.
Perjalanan darat selama tujuh jam dari Linzhi menuju Lhasa akhirnya memberikan pelajaran yang tak pernah saya temukan dalam buku perjalanan mana pun.
Himalaya memang menyuguhkan panorama yang nyaris sempurna. Namun, di balik keindahannya, alam juga mengingatkan manusia tentang batas kemampuannya.
Di dataran tinggi Tibet, bernapas bukan lagi sesuatu yang bisa dianggap biasa. Di sana, setiap tarikan nafas adalah sebuah kemewahan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng