Berkunjung ke Potala Palace, Menemukan Keheningan di Tibet

Eka Prasetya • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 19:15 WIB
MEGAH: Suasana di Potala Palace, Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok. Bangunan yang menjadi istana musim dingin para Dalai Lama, kini menjadi situs warisan sejarah dunia. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
MEGAH: Suasana di Potala Palace, Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok. Bangunan yang menjadi istana musim dingin para Dalai Lama, kini menjadi situs warisan sejarah dunia. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

LANGKAH demi langkah terasa semakin berat. Belasan anak tangga yang biasanya mudah ditaklukkan mendadak terasa seperti tak berujung. Napas memburu. Dada berdebar. Kepala mulai berdenyut. Di ketinggian sekitar 3.700 meter di atas permukaan laut, udara Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok, benar-benar menguji setiap pengunjung.

Tabung oksigen portable yang kami bawa bukan sekadar pelengkap perjalanan. Benda kecil itu menjadi penyelamat ketika tubuh mulai kesulitan beradaptasi dengan tipisnya kadar oksigen di "Atap Dunia". 

Saya bersama belasan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik beberapa kali harus berhenti untuk mengatur nafas sebelum melanjutkan pendakian menuju Potala Palace.

Sebagian peserta mulai merasakan gejala altitude sickness. Ada yang mengeluhkan sakit kepala, ada yang nafasnya memendek. 

Saya sendiri merasakan dada berdebar lebih cepat dari biasanya. Kondisi itu membuat rombongan memilih jalur kunjungan singkat. Waktu kami memang hanya sekitar dua setengah jam, tetapi kesehatan menjadi pertimbangan utama.

Sesampainya di pelataran, ribuan orang telah memenuhi kawasan Potala Palace. Antrean mengular sejak pagi. 

Namun, pemandangan yang paling menarik bukanlah ramainya wisatawan, melainkan banyaknya peziarah yang datang dengan langkah tenang dan wajah penuh kekhusyukan.

Sebagian menggenggam tasbih yang terus diputar sepanjang perjalanan. Sebagian lainnya membawa botol kecil berisi minyak mentega sebagai persembahan. 

Ada pula yang menggenggam lembaran uang pecahan kecil. Mereka datang bukan untuk mengejar foto terbaik, melainkan menjalankan perjalanan spiritual yang telah diwariskan turun-temurun.

Di sinilah saya menyadari, Potala Palace bukan sekadar destinasi wisata paling terkenal di Tibet. Bagi umat Buddha Tibet, tempat ini merupakan pusat spiritual yang menjadi tujuan ziarah selama berabad-abad.

Dari kejauhan, Potala Palace berdiri megah di puncak Bukit Merah (Marpo Ri), tepat di jantung Kota Lhasa. Dinding putih yang mengapit bangunan merah di bagian tengah membuat istana ini mudah dikenali bahkan dari kejauhan.

Kompleks berlantai 13 itu merupakan salah satu mahakarya arsitektur terbesar di dunia. Bagian luar didominasi Istana Putih (Phodrang Karpo) yang dahulu menjadi pusat pemerintahan sekaligus kediaman resmi Dalai Lama. Sementara Istana Merah (Phodrang Marpo) menjadi kawasan paling sakral karena digunakan untuk aktivitas keagamaan.

Di dalamnya tersimpan aula doa, kuil-kuil, ribuan naskah suci Buddha, hingga stupa emas yang menjadi tempat persemayaman relik para Dalai Lama terdahulu.

Sejarah Potala Palace membentang lebih dari 1.300 tahun. Benteng pertama dibangun Raja Songtsen Gampo pada abad ke-7. 

Adapun kompleks megah yang berdiri saat ini mulai dibangun pada 1645 atas perintah Dalai Lama ke-5, Lozang Gyatso. Hingga 1959, istana tersebut menjadi kediaman musim dingin para Dalai Lama.

Kini Potala Palace berfungsi sebagai museum nasional sekaligus pusat ziarah umat Buddha. 

Pada 1994, UNESCO menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia karena nilai sejarah, budaya, dan arsitekturnya yang luar biasa.

Di balik dinding batu yang pada bagian dasarnya mencapai ketebalan lima meter, tersembunyi lebih dari 1.000 ruangan, sekitar 10.000 altar, serta hampir 200.000 koleksi patung dan karya seni keagamaan.

Sayangnya, waktu yang kami miliki terlalu singkat untuk menjelajahi seluruh kompleks. Dari 16 aula yang dibuka untuk umum, kami hanya sempat mengunjungi enam aula, termasuk Istana Merah yang menyimpan stupa makam Dalai Lama ke-5.

Mengunjungi Potala Palace ternyata tidak semudah datang lalu membeli tiket. Pada musim ramai, tiket harus dipesan sekitar 10 hari sebelumnya karena jumlah pengunjung dibatasi setiap hari.

Harga tiket kunjungan singkat pada musim panas dipatok 100 RMB atau sekitar Rp 250 ribu. Sementara paket kunjungan lengkap mencapai 200 RMB atau sekitar Rp 500 ribu. Saat musim dingin, tarifnya turun menjadi 100 RMB, bahkan pelajar dan pengunjung berusia di atas 60 tahun memperoleh potongan harga 50 persen.

Namun, yang paling membekas justru bukan harga tiket maupun kemegahan bangunannya.

Di hampir setiap aula, saya melihat para peziarah mengeluarkan lembaran uang pecahan 1 RMB hingga 10 RMB dari dompet mereka. Belakangan saya mengetahui banyak warga Tiongkok sengaja menukar saldo dompet digital menjadi uang tunai sebelum memasuki Potala Palace.

Lembaran uang itu kemudian diletakkan di altar atau dimasukkan ke dalam kotak donasi sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan syukur.

Selain itu, banyak peziarah membawa botol kecil berisi minyak mentega yang dituangkan ke lampu-lampu persembahan. 

Aroma mentega berpadu dengan harum dupa memenuhi ruangan. Suasananya begitu hening. Hampir tak terdengar suara selain langkah kaki para pengunjung dan lantunan doa yang diucapkan lirih.

Selama berada di dalam istana, setiap orang wajib berjalan mengikuti arah jarum jam. Tidak boleh berbalik arah maupun melawan arus.

Pemandu kami, Ping Ping, menjelaskan tradisi tersebut dikenal sebagai kora, yakni ritual mengelilingi objek suci sebagai bentuk penghormatan sekaligus meditasi.

"Berjalan searah jarum jam dipercaya mengikuti aliran energi spiritual dari patung, stupa, dan benda-benda suci. Sebaliknya, melawan arah dianggap tidak sopan karena mengganggu harmoni spiritual," jelasnya.

Aturan lain yang tak kalah ketat adalah larangan mengambil foto maupun video di dalam istana.

Awalnya saya mengira larangan itu semata-mata untuk melindungi koleksi museum. Ternyata, menurut Ping Ping, benda-benda suci di Potala Palace dipandang sebagai bagian dari kehidupan spiritual. Memotretnya diyakini dapat mengganggu kesakralan, sekaligus mengurangi kekhusyukan para peziarah yang sedang beribadah.

Tanpa kamera, saya justru merasa lebih mudah menikmati suasana. Tak ada orang sibuk mencari sudut terbaik untuk berfoto. Semua larut dalam keheningan.

Di tengah perjalanan, perhatian saya tertuju pada seorang rekan sesama peserta CIPCC asal Myanmar, That Wei San.

Beberapa kali ia berhenti di depan altar. Perlahan ia bersujud, merapatkan kedua telapak tangan, lalu menundukkan kepala cukup lama.

Saat itu saya sadar, ia tidak sedang menjalankan tugas sebagai jurnalis. Ia juga bukan wisatawan yang penasaran dengan sejarah Potala Palace. Ia datang sebagai seorang peziarah.

Bagi sebagian orang, Potala Palace adalah ikon wisata Tibet dan mahakarya arsitektur dunia. Namun, bagi jutaan umat Buddha, tempat itu merupakan ruang spiritual yang mungkin hanya sekali seumur hidup dapat mereka kunjungi. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tibet tiongkok china buleleng