Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
PEKERJA itu tampak suntuk. Di tangannya terdapat sebuah pinset. Sesekali ujungnya mencabut sehelai bulu halus yang terselip di sela-sela sarang burung walet. Gerakannya nyaris tak terdengar. Hanya ketelitian yang berbicara.
Saya sempat mengira proses membersihkan sarang burung walet dapat dilakukan dengan cepat atau bahkan dibantu mesin modern. Dugaan itu langsung runtuh ketika memasuki ruang produksi China-Malaysia Jinguyan (Guangxi) Biotechnology Co., Ltd di Kota Qinzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok.
Bersama jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik, saya menyaksikan bagaimana produk sarang walet bernilai tinggi justru lahir dari pekerjaan yang sepenuhnya mengandalkan kesabaran manusia.
Di dalam ruangan steril yang terang benderang, para pekerja duduk berjajar di depan meja stainless steel. Seluruh tubuh mereka tertutup pakaian kerja berwarna putih, lengkap dengan masker dan sarung tangan. Kepala mereka terus menunduk, mata tak lepas dari sarang walet yang berada di hadapan.
Satu demi satu bulu halus, serat, hingga kotoran yang menempel dicabut menggunakan pinset berukuran kecil. Tidak ada gerakan tergesa-gesa. Mereka bekerja perlahan, seolah takut merusak setiap lengkungan sarang yang bernilai mahal itu.
Saya sempat membayangkan seorang pekerja mampu membersihkan puluhan sarang dalam sehari. Kenyataannya jauh dari perkiraan.
Dalam waktu kerja normal selama delapan jam, seorang pekerja rata-rata hanya mampu membersihkan sekitar 10 sarang burung walet.
Angka itu terdengar sangat sedikit. Namun setelah melihat langsung tingkat kerumitannya, jumlah tersebut justru terasa masuk akal. Sedikit saja salah menarik bulu atau menekan struktur sarang, bentuk alaminya bisa rusak. Padahal, bentuk itulah yang menentukan nilai jual.
Dari ruangan sederhana itu, perjalanan produk premium tersebut dimulai.
Sarang walet yang telah bersih kemudian melewati sejumlah tahapan produksi sebelum dipasarkan. Sebagiannya dijual dalam bentuk utuh, sementara sebagian lainnya diolah menjadi minuman siap konsumsi yang dikemas dalam botol elegan.
Saat permintaan pasar meningkat, fasilitas produksi itu mampu menghasilkan sekitar 4.000 botol minuman sarang walet setiap hari. Harga jualnya pun tidak murah. Satu botol dipasarkan sekitar 60 yuan, atau setara Rp150 ribu.
Namun Qinzhou bukan sekadar lokasi sebuah pabrik.
Kota pelabuhan di kawasan Teluk Beibu itu kini berkembang menjadi salah satu pusat pengolahan sekaligus distribusi sarang burung walet terbesar di wilayah barat daya Tiongkok.
Letaknya yang strategis menjadikan Qinzhou sebagai pintu masuk komoditas sarang walet dari negara-negara Asia Tenggara menuju pasar Tiongkok yang memiliki permintaan sangat tinggi.
Long Hui, pendamping sekaligus penerjemah dari China-Malaysia Jinguyan (Guangxi) Biotechnology Co., Ltd, menjelaskan bahan baku yang mereka olah hingga kini masih didominasi impor dari Malaysia.
"Untuk saat ini produk kami dipasarkan di dalam negeri karena mayoritas konsumennya memang berada di Tiongkok. Impor masih didominasi dari Malaysia karena kualitasnya sangat baik," ujarnya.
Meski demikian, perusahaan mulai membuka peluang kerja sama dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.
"Kami juga sedang menjajaki peluang impor dari Vietnam, Kamboja, termasuk Indonesia," tambahnya.
Pernyataan itu langsung menarik perhatian saya.
Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu produsen sarang burung walet terbesar di dunia. Jika penjajakan tersebut berlanjut menjadi kerja sama dagang, peluang ekspor komoditas walet Indonesia ke pasar Tiongkok tentu akan semakin terbuka lebar.
Popularitas sarang walet ternyata tidak berhenti di Tiongkok.
Siti Zanariah Binti Nor Zin, jurnalis asal Malaysia yang ikut dalam rombongan CIPCC, bercerita bahwa sarang walet juga telah lama menjadi bagian dari budaya konsumsi masyarakat di negaranya.
"Di Malaysia biasanya dijadikan jus, kemudian dikonsumsi. Itu cara paling murah untuk menikmatinya," katanya.
Di Tiongkok, sarang walet bahkan jauh melampaui nilai ekonominya. Bagi banyak keluarga, hidangan berbahan sarang walet menjadi simbol doa dan harapan yang hampir selalu hadir dalam berbagai perayaan penting, terutama Tahun Baru Imlek.
Wang Anqui, warga Tiongkok yang saya temui dalam kesempatan berbeda, mengatakan banyak keluarga rela mengeluarkan biaya besar demi menyajikan hidangan tersebut.
"Hidangan sarang burung walet sangat diminati. Meski harganya mahal, saat perayaan Imlek banyak keluarga berusaha menyediakannya karena dianggap melambangkan harapan akan rezeki dan keberuntungan pada tahun yang akan datang," ujar perempuan yang akrab disapa Claire itu.
Selain menjadi simbol kemakmuran, masyarakat Tiongkok juga meyakini sarang walet memiliki berbagai manfaat kesehatan, terutama bagi kalangan lanjut usia.
Kunjungan ke fasilitas pengolahan di Qinzhou memberi saya satu pelajaran sederhana. Di tengah dunia industri yang semakin mengandalkan robot dan otomatisasi, harga mahal sarang burung walet ternyata tidak hanya ditentukan oleh kelangkaan bahan bakunya.
Ada ketelitian yang nyaris tak terlihat. Ada kesabaran yang berlangsung berjam-jam. Dan ada sentuhan tangan manusia yang membuat setiap helai sarang tetap utuh sebelum akhirnya berubah menjadi sebotol minuman premium. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng