RadarBuleleng.id - Kondisi air di Bali kini tengah menghadapi ancaman serius. Sebab Bali disebut tengah krisis air bersih.
Hal itu terungkap setelah Yayasan IDEP Selaras Alam dan Politeknik Negeri Bali (PNB) melakukan penelitian dengan kondisi air bersih di Bali.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Bali sudah mengalami penurunan ketersedian air bawah tanah.
Project Manager Bali Water Protection IDEP Foundation, Putu Bawa Usadi mengatakan, hasil riset pada tahun 2018 menunjukkan bahwa Bali mengalami krisis air.
Baca Juga: Pariwisata Berkembang Pesat, Bali Selatan Terancam Krisis Air Bersih
Temuan IDEP dan PNB, ketersedian dan kebutuhan air tidak seimbang. Kebutuhan air lebih tinggi ketimbang ketersediaan air.
Salah satu penyebabnya adalah lonjakan pariwisata Bali yang meningkat sebesar 130 persen dari tahun 2019 sampai sekarang ini. Sehingga menekan sumber daya air setempat.
Dari hasil penelitian , perusahaan air minum di Bali hanya mampu memenuhi kebutuhan air sebesar 40-50 persen.
"Kondisi ini membuat memaksa 50-60 persen masyarakat dan industri pariwisata tergantung dengan air bawah tanah," kata Bawa.
Baca Juga: Pipa Air Bersih Putus di Desa Sudaji Buleleng, Yonif Raider 900 Bantu Suplai Air
Tanda-tanda krisis air bersih semakin nyata, karena terjadi intrusi air laut. Bahkan kesulitan air bersih di kawasan perkotaan sudah menjadi hal jamak.
"Artinya apa, hasil penelitian itu sudah menunjukkan Bali mulai terjadi ketimpangan air. Antara ketersedian dengan kebutuhan air tidak seimbang saat ini," bebernya.
Sementara itu Dosen Politeknik Negeri Bali, Prof Lilik Sudiajeng mengungkapkan krisis air bersih di Bali terjadi karena jumlah penduduk yang melakukan eksploitasi air bawah tanah semakin banyak.
Ditambah lagi pertumbuhan akomodasi pariwisata di Bali sangat pesat, sehingga berdampak terhadap daerah resapan air yang berkurang secara signifikan.
"Bali juga terancam soal kualitas air. Karena tercemarnya air pertanian akibat penggunaan pupuk kimia, peternakan, dan air tercemar dari industri pariwisata," ujarnya.
Hasil penelitian menunjukkan, krisis air terjadi di seluruh kabupaten/kota di Bali, termasuk di Nusa Penida.
Penelitian Menunjukkan adanya hasilnya indikasi terjadi eksploitasi air tanah berlebihan, sehingga ada tanda-tanda krisis air itu terjadi.
"Masalah krisis air ini pada umumnya berada di daerah pariwisata yang dikembangkan begitu pesat," ungkapnya.
Di sisi lain, Yayasan IDEP bersama masyarakat di Tabanan melakukan penanaman pohon atau reboisasi di Banjar Dinas Bugbugan, Desa Senganan, Penebel.
Sebanyak 200 pohon tanaman imbuhan hutan seperti durian dan kopi ditanam areal kawasan kebun jeruk Tabanan orange farm, kemarin (26/6/2024). (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya