TEJAKULA, RadarBuleleng.id - Peristiwa dramatis terjadi di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Seorang petani lontar mendadak mengalami vertigo saat sedang memanjat pohon lontar.
Petani itu adalah Nyoman Panggih, 63, warga Banjar Dinas Bulakan, Desa Tembok. Sehari-hari ia kerap memanjat pohon lontar untuk menderas tuak.
Pada Kamis (3/7/2025), seperti biasa Panggih memanjat tuak di kebun miliknya. Tadinya ia berencana hendak memanen tuak.
Apes saat berada di puncak, penyakit vertigonya kumat. Dalam kondisi tersebut, ia berupaya berpegangan agar tak sampai jatuh dari pohon lontar.
“Syukurnya masih bisa pegangan. Sempat teriak minta tolong dan didengar warga sekitar,” ungkap Kepala Desa Tembok, Dewa Ketut Willy Asmawan.
Warga pun melapor ke aparat desa. Tadinya pihak desa berencana meminta bantuan kepada petugas pemadam kebakaran dan tim SAR.
Tapi karena kondisi darurat dan memerlukan pertolongan cepat, warga berinisiatif melakukan penyelamatan secara mandiri.
Sebanyak dua orang warga yang terbiasa menaiki pohon, memilih memanjat pohon lontar. Mereka membawa kandang babi yang terbuat dari besi.
Panggih kemudian dimasukkan ke dalam kandang tersebut. Selanjutnya ia diturunkan secara perlahan dari pohon lontar yang memiliki ketinggian sekitar 20 meter.
Di dekat lokasi kejadian, tim dari Poskesdes Desa Tembok sudah siaga melakukan pemeriksaan. “Ambulance juga sudah siap. Sempat dipasangi oksigen, ada proses observasi, sekitar sejam sudah normal,” ujarnya.
Lebih lanjut Dewa Willy mengatakan, pihaknya meminta agar Nyoman Panggih untuk sementara berhenti memanjat pohon lontar. Sampai kondisi kesehatannya benar-benar prima.
“Karena ada beberapa kejadian warga kami yang jatuh dari pohon. Ada yang terpeleset, ada yang kelelahan,” jelas Willy.
Pihaknya kini mendorong agar para pekerja resiko tinggi melindungi diri menggunakan asuransi tenaga kerja,
Para pemanjat pohon dan nelayan didorong untuk mengikuti program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja (BP Jamsostek). Hingga kini, ada lebih dari 200 orang yang mengikuti program tersebut.
“Karena kalau kondisi sedang bekerja, ada kecelakaan, tidak bisa ditanggung BPJS Kesehatan. Jadi kami dorong mereka yang resiko tinggi, ikut Jamsostek,” demikian Dewa Willy. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya