Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dari Pinset ke Botol Premium, Menyusuri Perjalanan Sarang Walet di Tiongkok

Eka Prasetya
Penulis: Eka Prasetya❯
PRODUK PREMIUM: Proses penegcekan kualitas minuman sarang burung walet di salah satu pabrik yang ada di Provinsi Guangxi, Tiongkok. Produk tersebut merupakan produk premium di Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
PRODUK PREMIUM: Proses penegcekan kualitas minuman sarang burung walet di salah satu pabrik yang ada di Provinsi Guangxi, Tiongkok. Produk tersebut merupakan produk premium di Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

Advertisement

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

PEKERJA itu tampak suntuk. Di tangannya terdapat sebuah pinset. Sesekali ujungnya mencabut sehelai bulu halus yang terselip di sela-sela sarang burung walet. Gerakannya nyaris tak terdengar. Hanya ketelitian yang berbicara.

Advertisement

Saya sempat mengira proses membersihkan sarang burung walet dapat dilakukan dengan cepat atau bahkan dibantu mesin modern. Dugaan itu langsung runtuh ketika memasuki ruang produksi China-Malaysia Jinguyan (Guangxi) Biotechnology Co., Ltd di Kota Qinzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok.

Bersama jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik, saya menyaksikan bagaimana produk sarang walet bernilai tinggi justru lahir dari pekerjaan yang sepenuhnya mengandalkan kesabaran manusia.

Di dalam ruangan steril yang terang benderang, para pekerja duduk berjajar di depan meja stainless steel. Seluruh tubuh mereka tertutup pakaian kerja berwarna putih, lengkap dengan masker dan sarung tangan. Kepala mereka terus menunduk, mata tak lepas dari sarang walet yang berada di hadapan.

Advertisement

Satu demi satu bulu halus, serat, hingga kotoran yang menempel dicabut menggunakan pinset berukuran kecil. Tidak ada gerakan tergesa-gesa. Mereka bekerja perlahan, seolah takut merusak setiap lengkungan sarang yang bernilai mahal itu.

Saya sempat membayangkan seorang pekerja mampu membersihkan puluhan sarang dalam sehari. Kenyataannya jauh dari perkiraan.

Dalam waktu kerja normal selama delapan jam, seorang pekerja rata-rata hanya mampu membersihkan sekitar 10 sarang burung walet.

Angka itu terdengar sangat sedikit. Namun setelah melihat langsung tingkat kerumitannya, jumlah tersebut justru terasa masuk akal. Sedikit saja salah menarik bulu atau menekan struktur sarang, bentuk alaminya bisa rusak. Padahal, bentuk itulah yang menentukan nilai jual.

Advertisement
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng

Artikel Terkait

Mengunjungi Pelabuhan Peti Kemas di Tiongkok. Tanpa Pengemudi, Tanpa Operator Crane

Mengunjungi Pelabuhan Peti Kemas di Tiongkok. Tanpa Pengemudi, Tanpa Operator Crane

Tak ada sopir truk maupun operator crane, tetapi ribuan kontainer tetap bergerak. Catatan perjalanan dari Smart Port Innovation Center di Pelabuhan Teluk Beibu, Guangxi, yang memperlihatkan wajah pelabuhan masa depan

Belajar dari 4.000 Tahun Peradaban Tiongkok Lewat Sepotong Tembikar Nixing

Belajar dari 4.000 Tahun Peradaban Tiongkok Lewat Sepotong Tembikar Nixing

Tembikar Nixing di Guangxi, Tiongkok, bukan sekadar kerajinan tanah liat. Warisan budaya berusia 4.000 tahun ini kini mendunia, bahkan menjadi cinderamata kenegaraan dan diekspor hingga Indonesia.

Dari Bukit Tandus Menjadi Hutan Kota, Menyusuri Jejak Penghijauan Ambisius Pemerintah Tiongkok di Tibet

Dari Bukit Tandus Menjadi Hutan Kota, Menyusuri Jejak Penghijauan Ambisius Pemerintah Tiongkok di Tibet

Nanshan Park di Lhasa menjadi bukti ambisi Tiongkok menghijaukan Tibet. Dari bukit tandus, kawasan ini berubah menjadi hutan kota dengan lebih dari satu juta pohon dan menjadi ruang publik favorit warga.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer