Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Hidup Sebagai Minoritas di Bali, Begini Cerita Tokoh Umat Islam di Desa Pegayaman, Buleleng

Eka Prasetya • Jumat, 8 Maret 2024 | 01:27 WIB

 

Pertunjukan tari Hikayat Awi dari Sanggar Seni al-Badar Jembrana, Bali di acara Ngaji Budaya Kemenag (6/3/2024).
Pertunjukan tari Hikayat Awi dari Sanggar Seni al-Badar Jembrana, Bali di acara Ngaji Budaya Kemenag (6/3/2024).

RadarBuleleng.id - Umat Islam menjadi kelompok masyarakat minoritas yang ada di Pulau Bali.

Mayoritas penduduk di Pulau Bali merupakan pemeluk agama Hindu. Dari 3.890.757 orang penduduk di Provinsi Bali, sebanyak 3.247.283 orang diantaranya beragama Hindu.

Sementara penduduk yang memeluk agama Islam hanya sebanyak 520.244 orang, atau sekitar 13,3 persen dari total penduduk di Bali.

Meski berstatus sebagai kelompok minoritas, umat muslim di Bali masih bisa melaksanakan ibadah mereka dengan tenang.

Hingga kini tidak pernah terjadi pelarangan ibadah di tempat terbuka, terutama saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Umat Islam juga relatif mudah mendirikan rumah ibadah. Baik itu yang berupa mushola maupun masjid.

Pengalaman itu diungkap tokoh umat Islam asal Desa Pegayaman, Buleleng, Ketut Muhammad Suharto,

Pengalaman itu ia ceritakan pada acara Ngaji Budaya yang diselenggarakan oleh Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama di Denpasar, Bali pada Rabu (6/3/2024) malam. 

Ngaji Budaya itu bukan sekedar formalitas. Namun menjadi bagian penting dalam mewujudkan praktik Moderasi Beragama di masyarakat. 

Suharto mengatakan, umat Islam di Bali, atau paling tidak di Buleleng bisa melakukan ibadah dengan nyaman.

"Umat beragama sama-sama tidak ada yang merasa terganggu dan diganggu. Semuanya nyaman dan saling toleransi," ujarnya.

Umat Islam juga banyak menyerap budaya lokal Bali. Seperti yang terjadi di Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng.

Contoh sederhana saja, nama Ketut yang disandang oleh Suharto merupakan bentuk akulturasi budaya yang dilakukan leluhurnya.

Selama ini nama Wayan, Putu, Made, Kadek, Nengah, Nyoman, Komang, dan Ketut, identik dengan umat Hindu.

Menurutnya semua adat tradisi yang berkembang di Pegayaman Bali adalah buah hasil filterisasi pakem standar dasar. 

"Dasarnya adalah Adat Berpangku Syara' bersandar Kitabullah. Dan muncullah nilai–nilai akulturasi berkembang sampai sekarang," terangnya.

Sementara itu Guru Besar Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, Prof. Made Saihu mengungkapkan bahwa budaya memengaruhi cara individu memahami dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

"Ekspresi budaya mendorong masyarakat meningkatkan kesadaran akan toleransi dan kerukunan yang mendukung terwujudnya moderasi beragama," kata Saihu. 

Menurutnya budaya punya peran penting dalam mewujudkan praktik moderasi beragama di Indonesia.

Budaya menjadi  pengawal toleransi, sehingga dapat menekan potensi munculnya konflik berbasis agama. 

Budaya juga perekat komunitas di masyarakat. Selain itu budaya dapat mengubah perspektif dan memecah stereotip terkait agama.

 "Tantangan modern menuntut bentuk perlindungan dan pelestarian budaya yang baru. Keterlibatan semua pihak diperlukan untuk memperkuat budaya sebagai pilar moderasi beragama," papar penulis buku Merawat Pluralisme Merawat Indonesia itu.

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam pada Kementerian Agama, Wida Sukmawati mengatakan , moderasi beragama selaras dengan nilai kemanusiaan yang penuh dengan  kasih sayang.

"Pada akhirnya moderasi sangat menjunjung  kemanusiaan bagi orang beragama bahkan orang yang tidak beragama sekalipun," katanya. (*)

Editor : Eka Prasetya
#pegayaman #muslim #minoritas #islam #buleleng