SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Film berjudul Jayaprana Layonsari karya sutradara asal Buleleng, akan menghiasi layar lebar di jaringan bioskop nasional, yakni Bioskop XXI.
Film tersebut digarap oleh Putu Kusuma Wijaya selaku sutradara dan Putu Satria Kusuma selaku sutradara sekaligus penulis naskah.
Dalam penggarapan film tersebut, Panitia Film Bali juga ikut terlibat sebagai produser.
Film Jayaprana Layonsari sebenarnya sudah sempat tayang di layar lebar pada bulan Mei 2023 lalu. Hanya saja penayangannya sangat terbatas.
Kini film tersebut dipasarkan dengan lebih luas lewat jaringan bioskop XXI. Bioskop itu dikenal sebagai pemilik jaringan terluas dan terpopuler di Indonesia.
Rencananya film tersebut akan premiere di XXI pada Kamis (28/3/2024) mendatang. Tercatat ada 5 bioskop XXI yang akan menayangkan film garapan putra Buleleng tersebut.
Diantaranya di Mega Bekasi, Balai Kota Tangerang, dan Epicentrum Lombok. Khusus di Bali, film akan diputar di 4 titik. Yakni Level 21 dan Living World.
Sementara 2 bioskop lainnya yakni Cinepolis Lippo Kuta dan Cinepolis Jimbaran, Badung.
Film Jayaprana Layonsari diketahui digarap pada awal 2023 silam. Film itu mengangkat kisah Jayaprana Layonsari, kisah percintaan klasik dengan latar belakang Bali Utara.
Berdasarkan cerita rakyat yang beredar, Raja Kalianget mengangkat seorang rakyat jelata sebagai anak. Anak tersebut adalah Jayaprana.
Raja Kalianget membesarkan Jayaprana hingga menjadi seorang ksatria yang tampan dan gagah.
Raja kemudian meminta agar Jayaprana segera mempersunting istri. Jayaprana akhirnya memilih Layonsari, putri seorang tokoh adat di Kalianget.
Kecantikan Layonsari ternyata membuat raja jatuh hati. Sang Raja kemudian menyusun siasat agar Jayaprana mati. Caranya, memerintahkan Jayaprana melawan perompak di wilayah Bali Barat.
Saat itu Jayaprana diiringi oleh Prabu Sawunggaling, yang merupakan patih kepercayaan Raja Kalianget.
Begitu sampai di kawasan hutan, Prabu Sawunggaling menjelaskan pada Jayaprana bahwa dia harus menjalankan perintah raja. Jayaprana pun tidak bisa menolak dan mempersilahkan Sawunggaling menusuk dirinya.
Kabar kematian Jayaprana kemudian didengar oleh Layonsari. Wanita yang dirundung kesedihan itu kemudian memilih bunuh diri.
Raja yang kehilangan anak dan gagal mendapatkan istri juga ikut bersedih hingga ikut bunuh diri.
Penulis naskah, Putu Satria Kusuma menuturkan, ia sebenarnya telah melakukan riset terkait kisah Jayaprana Layonsari sejak beberapa tahun silam.
Riset itu dia lakukan di Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Buleleng. Di desa itu kini terletak Pura Jayaprana
Kisah itu kemudian diangkat dalam bentuk pementasan teater.
“Dari pementasan teater itu, produser tertarik mengangkat naskah saya ke layar lebar. Sehingga lahir film ini,” kata Putu Satria di Singaraja, Senin (25/3/2024).
Satria menuturkan kisah Jayaprana Layonsari yang ia angkat di layar lebar berbeda dengan kisah yang jamak didengar masyarakat.
“Biasanya cerita itu hitam atau putih. Jahat atau baik. Tapi kami buat menjadi abu-abu. Semua berdebat menjadi yang paling positif,” ujarnya.
Dia pun menggandeng Putu Kusuma Wijaya sebagai sutradara. Kusuma Wijaya merupakan alumnus Akademi Film Amsterdam. Kusuma Wijaya juga sudah malang melintang di dunia televisi. Dia juga beberapa kali terlibat dalam penggarapan film layar lebar.
Selama proses penggarapan, Putu Kusuma Wijaya mengatakan hal yang paling menantang adalah menemukan aktor yang layak.
Lantaran pihaknya ingin mengangkat unsur kelokalan Bali, khususnya Buleleng.
“Dialog-dialog yang kami gunakan juga menggunakan dialek khas Buleleng. Kami berusaha seotentik mungkin,” kata Kusuma Wijaya. (*)
Editor : Eka Prasetya