RadarBuleleng.id - Peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau merupakan momen yang membuat para petani was-was. Khususnya petani kakao.
Pada momen peralihan musim, potensi serangan hama mengalami peningkatan. Apalagi kakao menjadi komoditas yang sangat rentan serangan hama.
Seperti di Kabupaten Tabanan. Petani kini mulai khawatir serangan hama. Sebab bila hama menyerang, buah kakao akan langsung kering dan gagal berkembang.
Penyuluh Tingkat Muda pada Dinas Pertanian (Distan) Tabanan, I Ketut Yuli Aryani menegaskan musim kemarau yang diselingi hujan memang berpotensi meningkatkan gangguan pada tanaman.
Gangguan yang paling jamak terjadi adalah jamur. Namun ada juga ancaman buah busuk dan kanker batang.
"Peralihan musim ini memang perlu diantisipasi, agar tanaman kakao mampu berproduksi baik," ungkap Yuli, kemarin (9/7/2024).
Menurutnya petani bisa melakukan langkah antisipasi dengan mudah. Seperti memangkas tanaman, memotong, dan mengubur buah yang busuk.
Selain itu petani juga harus rutin melakukan pemupukan guna menambah nutrisi dan produktivitas pada tanaman.
“Masalahnya, petani biasanya baru melakukan perawatan tanaman ketika harga panen mahal. Sedangkan kalau harga turun, cenderung dibiarkan tanamannya," katanya.
Asal tahu saja, kini luasan tanaman kakao di Tabanan mencapai 4.530 hektar. Sentra produksi kakao di Kabupaten Tabanan menyebar di beberapa kecamatan.
Yakni, Kecamatan Tabanan dengan luasan mencapai 55 hektar, Selemadeg Barat mencapai 1,403 hektar, Selemadeg 529 hektar, Selemadeg Timur mencapai 500 hektar.
Selanjutnya Kecamatan Pupuan mencapai 918 hektar, Penebel mencapai 935 hektar, Kerambitan 61 hektar, Baturiti 72 hektar, Kediri 3 hektar, dan di Kecamatan Marga sebesar 155 hektar. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya