Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Peristiwa Batu Menggelinding Disertai Longsor, 4 Orang Tewas, 2 Korban Jalani Operasi

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Selasa, 21 Januari 2025 | 14:05 WIB
Jenazah korban tanah longsor disertai jatuhnya batu besar dibawa ke rumah duka dari IPJ RSUD Klungkung menggunakan ambulans, Senin (20/1) kemarin.
Jenazah korban tanah longsor disertai jatuhnya batu besar dibawa ke rumah duka dari IPJ RSUD Klungkung menggunakan ambulans, Senin (20/1) kemarin.

radarbuleleng.jawapos.com- I Nyoman Mudiana asal Banjar Timbul, Desa Pesinggahan yang merupakan 1 dari 8 korban peristiwa tanah longsor menimpa pasraman milik Jero Putu Wiranata di Dusun Cempaka, Desa Pikat, Kecamatan Dawan akhirnya ditemukan, Senin (20/1) sekitar pukul 07.40.

Mudiana ditemukan dalam kondisi meninggal dunia tertimbun pohon besar yang tumbang tertimpa longsoran batu.

Jenazah Mudiana pun kemudian dibawa ke Instalasi Pemulasaraan Jenazah (IPJ) RSUD Klungkung.

Yang mana, di instalasi tersebut terdapat korban lainnya yakni jenazah I Wayan Nata asal Banjar Kloda, Desa Pesinggahan, I Nengah Mertayasa, warga Banjar Timbul, Desa Pesinggahan, dan I Ketut Surata, asal Dusun Glogor Desa Pikat yang juga merupakan korban peristiwa tersebut.

Sekitar pukul 10.23, satu per satu jenazah korban dibawa ke rumah duka menggunakan ambulans.

Selain korban meninggal, Pranata Humas RSUD Klungkung, I Gusti Putu Widiyasa mengungkapkan, RSUD Klungkung juga menangani tiga korban luka peristiwa tersebut.

Di antaranya I Ketut Mumbul asal Desa Sading, Badung, I Gusti Made Ariasa asal Badung dan I Wayan Kicen asal Desa Pesinggahan.

Di mana untuk pasien atas nama Kicen sudah pulang, sementara Mumbul dan Ariasa masih menjalani perawatan di RSUD Klungkung.

”Korban atas nama Mumbul dan Ariasa menjalani operasi hari ini. Itu karena ada yang mengalami patah kaki, ada pula yang mengalami patah tangan,” jelasnya.

Sementara itu di kediaman Mudiana, tampak sanak keluarga sangat berduka.

Istri Mudiana, Ni Nengah Rengkig pun tampak menangis mendapat kenyataan sang suami menjadi korban meninggal dalam peristiwa tersebut.

Sebelum musibah terjadi, Mudiana sempat meminta canang kepada Rengkig.

Namun Rengkig tidak mengetahui suaminya hendak ke mana dan bersama siapa. ”Tidak bilang mau ke mana,” kenang Rengkig.

Rengkig menuturkan Mudiana yang merupakan ayah dari tiga orang anak itu tidak pernah bercerita terkait kegiatan spiritual di Desa Pikat yang diikuti.

Sehingga Rengkig tidak mengetahui tentang kronologi pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan tersebut bisa mengikuti kegiatan spiritual di pasraman milik Jero Putu Wiranata itu.

”Rencananya akan dikubur karena masih ada keluarga yang dikubur (belum diaben, Red),” tandasnya.

Peristiwa naas tersebut didengar Kapolda Bali Inspektur Jenderal Polisi Daniel Adityajaya yang kemudian meninjau dan mengunjungi para korban dan keluarganya untuk mengetahui keadaan terkini pasca kejadian bencana alam longsor yang terjadi pada Minggu lalu (19/1) pukul 18.10.

Dalam kesempatan itu, Adityajaya menyampaikan belasungkawanya kepada korban beserta keluarga. Besar harapannya peristiwa serupa tidak terluang kembali.

”Semoga dari pihak keluarga bisa tabah menghadapi cobaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kapolda juga mengapresiasi  kerja keras dan dedikasi semua pihak yang sudah dengan cepat melaksanakan evakuasi korban dan penanganan penanggulangan bencana alam yang terjadi.

Sehingga beberapa korban masih ada yang bisa diselamatkan.

Kepala Pelaksana BPBD Klungkung, I Putu Widiada mengatakan, secara umum area tersebut masih sangat rawan dengan adanya longsor susulan.

Mengingat di atas bukit ada beberapa batuan besar serta curah hujan yang masih tinggi. Diharapkan beberapa warga yang bermukim di area tersebut dapat mengungsi sementara.***

Editor : Donny Tabelak
#longsor #kapolda bali #tertimpa batu #pasraman