SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Gempa bumi mengguncang sebagian wilayah di Provinsi Bali, pada Kamis (25/9/2025) sore.
Gempa dirasakan di wilayah Kabupaten Buleleng. Guncangan juga turut dirasakan di Kabupaten Jembrana dan Tabanan.
Berdasarkan catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi yang terjadi pada Kamis sore, berkekuatan 5,7 skala richter.
Gempa terpusat 46 kilometer arah timur laut Banyuwangi. Tepatnya di sekitar kawasan Bajulmati, Banyuwangi. Lokasi itu cukup dekat dengan Kabupaten Buleleng.
Hingga Kamis sore tidak ada laporan kerusakan yang terjadi akibat gempa bumi tersebut.
Musibah gempa bumi juga dipelajari oleh para leluhur umat Hindu di Bali. Fenomena gempa bumi tercatat dalam Lontar Palalindon.
Baca Juga: Kasus Curanmor Bali: Kepincut Motor Antik, Pemuda Ini Nekat Curi Sepeda Motor di Klungkung
Lontar tersebut mengulas secara khusus dampak yang berpotensi terjadi, apabila gempa mengguncang pada sasih-sasih tertentu.
Penelitian terkait lontar Palalindon dilakukan oleh I Made Giri Nata yang dosen Filsafat Hindu, I Gede Rudia Putra yang juga mantan Rektor IHDN Denpasar, serta I Gusti Made Widya Sena yang dosen Teologi Hindu.
Adapun penelitian itu dipublikasikan dalam karya ilmiah berjudul “Linuh Dalam Teks Palalindon: Perspektif Sosiologis Umat Hindu Bali”.
Menurut para akademisi, Lontar Palindon membahas secara khusus dampak yang berpotensi terjadi akibat gempa bumi pada sasih tertentu.
Gempa bumi yang terjadi, dapat memberikan pengaruh positif atau negatif terhadap seluruh isi alam semesta .
Dalam sistem penanggalan kalender Bali, gempa bumi yang terjadi pada Kamis (25/9/2025), masuk dalam penanggalan Wraspati Kliwon Kapat.
Merujuk lontar, gempa yang terjadi pada rahina Wraspati atau hari Kamis, diramalkan sebagai berikut:
tekaning lindu, sang prabhu pageh kretining nagara, wewalungan kebo sampi kweh pejah, asing tinandur rusak, kamaranan, dening tikus wenang acaru ring sadesa-desa.
Jika diterjemahkan, ramalan tersebut bermakna seperti ini:
Terjadi gempa. Pemimpin waspada dalam memimpin negara. Ternak kerbau dan sapi banyak mati, segala yang ditanam oleh petani rusak, banyak hama, misalnya hama tikus. Wajib melaksanakan upacara caru di semua wilayah akibat kutukan Sang Samirana.
Selain itu, gempa yang terjadi pada pancawara kliwon juga memiliki makna yang khusus.
Dalam lontar tertulis sebagai berikut: Tekaning lindu, Bhatara Siwa mayoga, laraning wong baya sarat makewuh, kena upa wisia. Bhatari ring dalem, wong rare akweh pejah, mutah mising, wong kapegatan sih, wenang acaru ring lebuh suwung-suwung.
Jika diterjemahkan, lontar tersebut bermakna sebagai berikut:
Terjadi gempa, Bhatara Siwa beryoga. Banyak orang kesulitan, terkena malapetaka. Bhatari di Pura Dalem, bayi banyak yang meninggal karena muntah berak, orang kehilangan kasih sayang. Patut melaksanakan upacara caru di pintu rumah masing-masing.
Lontar juga mencatat makna gempa yang terjadi pada sasih kapat atau bulan keempat dalam kalender Bali.
Dalam lontar tertulis sebagai berikut: tekaning lindu, Bhatara Brahma sira mayoga. Rahayu ikan rat tahun dadi, banyu akweh mili, gring makwehsasab mrana, kweh wong pejah.
Tulisan tersebut bermakna: Bila kapat datangnya linuh, Bhatara Brahma beryoga, dunia selamat, air banyak mengalir. Penyakit wabah berjangkit, banyak orang meninggal.
Merujuk ramalan dalam Lontar Palalindon, gempa bukan hanya dilihat sebagai cerminan kondisi alam dan spiritual.
Ketika gempa menyebabkan kerusakan alam (tanaman dan ternak mati) dan sosial (banyak orang menderita), hal itu dianggap sebagai kutukan atau tanda ketidakseimbangan.
Untuk mengembalikan keseimbangan, diperlukan tindakan spiritual berupa melaksanakan upacara Caru.
Upacara dapat dilakukan di rumah, apabila dampak yang dirasakan bersifat personal. Atau bahkan dilakukan di seluruh wilayah jika kerusakan meluas.
Mengacu lontar, gempa bukan hanya bencana, tetapi juga sebuah peringatan untuk memperbaiki hubungan antara manusia dengan alam.
Hal itu hanya berupa fenomena yang tercatat dalam Lontar Palalindon sebagaimana diyakini oleh masyarakat Hindu di Bali. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya