Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Musim Lalat Kembali Teror Kintamani, Limbah Kotoran Ayam Jadi Pemicu Utama

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Selasa, 6 Januari 2026 | 16:02 WIB

 

ilustrasi lalat
ilustrasi lalat

RadarBuleleng.id – Serbuan jutaan lalat kembali menjadi “musim tahunan” di wilayah Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. 

Fenomena ini hampir selalu muncul setiap memasuki Desember hingga Januari, bertepatan dengan awal musim hujan, dan kerap memicu keluhan warga hingga pelaku pariwisata.

Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma mengungkapkan, salah satu penyebab utama ledakan populasi lalat adalah penggunaan limbah ternak, terutama kotoran ayam pedaging, yang langsung ditebarkan ke lahan pertanian tanpa proses pengolahan.

“Seharusnya limbah ternak itu diolah atau difermentasi terlebih dahulu. Tapi karena ingin praktis, petani langsung menaburkannya. Itu yang mengundang lalat,” ujar Sarma.

Menurutnya, petani enggan melakukan fermentasi karena membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya lebih besar, dibandingkan penggunaan kotoran ternak secara langsung. Akibatnya, persoalan lalat terus berulang dari tahun ke tahun.

Dinas PKP Bangli mengaku telah melakukan berbagai upaya penanganan. Mulai dari edukasi melalui penyuluh pertanian di desa-desa, hingga bimbingan teknis pengolahan pupuk organik. 

Selain itu, pemerintah juga memfasilitasi penyaluran pupuk organik bersubsidi dari Provinsi Bali.

“Upaya ini setidaknya sudah mengurangi penggunaan limbah ternak, meskipun belum sepenuhnya bisa dihilangkan,” jelasnya.

Sarma menyebut, kebutuhan pupuk organik di Bangli tergolong tinggi. Sekitar 70 persen lahan pertanian Bangli berada di Kintamani, dengan karakteristik lahan kering. 

Wilayah ini menjadi sentra tanaman semusim seperti sayuran, jeruk, cabai, tomat, dan komoditas hortikultura lainnya.

“Lahan di Kintamani membutuhkan pengelolaan intensif. Dalam setahun bisa tiga kali pengolahan lahan, dengan pemupukan dua kali, dan sebagian besar masih mengandalkan limbah ternak,” paparnya.

Terkait keluhan dari pelaku pariwisata akibat serbuan lalat, Sarma mengaku memahami kondisi tersebut. Namun, ia menegaskan pemerintah berada pada posisi dilematis.

“Kalau penggunaan limbah ternak kami larang, petani akan kesulitan berproduksi. Padahal banyak kebutuhan sayur-mayur di pasar, termasuk Pasar Badung, berasal dari Kintamani,” tandasnya.

Ia menegaskan, solusi terbaik saat ini adalah meningkatkan kesadaran petani agar mengolah limbah ternak dengan benar, tanpa mengorbankan produktivitas pertanian yang menjadi penopang ekonomi daerah. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #lalat #kintamani #musim hujan #pupuk organik #pertanian #pariwisata #ternak #populasi #bangli #limbah ternak #ayam #kotoran #limbah