Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Wacana Bus Listrik Singaraja–Denpasar, Akademisi Unud: Perlu Uji Coba dan Kajian Penumpang

Marsellus Pampur • Senin, 19 Januari 2026 | 13:28 WIB

 

BUS LISTRIK: Gubernur Bali, Wayan Koster (kiri) saat menerima hibah bus listrik dari Korea Selatan.
BUS LISTRIK: Gubernur Bali, Wayan Koster (kiri) saat menerima hibah bus listrik dari Korea Selatan.

RadarBuleleng.id - Gubernur Bali, Wayan Koster mewacanakan pengoperasian angkutan umum bus listrik dengan rute Singaraja–Denpasar untuk melayani mobilitas masyarakat antara Bali Utara dan Bali Selatan. 

Wacana tersebut dinilai sejalan dengan arah pembangunan transportasi Bali berbasis transportasi ramah lingkungan.

Akademisi Universitas Udayana sekaligus pakar transportasi, Prof. Putu Alit Suthanaya, menyebut pengembangan sistem angkutan umum massal berbasis listrik merupakan salah satu strategi yang relevan. Utamanya jika dikaitkan dengan rencana pembangunan infrastruktur transportasi Bali yang berkelanjutan.

“Kontribusi Bali dalam mendukung program nasional penurunan emisi gas rumah kaca dapat dilakukan dengan mengembangkan sistem angkutan umum massal dan kendaraan listrik,” kata Prof. Putu Alit.

Meski demikian, ia menegaskan rencana pengoperasian bus listrik pada jalur Denpasar–Singaraja perlu didahului dengan uji coba menyeluruh. 

Hal ini mengingat karakteristik jalur tersebut yang didominasi tanjakan dan tikungan berliku.

Menurutnya, implementasi bus listrik membutuhkan prasarana pendukung seperti depo untuk pengisian daya malam hari (overnight charging) serta fasilitas pengisian daya di rute perjalanan (on route charging). 

Secara umum, bus listrik memiliki jarak tempuh sekitar 250 kilometer dalam sekali pengisian baterai, namun performanya tetap harus diuji di jalur dengan kontur ekstrem.

“Bus listrik memang mampu melintasi jalan dengan kemiringan 17 hingga 30 persen. Namun, standar maksimum kelandaian jalan untuk perencanaan operasional bus listrik umumnya hanya sekitar 10 persen,” jelasnya.

Karena itu, penggunaan bus listrik pada lintasan Denpasar–Singaraja dinilai potensial sebagai alternatif transportasi publik ramah lingkungan, tetapi harus melalui tahapan uji coba, mulai dari uji statis, uji rute tanpa penumpang, hingga uji coba dengan penumpang.

Selain aspek teknis, Prof. Putu Alit menilai kajian potensi permintaan (demand) juga menjadi faktor krusial. 

Saat ini, sebagian besar masyarakat Buleleng yang bekerja di Denpasar dan sekitarnya cenderung memilih menetap di wilayah Bali Selatan, baik dengan membeli rumah, menyewa, maupun tinggal di kos-kosan.

“Jika rute Singaraja–Denpasar ini terealisasi, potensi pengguna utamanya adalah masyarakat yang melakukan pergerakan komuter harian untuk bekerja,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD). 

Berdasarkan pengalaman di Jakarta dan Lampung, sistem angkutan umum massal perlu didukung kawasan TOD untuk menjamin ketersediaan penumpang dalam jumlah memadai.

“Tanpa pengembangan kawasan TOD, dikhawatirkan jumlah penumpang tidak sesuai dengan harapan,” tambahnya.

Meski begitu, Prof. Alit menilai kehadiran angkutan umum massal berbasis listrik akan memberikan dampak positif, khususnya bagi masyarakat Buleleng yang beraktivitas sebagai komuter.

“Dampaknya bisa berupa penghematan biaya perjalanan, pengurangan biaya akomodasi, serta kontribusi nyata terhadap penurunan emisi gas rumah kaca,” pungkasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#gubernur #bali #emisi #infrastruktur #wacana #wayan koster #akademisi #transportasi #listrik #uji coba #bus listrik #bali utara #universitas udayana #angkutan umum