Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

NU dan Muhammadiyah di Bali Ajak Umat Muslim Hormati Nyepi. Tarawih dan Takbiran Bisa Dilaksanakan di Rumah

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 13 Maret 2026 | 06:34 WIB

 

ilustrasi kerukunan antar umat beragama atau toleransi
ilustrasi kerukunan antar umat beragama atau toleransi

RadarBuleleng.id – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Denpasar mengajak umat Muslim di Pulau Bali untuk menjaga harmoni dan memperkuat toleransi antarumat beragama dengan menghormati pelaksanaan Hari Raya Nyepi.

Imbauan tersebut disampaikan mengingat perayaan Nyepi Tahun Çaka 1948 berdekatan dengan rangkaian Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, termasuk malam takbiran yang diperkirakan jatuh pada 19 Maret 2026.

Ketua PWNU Bali, Abdul Azis mengajak umat Muslim untuk melaksanakan ibadah salat tarawih maupun takbiran dari rumah masing-masing sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Hindu yang menjalankan Catur Brata Penyepian.

Ia menilai, pelaksanaan ibadah di rumah bersama keluarga tidak akan mengurangi nilai ibadah yang dijalankan.

“Lebih khidmat dan juga sama saja pahalanya. Kita menghormati saudara kita umat Hindu. Melaksanakan takbiran maupun sholat tarawih di rumah berjamaah dengan keluarga, saya kira tidak mengurangi kekhusyukan ibadah selama Ramadan,” kata Azis.

Azis menegaskan, apabila malam takbiran bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, umat Muslim di Bali diharapkan dapat menyesuaikan pelaksanaan ibadah dengan kondisi tersebut demi menjaga kerukunan antar umat beragama.

Seruan serupa juga disampaikan Muhammadiyah. Seruan itu dituangkan dalam surat edaran tertanggal Senin (9/3/2026) yang ditandatangani Ketua Muhammadiyah Kota Denpasar Tatang Wisnu Wardhana dan Sekretaris Aufa Yusro, umat Islam diimbau menjaga semangat toleransi serta kekeluargaan.

Dalam surat edaran tersebut disebutkan, pelaksanaan malam takbiran pada 19 Maret 2026 yang bersamaan dengan Catur Brata Penyepian diharapkan dilakukan dari rumah masing-masing.

“Dilaksanakan di rumah masing-masing tanpa menggunakan pengeras suara,” jelas Tatang dalam surat edarannya.

Sementara itu, terkait pelaksanaan salat Idulfitri pada 20 Maret 2026, panitia dan jemaah diimbau berangkat menuju lokasi salat setelah pukul 06.00 WITA atau setelah berakhirnya waktu Catur Brata Penyepian.

Panitia Hari Besar Islam (PHBI) juga diminta menyesuaikan waktu pelaksanaan sholat Ied agar berjalan tertib dan tetap khusyuk.

Sebelumnya, Pemprov Bali bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, serta Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali telah menggelar pertemuan koordinasi di Jayasabha pada Rabu (11/3/2026).

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan teknis terkait pelaksanaan Hari Suci Nyepi dan malam takbiran, yang mengacu pada Surat Edaran Gubernur Bali Nomor: B.30.800.1.6.2/61594/PK BKPSDM tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.

Selain itu, para tokoh agama yang tergabung dalam FKUB bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali juga mengeluarkan Seruan Bersama guna menjaga keharmonisan dan ketertiban masyarakat.

Dalam seruan tersebut, umat Islam tetap diperkenankan melaksanakan takbiran di masjid atau mushola terdekat dengan beberapa ketentuan, seperti dilakukan dengan berjalan kaki, tidak menggunakan pengeras suara ke luar, tidak menyalakan petasan, serta menggunakan penerangan secukupnya.

“Jalan kaki, tidak menggunakan bunyi-bunyian apa pun, dan penggunaan lampu terbatas. Setelah takbir dan tarawih selesai, diharapkan langsung pulang,” jelas Ketua MUI Bali KH Mahrusun Hadyono saat ditemui Rabu (11/3/2026). (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #hindu #nahdlatul ulama #hari raya #muslim #muhammadiyah #idul fitri #nyepi