RadarBuleleng.id – Kemacetan parah yang melumpuhkan Jalan Raya Denpasar–Gilimanuk saat arus mudik membuat sebagian pemudik mengambil langkah nekat.
Banyak diantara mereka memilih berjalan kaki belasan kilometer agar bisa lebih cepat mencapai Pelabuhan Gilimanuk.
Situasi tersebut dialami Daimam, 59, pemudik asal Purwodadi, Jawa Tengah. Ia terjebak macet saat menumpang travel sejak Minggu (15/3/2026) sekitar pukul 17.00 WITA di kawasan Kota Negara, Jembrana.
Namun hingga Senin (16/3/2026) dini hari, kendaraan yang ditumpanginya tak kunjung bergerak.
Saat rombongan sampai di Dusun Sumbersari, Desa Melaya, Daimam akhirnya memutuskan turun dari kendaraan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Gilimanuk.
“Subuh saya turun dari travel. Badan capek, tapi kalau nunggu di mobil rasanya tidak ada kepastian,” ujarnya saat ditemui di Masjid Al Mubarok, Gilimanuk.
Bersama beberapa penumpang lain, Daimam menempuh perjalanan sekitar 11 kilometer dengan berjalan kaki.
Setelah tiba di Gilimanuk, ia beristirahat di masjid sambil menunggu travel yang ditumpanginya keluar dari kemacetan.
Namun hingga pukul 14.30 WITA, kendaraan tersebut masih terjebak antrean panjang di kawasan hutan Cekik.
“Travel belum juga sampai. Saya sudah pasrah, yang penting bisa dekat pelabuhan dulu,” katanya.
Pengalaman serupa dialami Sogu, pemudi asal Purwodadi yang menumpang bus antarkota. Karena kehabisan air minum dan belum makan selama perjalanan, ia akhirnya memutuskan turun dari bus dan berjalan kaki sekitar delapan kilometer menuju Gilimanuk.
“Air minum habis, perut kosong. Akhirnya jalan kaki saja,” tuturnya.
Setibanya di dekat pelabuhan, Sogu memilih menunggu busnya di sebuah warung pinggir jalan. Meski tampak kelelahan, ia mengaku lega bisa keluar dari kepungan kemacetan.
“Kalau tetap di bus, tidak tahu sampai kapan,” katanya.
Kisah serupa juga dialami Agus, 34, pemudik asal Lamongan. Ia bersama beberapa rekannya turun dari bus dan berjalan kaki hampir lima kilometer karena khawatir kemacetan akan semakin parah.
“Kami takut kondisi makin buruk kalau bertahan di bus,” ujarnya.
Sementara itu, Febri, 22, pemudik asal Malang, bahkan nekat berjalan kaki sendirian pada malam hari setelah bus yang ditumpanginya tak bergerak selama berjam-jam.
Berbekal senter dari ponsel dan tas punggung, ia menyusuri jalan gelap dari kawasan hutan menuju Gilimanuk.
“Tadi masih gelap saya jalan dari hutan. Bus masih kena macet,” ungkapnya.
Fenomena pemudik berjalan kaki ini menjadi potret getir arus mudik di jalur barat Bali tahun ini. Ketika kemacetan tak kunjung terurai, sebagian pemudik memilih meninggalkan kendaraan dan berjalan kaki agar bisa lebih cepat mendekati Pelabuhan Gilimanuk. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya