Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Macet Parah Jalan Raya Denpasar–Gilimanuk Jadi Ladang Rezeki Dadakan. Pedagang Kopi hingga Ojek Panen Penumpang

Muhammad Basir • Selasa, 17 Maret 2026 | 05:52 WIB

 

LAPAK DADAKAN: Penjual kopi dan minuman ringan membuka lapak dadakan di pinggir Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk, tepatnya di kawasan hutan Taman Nasional Bali Barat.
LAPAK DADAKAN: Penjual kopi dan minuman ringan membuka lapak dadakan di pinggir Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk, tepatnya di kawasan hutan Taman Nasional Bali Barat.

RadarBuleleng.id – Kemacetan panjang yang berhari-hari terjadi di Jalan Raya Denpasar–Gilimanuk sejak Sabtu (14/3/2026), bukan hanya menguji kesabaran para pemudik. 

Di balik antrean kendaraan yang mengular hingga belasan kilometer, muncul fenomena ekonomi dadakan di sepanjang jalan, terutama di kawasan Hutan Cekik.

Sejumlah warga memanfaatkan situasi tersebut dengan membuka lapak sederhana di pinggir jalan. Mulai dari pedagang kopi, penjual air mineral, hingga tukang ojek dadakan yang menawarkan jasa bagi pemudik yang terjebak kemacetan berjam-jam.

Heru, salah satu pedagang kopi yang berjualan di tengah kawasan Hutan Cekik, mengaku meraup keuntungan cukup besar sejak arus kendaraan tersendat parah. 

Ia membuka lapak sederhana untuk melayani pengendara yang terjebak macet, bahkan ada yang harus menunggu hingga semalam di dalam kendaraan.

“Kalau lagi padat begini, hasil bisa ratusan ribu sampai jutaan rupiah sehari,” ungkap Heru, Senin (16/3/2026).

Selain minuman hangat, air mineral menjadi barang paling banyak diburu pemudik. Beberapa pedagang mengaku mampu menjual belasan dus air mineral dalam sehari karena tingginya kebutuhan pengendara yang terjebak lama di jalan.

Harga yang ditawarkan pun menyesuaikan kondisi di lapangan. Meski demikian, barang dagangan tetap laris karena pemudik membutuhkan air minum selama menunggu kemacetan terurai.

Tak hanya pedagang, fenomena tukang ojek dadakan juga mulai bermunculan di sepanjang jalur tersebut. Mereka menawarkan jasa antar-jemput penumpang menggunakan sepeda motor untuk membantu pemudik memotong kemacetan menuju Gilimanuk.

Tarif yang dipatok pun bervariasi, berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu, tergantung jarak tempuh dan kesepakatan dengan penumpang.

“Kalau langsung ke Gilimanuk, tergantung kondisi dan kesepakatan,” kata Hasan, salah seorang tukang ojek dadakan yang ditemui di wilayah Desa Melaya.

Kemacetan panjang di jalur utama menuju Pelabuhan Gilimanuk ini memang menghadirkan dua sisi berbeda. 

Di satu sisi menyulitkan para pemudik yang ingin segera menyeberang ke Jawa. Namun di sisi lain, situasi tersebut justru menjadi berkah tak terduga bagi sebagian warga yang jeli melihat peluang. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#hutan #ojek #macet #kopi #pemudik #air mineral #jalan raya denpasar-gilimanuk #kemacetan #pelabuhan gilimanuk #tukang ojek #hutan cekik #ekonomi