Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mudik Horor di Bali, Gubernur Koster Akui Jalan Denpasar–Gilimanuk Sudah Tak Mampu Tampung Volume

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 17 Maret 2026 | 05:57 WIB

 

ANTRE: Para pemudik mengantre masuk kapal saat arus mudik 2026. Mudik tahun ini memicu kemacetan parah di Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk sehingga dijuluki mudik horor.
ANTRE: Para pemudik mengantre masuk kapal saat arus mudik 2026. Mudik tahun ini memicu kemacetan parah di Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk sehingga dijuluki mudik horor.

RadarBuleleng.id - Kemacetan parah yang melumpuhkan jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk menjelang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri ternyata dipicu lonjakan tajam jumlah angkutan barang yang hendak keluar Pulau Bali.

Lonjakan kendaraan tersebut membuat jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk mengalami kemacetan panjang. 

Bahkan antrean kendaraan sempat mencapai sekitar 31 kilometer hingga wilayah Kecamatan Negara, Jembrana.

Gubernur Bali, Wayan Koster mengakui kepadatan arus kendaraan kali ini diluar perkiraan. 

Pasalnya, lonjakan kendaraan sudah terjadi pada 14–15 Maret 2026, lebih cepat dari prediksi puncak arus yang diperkirakan terjadi pada 17–18 Maret.

Untuk mengurai kemacetan, pemerintah daerah telah menginstruksikan Dinas Perhubungan dan Direktorat Lalu Lintas untuk mengambil langkah cepat dalam mengatur arus kendaraan.

Selain faktor peningkatan jumlah kendaraan, Koster juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan Denpasar–Gilimanuk yang dinilai sudah tidak memadai menampung volume kendaraan saat ini.

“Kita tidak menyangka akan seramai itu, tapi memang kondisi jalan kita sudah tidak memadai. Dari Gilimanuk menuju Denpasar dan Badung itu padat sekali,” jelasnya.

Terkait upaya penambahan armada kapal penyeberangan oleh ASDP Indonesia Ferry, Koster menyebut langkah tersebut sebenarnya sudah dilakukan. Namun, persoalan utama justru terjadi pada akses darat setelah kendaraan keluar dari pelabuhan.

Menurutnya, kondisi jalan yang banyak tikungan dan tanjakan di Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk juga memperparah antrean, terutama ketika kendaraan logistik melintas dengan kecepatan rendah.

“Jalur Gilimanuk–Denpasar itu banyak tikungan dan tanjakan. Kalau kendaraan logistik sudah lewat, jalannya lambat sekali. Di belakangnya ada bus lagi, jadinya antrean panjang,” beber pria asal Desa Sembiran, Buleleng itu.

Sebagai solusi jangka pendek, Koster mengaku tengah mempertimbangkan penerbitan kebijakan melalui surat edaran untuk mengatur pergerakan kendaraan logistik yang masuk maupun beroperasi di Bali.

“Saya sedang mempertimbangkan untuk membuat kebijakan melalui surat edaran guna mengatur pergerakan kendaraan logistik, baik yang masuk maupun yang beroperasi di dalam Bali,” pungkasnya.

Diketahui, lonjakan arus kendaraan menjelang Hari Raya Nyepi pada Minggu (15/3/2026) memicu kemacetan luar biasa di jalur menuju Gilimanuk. 

Antrean kendaraan yang mengular hingga puluhan kilometer bahkan menyebabkan sejumlah pemudik kelelahan saat menunggu giliran menyeberang. Alhasil macet tahun ini dijuluki mudik horor oleh para pemudik. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kendaraan #bali #angkutan barang #logistik #dinas perhubungan #infrastruktur #gubernur bali #hari raya nyepi #jalan raya denpasar-gilimanuk #jembrana #wayan koster #jalan #kemacetan #lalu lintas #Negara #pelabuhan gilimanuk #surat edaran