RadarBuleleng.id - Puncak arus mudik Lebaran yang beririsan dengan Hari Raya Nyepi membuat ribuan pemudik di Bali terancam tertahan di kawasan Gilimanuk.
Keterbatasan kapasitas penyeberangan membuat tidak semua kendaraan dipastikan bisa menyeberang sebelum pelabuhan ditutup.
Kepala Dinas Perhubungan Bali, Kadek Mudarta, mengakui lonjakan pemudik telah mencapai titik puncak.
Meski diprediksi mulai menurun per 18 Maret 2026, kepadatan arus mudik dalam beberapa hari terakhir sudah menimbulkan antrean panjang hingga puluhan kilometer.
“Prediksi kami dengan kepolisian, puncaknya sampai kemarin. Hari ini harusnya mulai berkurang,” ujar Mudarta pada Selasa (17/3/2026).
Data pergerakan menunjukkan tingginya arus keluar Bali. Pada 14 Maret saja, tercatat lebih dari 103 ribu orang meninggalkan Bali melalui jalur laut dan udara.
Dari Pelabuhan Gilimanuk, lebih dari 20 ribu kendaraan tercatat keluar, belum termasuk ribuan kendaraan yang masih mengantre.
Namun, sejumlah kendala teknis memperparah situasi. Insiden kapal terbakar, kendaraan truk yang mogok, hingga keterbatasan dermaga membuat proses bongkar muat tidak bisa maksimal.
“Kapasitas dermaga terbatas, jadi tetap butuh waktu,” jelas Mudarta.
Selain itu, tren pemudik yang berangkat lebih awal dari biasanya juga menyebabkan lonjakan kendaraan terjadi bersamaan dalam waktu singkat.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mengingatkan batas waktu penyeberangan. Operasional Pelabuhan Gilimanuk akan ditutup saat Nyepi mulai Kamis (19/3/2026) pukul 05.00 WITA.
Artinya, pemudik yang belum terangkut hingga waktu tersebut dipastikan harus tertahan di sekitar Gilimanuk.
“Kalau sudah Nyepi, penyeberangan ditutup. Kalau masih belum menyeberang, ya kemungkinan akan tertahan di Gilimanuk,” tegas Mudarta.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurai kepadatan. Mulai dari pengalihan jalur kendaraan kecil agar langsung masuk ke pelabuhan, hingga penerapan delay system untuk menahan kendaraan di titik-titik tertentu agar tidak menumpuk di jalan nasional.
Pemerintah pusat pun turun tangan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menerapkan sejumlah langkah cepat, seperti penambahan kapal besar, optimalisasi buffer zone, serta sistem tiba–bongkar–berangkat (TBB).
Hasilnya mulai terlihat. Antrean yang sempat mencapai lebih dari 30 kilometer kini berangsur turun menjadi sekitar delapan kilometer.
Meski demikian, ancaman pemudik tertahan saat Nyepi masih belum sepenuhnya teratasi.
Pemerintah memprioritaskan kendaraan kecil dan bus untuk menyeberang lebih dulu agar tidak banyak penumpang terlantar.
“Kami tidak ingin kendaraan kecil dan bus tertahan di Gilimanuk saat penutupan pelabuhan,” tegas Menhub saat berkunjung ke Pelabuhan Gilimanuk pada Selasa (17/3/2026).
Sementara itu, kendaraan besar yang belum sempat menyeberang akan ditampung di kawasan Gilimanuk.
Sopirnya akan diberangkatkan sementara ke Banyuwangi hingga Nyepi selesai, dengan biaya ditanggung ASDP.
Total 55 kapal disiapkan untuk melayani penyeberangan, dengan sekitar 35 kapal dioperasikan secara maksimal.
Namun, tingginya volume kendaraan membuat kapasitas tersebut tetap belum mampu mengangkut seluruh pemudik tepat waktu.
Pemerintah juga menyoroti masih banyaknya truk besar yang beroperasi meski telah ada pembatasan. Kendaraan sumbu tiga ke atas dinilai menjadi salah satu penyebab utama kemacetan panjang di Jalan Raya Denpasar–Gilimanuk. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya