Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Buleleng Lirik Inovasi Banyuwangi, Program Bupati Ngantor di Desa hingga Pembinaan Seni Jadi Sorotan

Francelino Junior • Kamis, 11 Juni 2026 | 23:54 WIB
KUNJUNGI BANYUWANGI: Tim Dinas Kominfo Buleleng saat melakukan kunjungan ke Pemkab Banyuwangi. (Francelino Junior/Radar Buleleng)
KUNJUNGI BANYUWANGI: Tim Dinas Kominfo Buleleng saat melakukan kunjungan ke Pemkab Banyuwangi. (Francelino Junior/Radar Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Pemkab Buleleng melirik sejumlah terobosan yang sukses diterapkan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. 

Dua program yang paling menarik perhatian adalah Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa) dan pola pembinaan kelompok seni berbasis masyarakat. 

Kedua inovasi itu dinilai berpotensi diterapkan di Buleleng untuk memperkuat pelayanan publik sekaligus mengembangkan sektor seni dan budaya.

Ketertarikan tersebut muncul saat jajaran Pemkab Buleleng melakukan studi komparasi ke Banyuwangi, Rabu (10/6/2026). 

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Kominfosanti) Buleleng, Made Suharta, menilai Banyuwangi memiliki banyak praktik baik yang layak menjadi referensi bagi daerah lain.

“Banyak hal yang dapat dipelajari dari Banyuwangi, terutama terkait inovasi pelayanan publik dan pengembangan sektor seni budaya berbasis masyarakat. Tentunya ini bisa ditiru dan disampaikan ke pimpinan,” ujarnya.

Menurut Suharta, program Bunga Desa menjadi salah satu inovasi yang menarik karena mampu mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat hingga tingkat desa. 

Melalui konsep tersebut, berbagai layanan publik dapat diakses warga tanpa harus datang ke pusat pemerintahan.

Selain pelayanan publik, Buleleng juga menaruh perhatian pada pola pembinaan kelompok seni yang diterapkan Banyuwangi. 

Pendampingan yang berkelanjutan dinilai berhasil melahirkan kelompok seni yang mandiri dan mampu menyelenggarakan berbagai kegiatan secara konsisten tanpa bergantung penuh pada pemerintah.

Hal itu dinilai relevan dengan kondisi Buleleng yang saat ini memiliki ruang publik seperti RTH Taman Bung Karno yang kerap menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan seni dan budaya.

“Kabupaten Buleleng punya RTH Taman Bung Karno. Kegiatan seni budaya banyak dilaksanakan di sana. Sehingga konsep pembinaan seperti di Banyuwangi sangat relevan untuk dikembangkan di Buleleng,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Banyuwangi, Rahmawati Setyoardini, menjelaskan keberhasilan Banyuwangi membangun citra daerah tidak terlepas dari strategi branding yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.

Ia menyebut Banyuwangi mengusung identitas “The Sunrise of Java”, julukan yang menggambarkan posisi wilayah tersebut sebagai kawasan paling timur di Pulau Jawa yang pertama kali disinari matahari setiap pagi. 

Branding tersebut kemudian diperkuat dengan konsep “Majestic Banyuwangi” yang lahir dari kajian bersama konsultan internasional dengan fasilitasi Kementerian Pariwisata pada masa kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas.

Konsep tersebut mengangkat kekayaan bentang alam Banyuwangi yang lengkap, mulai dari kawasan pegunungan, Kawah Ijen, hingga pesisir dan lautan. 

Menurut Rahmawati, transformasi Banyuwangi menjadi daerah yang dikenal luas tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan melalui proses panjang yang dilakukan secara konsisten.

“Perubahan citra Banyuwangi menjadi daerah yang maju dan dikenal luas tidak terjadi secara instan. Kami secara konsisten mengangkat potensi lokal melalui pembangunan, promosi, serta penyelenggaraan berbagai agenda unggulan yang melibatkan masyarakat,” ungkapnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#banyuwangi #pemkab buleleng #desa #buleleng