Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Duh, Petani Cengkeh Mengeluh Kesulitan Buruh Petik. Harus Datangkan Tenaga dari Jawa

Eka Prasetya • Jumat, 28 Juni 2024 | 01:24 WIB

 

PETIK CENGKEH: Seorang buruh petik cengkeh tampak memanjat pohon dan memanen bunga cengkeh di wilayah Desa Selat, Kecamatan Sukasada, belum lama ini.
PETIK CENGKEH: Seorang buruh petik cengkeh tampak memanjat pohon dan memanen bunga cengkeh di wilayah Desa Selat, Kecamatan Sukasada, belum lama ini.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Para petani cengkeh di Buleleng kini harap-harap cemas. Mereka tengah masuk musim panen raya, tapi tidak mendapatkan buruh petik cengkeh.

Dampaknya cengkeh terancam tidak bisa dipanen. Petani pun bisa merugi karena hasil panen mereka tidak bisa dipetik.

Gara-gara krisis tenaga kerja buruh petik, para petani terpaksa mendatangkan buruh petik dari Pulau Jawa, dengan ongkos yang relatif mahal.

Baca Juga: Jatah Pupuk Subsidi Berkurang, Petani di Buleleng Disarankan Pakai Pupuk Organik

Saat ini ongkos buruh petik cengkeh disebut mencapai Rp 150 ribu per hari. Itu adalah ongkos yang paling murah.

Bahkan ada juga yang menjanjikan sistem bagi hasil. Petani dan buruh sepakat membagi dua hasil petik.

Meski sistem itu memberatkan petani, para petani cengkeh tidak punya pilihan. Mereka khawatir bunga cengkeh tidak bisa dipetik.

Salah seorang petani cengkeh, Made Suyasa menyebut para petani saat ini kesulitan mendapatkan tenaga kerja.

“Cek sendiri di Tajun. Kekurangan tenaga kerja untuk panen cengkeh. Padahal musim panen besar ini,” kata Suyasa, saat ditemui di Singaraja, Kamis (27/6/2024).

Baca Juga: Pemerintah Akhirnya Realisasikan Insentif Pajak bagi Petani

Pria yang sempat menjabat sebagai Ketua Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI) Wilayah Bali itu menyebut harga jual cengkeh tahun ini sangat menjanjikan.

“Harga jual sekarang sampai Rp 120 ribu per kilogram. Masalahnya buruh petik ini nggak ada,” keluhnya.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Gede Melandrat mengaku tahun ini menjadi tahun yang cukup berat bagi petani. 

Kini harga jual cengkeh tengah melonjak. Petani juga sedang panen raya. Tapi mereka tidak bisa memanen bunga cengkeh karena tidak ada buruh.

“Memang ini kendala. Karena anak milenial ini nggak mungkin jadi buruh. Ini akan jadi kendala sampai beberapa tahun kedepan,” kata Melandrat.

Menurut Melandrat kini para petani terpaksa bekerja sama dengan para pengepul dari Pulau Jawa. Pengepul itu siap menyuplai buruh.

Ia pun menyarankan agar para petani mulai mempertimbangkan untuk memangkas pohon mereka. Sebab kini tinggi pohon telah mencapai 15-18 meter. Hal itu akan menyulitkan petani mencari buruh.

Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertanian untuk memecahkan solusi tersebut.

“Barangkali ada teknologi yang bisa kita terapkan, untuk mengatasi krisis tenaga petik cengkeh ini,” demikian Melandrat. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#petani cengkeh #buruh #petani #pertanian #Tajun #buleleng #cengkeh