Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Penjualan Garam Anjlok, Petani Pilih Menjual Sari Air Laut

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Jumat, 29 Agustus 2025 | 18:40 WIB

 

PRODUKSI GARAM: Petani garam di Desa Kusamba. Selain memproduksi garam, mereka juga memproduksi nigari atau sari air laut.
PRODUKSI GARAM: Petani garam di Desa Kusamba. Selain memproduksi garam, mereka juga memproduksi nigari atau sari air laut.

RadarBuleleng.id - Petani garam tradisional di Pantai Kusamba, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali, kini harus gigit jari.

Penjualan garam di Kusamba kini anjlok. Gara-gara ada produk palsu dengan harga yang lebih murah.

Kini para petani bukan hanya memproduksi garam, mereka juga memproduksi sari air laut atau nigari. Nigari menjadi salah satu bahan penting dalam pembuatan tahu.

Nengah Kerta Yasa, petani garam Kusamba mengungkapkan, nigari dihasilkan bersamaan dengan proses pembuatan garam tradisional. 

Dalam kondisi cuaca terik, ia bisa menghasilkan satu jerigen berisi 35 liter nigari per hari. 

Namun, jika cuaca mendung, butuh dua hari untuk menghasilkan jumlah yang sama. “Satu jerigen dihargai Rp100 ribu,” jelasnya.

Baca Juga: Mayor Inf Ari Murwanto Resmi Pimpin Yonif 900/SBW, Gantikan Letkol Inf Rendra Agit

Di tengah merosotnya penjualan garam tradisional Kusamba, nigari justru menjadi penyelamat. 

Para produsen tahu rutin membeli nigari setiap minggu. Sehingga membantu petani bertahan. 

“Hasil penjualan nigari inilah yang menopang kebutuhan sehari-hari saat ini,” tambah imbuhnya.

Ia menuturkan, sejak awal 2025 cuaca tak menentu membuat produksi garam menurun drastis. 

“Kalau panas terik, sehari bisa dapat lebih dari 10 kilogram. Tapi sekarang hujan sering turun, otomatis kami tidak bisa produksi,” katanya.

Tak hanya cuaca, permintaan garam tradisional Kusamba juga ikut merosot. Biasanya, wisatawan atau pembeli datang langsung ke Pantai Karangnadi untuk membeli garam guna kebutuhan spa maupun konsumsi. 

Kini, para petani hanya mengandalkan pesanan koperasi sekitar 100 kilogram per bulan untuk produksi garam beryodium. 

Pesanan itu dibagi rata melalui kelompok petani, masing-masing memperoleh sekitar 10 kilogram sesuai stok yang dimiliki.

Lesunya pasar garam Kusamba diduga kuat akibat maraknya garam palsu yang dijual dengan harga murah. 

Padahal, harga garam tradisional Kusamba di Pantai Karangnadi berkisar Rp 20 ribu–Rp 25 ribu per kilogram. 

“Sulit sekali menjual di pasar tradisional, karena pembeli lebih memilih harga murah,” keluh pria yang sudah menekuni produksi garam sejak 1984 silam itu. (*)

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #petani garam #Liter #garam #air laut #petani #tahu #produk #palsu #jerigen