RadarBuleleng.id - Banjir besar yang melanda Bali dalam dua hari terakhir tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga mengguncang perputaran ekonomi Pulau Dewata.
Infrastruktur hancur, aktivitas bisnis terhenti, hingga pariwisata yang selama ini menjadi tulang punggung Bali ikut terpukul.
Akademisi Universitas Warmadewa Denpasar, Prof. I Made Sara menegaskan, bencana banjir kali ini bukan sekadar persoalan cuaca.
Menurutnya, banjir adalah tantangan kompleks yang membutuhkan penanganan serius dari pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, serta kesadaran bersama masyarakat untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
“Banjir ini dampaknya luas. Bukan hanya kerugian langsung, tetapi juga merambat ke banyak sektor. Jika tidak segera ditangani, efeknya bisa panjang terhadap perekonomian Bali,” ujarnya di Denpasar, kemarin (10/9/2025).
Dari sisi kerugian materiil, dampak paling nyata terlihat pada rusaknya bangunan dan properti.
Rumah, toko, hotel, hingga fasilitas umum terendam air, bahkan sebagian roboh. Perbaikan membutuhkan biaya yang sangat besar.
Selain itu, banyak kendaraan roda dua maupun roda empat rusak parah karena terendam.
“Mobilitas masyarakat lumpuh, distribusi barang terganggu, dan ini jelas memperlambat denyut ekonomi,” kata Sara.
Tak kalah serius, kerusakan juga melanda infrastruktur. Jalan, jembatan, saluran irigasi, hingga sistem drainase di sejumlah titik jebol diterjang arus deras.
Kerusakan tersebut membuat arus transportasi terputus, sehingga distribusi kebutuhan pokok maupun aktivitas logistik tersendat.
Dampak lain yang jarang terlihat langsung adalah sektor pertanian. Curah hujan tinggi dan banjir meluas membuat sawah terendam, tanaman gagal panen, dan jaringan irigasi rusak.
Hal tersebut menambah beban masyarakat pedesaan yang selama ini menggantungkan hidup dari pertanian.
“Pertanian ikut terpukul, sehingga ekonomi di hilir juga kena imbasnya. Aktivitas bisnis, perkantoran, hingga kegiatan harian masyarakat terhenti total. Semua itu berarti kerugian pendapatan dan produktivitas,” jelas Sara.
Tak berhenti di situ, sektor pariwisata Bali juga menerima pukulan telak. Akses menuju bandara dan destinasi wisata utama tergenang banjir, menyebabkan kemacetan panjang hingga penundaan penerbangan.
Wisatawan yang menginap di kawasan terdampak tak bisa keluar hotel. Beberapa bahkan harus dievakuasi menggunakan perahu karet.
Kondisi tersebut memperlihatkan betapa rentannya industri pariwisata Bali saat bencana melanda.
Lebih jauh, menurut Sara, banjir yang meluas juga berpotensi mencoreng citra Bali sebagai destinasi aman dan nyaman.
“Citra destinasi sangat penting. Jika wisatawan merasa Bali tidak aman, kunjungan bisa menurun drastis ke depannya,” tegasnya.
Prof. Sara menekankan, menjaga stabilitas ekonomi Bali di tengah ancaman bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi lintas sektor, termasuk masyarakat dan dunia usaha, harus diperkuat.
“Bali butuh strategi adaptif. Mulai dari penataan drainase, penegakan aturan lingkungan, sampai sistem mitigasi yang melibatkan masyarakat. Kalau ini dilakukan, dampak banjir bisa diminimalkan, dan ekonomi tetap bergerak,” tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya