Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Jelang Nataru, Harga Cabai di Buleleng Meroket. Penurunan Produksi jadi Biang Kerok

Eka Prasetya • Minggu, 14 Desember 2025 | 18:45 WIB

 

NAIK TINGGI: Komoditas cabai melonjak saat tahun baru di Buleleng. Harga cabai diprediksi akan semakin tinggi beberapa bulan kedepan.
NAIK TINGGI: Komoditas cabai melonjak saat tahun baru di Buleleng. Harga cabai diprediksi akan semakin tinggi beberapa bulan kedepan.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Memasuki musim hujan, harga cabai di Buleleng kembali merangkak naik. 

Penurunan produksi di sejumlah sentra pertanian membuat cabai rawit merah kini dijual pada kisaran Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram. 

Kondisi ini diprediksi makin terasa menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), terutama karena cabai rawit sangat rentan rusak saat curah hujan tinggi.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Gede Melandrat mengatakan, produksi cabai turun karena banyak tanaman baru memasuki fase tanam. 

Para petani di Pejarakan, Sumberklampok, dan Sumberkima di Kecamatan Gerokgak disebut masih kesulitan menanam cabai. 

Daerah-daerah tersebut baru bisa ditanami kembali setelah musim panas panjang.

“Cabai ini umur enam bulan. Di musim hujan tanaman yang tidak kuat mudah busuk, jadi produksi pasti turun. Saat hujan cabai langka dan harga naik,” jelasnya.

Baca Juga: Tol Gilimanuk–Mengwi Masih Menggantung, Warga Terdampak Resah Menanti Kepastian

Berdasarkan data Dinas Pertanian Buleleng, hingga 5 Desember 2025, luas tanam cabai rawit di Buleleng mencapai 246,69 hektare dengan produksi 37,85 ton. 

Adapun sentra produksi cabai tersebar di Gerokgak, Seririt, dan Kubutambahan. 

Sementara cabe besar ditanam di lahan 25,35 hektare dengan produksi 49,05 ton. 

Melandrat menilai angka tersebut belum cukup untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pada periode Nataru.

Untuk menjaga pasokan, Dinas Pertanian mempercepat distribusi bibit. Ribuan bibit cabai telah dibagikan kepada masyarakat, ditambah demplot cabai di Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan, sejak Juli lalu. 

Demplot itu memanfaatkan cabe varietas lokal Buleleng yang lebih cepat berbuah.

“Kalau tanam sekarang, satu setengah bulan sudah keluar bunga. Jadi saat puncak kebutuhan Januari–Februari, stoknya sudah ada,” ujar Melandrat.

Dinas Pertanian juga mengajak masyarakat melakukan penanaman skala rumah tangga. 

Cukup dua pohon cabai dalam polybag, rumah tangga bisa membantu menekan permintaan pasar. 

Cabai juga dapat ditanam tumpang sari dengan jagung atau disisipkan di bawah tanaman buah seperti mangga dan anggur.

Menurut Melandrat, kondisi Buleleng masih relatif aman karena lahan kering di Gerokgak mulai aktif ditanami. 

Namun ia tetap mengingatkan potensi lonjakan harga komoditas pertanian bila hujan deras terus mengguyur.

“Yang kita khawatirkan, menjelang Nataru harga melonjak karena hujan terus-menerus. Karena itu percepatan tanam dan mitigasi ini penting,” tegasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#pakisan #sumberklampok #tahun baru #cabai rawit #Sumberkima #gerokgak #musim hujan #Cabe #natal #cabai #pertanian #Tanam #demplot #hujan #nataru #produksi #buleleng #pejarakan